
Di sebuah restaurant ternama Tristan dan Arga masih terlibat obrolan serius dengan salah satu kliennya yang datang dari luar kota. Mereka tengah membicarakan suatu proyek yang baru berjalan beberapa bulan ini. Tidak ingin mengecewakan kliennya yang jauh-jauh datang dari luar kota, setelah meeting selesai Tristan lalu menjamu kliennya dengan mentraktir makan siang di restaurant tersebut.
Setelah acara makan siang itu selesai, klien dan sekretarisnya pamit undur diri terlebih dahulu. Sementara Tristan dan Arga masih duduk betah, menikmati secangkir kopi.
"Setelah ini jadwal gue apa aja Ga?"
Arga terlihat membuka tabnya untuk melihat jadwal dari atasannya "setelah makan siang kita harus meninjau ke lokasi proyek yang ada di Bintaro, sore hari free, lalu malam harinya tuan muda harus menghadiri undangan pernikahan dari salah satu klien kita."
Setelah ucapan Arga selesai tiba-tiba ponsel Tristan berdering. Ternyata ada telepon masuk dari papah Jupiter.
"Iya pah?"
"Kamu dimana Tristan?"
"Ini masih di restaurant baru aja selesai meeting, kenapa pah?"
"Datanglah kerumah sakit, Azura malam ini harus di rawat disini."
Tristan terkejut mendengar ucapan papah Jupiter, "kok bisa pah? Apa yang terjadi? Bukannya Azura hari ini hanya kontrol kenapa bisa di rawat?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Tristan, mendengar kabar jika sang istri kini tengah di rawat.
"Maka dari itu kamu datanglah dulu kesini, nanti papah ceritakan semuanya."
"Baik pah secepatnya saya akan kerumah sakit."
"Kalau gitu papah tutup dulu ya teleponnya."
"Iya pah."
Setelah sambungan dengan papah Jupiter terputus, Tristan bersiap-siap untuk pulang.
"Apa yang terjadi tuan muda?" tanya Arga begitu penasaran.
"Azura di rawat di rumah sakit, dan gue harus buru-buru kesana. Lo bisa kan gantiin undangan gue malam ini."
"Baik tuan muda. Apa terjadi sesuatu dengan nona Azura?"
"Sepertinya iya Ga, ya udah gue berangkat duluan tolong lo urus semua tagihannya!!"
"Baik tuan muda!!"
__ADS_1
Arga menatap kepergian Tristan yang menghilang di balik pintu utama restoran. Setelah itu dia buru-buru menuju kassa untuk membayar tagihannya.
πππ
Membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, Tristan membelah jalanan ibu kota yang siang itu sangat terik oleh sang surya yang bertengger di atas langit. Tidak ingin berlama-lama karena kemacetan yang tak ada ujungnya, Tristan lalu mengambil jalan pintas untuk segera tiba kerumah Sakit.
Membayangkan sang istri yang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit, membuat hati Tristan di landa kecemasan yang luar biasa. Pasalnya pagi tadi Azura masih terlihat baik-baik saja saat Tristan melihat Azura dari kejauhan saat akan berangkat kerumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu sayang?" gumam Tristan di sela-sela aktifitas menyetirnya.
Empat puluh lima menit kemudian mobil Tristan sudah masuk ke area basement rumah sakit. Buru-buru dia bertanya pada resepsionist yang berjaga, dimana ruang rawat Azura.
Setelah menemukan kamar rawat Azura, Tristan melihat Alvero dan Diandra yang duduk di kursi tunggu yang berada tepat di depan kamar perawatan Azura.
"Al..Di..apa yang terjadi sama Azura?" tanya Tristan khawatir.
Alvero tersenyum melihat sang sahabat yang begitu mengkhawatirkan kembarannya "lo tenang aja bro!! Azura baik-baik aja kok, lebih baik sekarang lo masuk biar mamah dan papah yang menjelaskan."
Tanpa menunggu lama Tristan langsung membuka handle pintu, didalam sana dia melihat papah Jupiter dan mamah Theolla yang duduk di sebuah sofa. Dan Azura tertidur lelap di atas ranjang pasien.
"Kamu sudah datang Tristan." Tristan lalu menghampiri papah Jupiter dan mamah Theolla untuk mencium tangan keduanya.
"Kamu tenang dulu Tristan, kita bicarakan ini di kantin rumah sakit agar Azura tidak terganggu tidurnya."
Tristan lalu mengikuti saran dari papah Jupiter, keduanya keluar dari ruangan tersebut menuju kantin rumah sakit di ikuti Alvero. Sementara Diandra memilih masuk dan menemani mamah Theolla.
Sesampainya disana papah Jupiter lalu menceritakan semuanya, di mulai pertemuan Azura dengan Denis dan si wanita hamil. Sampai Denis membongkar semua identitas Azura hingga Azura pingsan dan mulai mengingat semuanya.
"Jadi Azura sekarang udah ingat semuanya pah?" tanya Tristan dengan binar kebahagiaan. Baginya hari ini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu Tristan, saat Azura kembali mengingatnya sebagai suaminya.
"Iya Tristan, bahkan dari tadi Azura terus menanyakan keberadaan kamu hingga dia tertidur dengan sendirinya."
"Aku udah gak sabar pah ketemu sama Azura,"
"Sabar bro biarkan adek gue istirahat terlebih dulu." kekeh Alvero yang di sertai gelak tawa dari papah Jupiter.
Ketiga pria itu lalu memilih untuk minum kopi terlebih dulu, sebelum kembali keruang perawatan Azura.
πππ
__ADS_1
Sepasang netra milik Azura perlahan terbuka menyesuaikan pandangannya, menatap sekeliling yang sepi tak ada siapa pun. Hanya ada seorang pria yang tertidur di samping ranjang miliknya dengan menelungkupkan wajahnya, sehingga Azura tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria tersebut.
Perlahan tangannya terulur untuk menyentuh rambut si pria, di usapnya rambut tersebut membuat Tristan mengerjap dan mengangkat wajahnya.
"Sayang kamu udah bangun,"
Azura pun terkejut ternyata pria yang sedari tadi tidur di samping ranjangnya adalah Tristan suaminya "Tri..Tristan."
Azura langsung beringsut bangun dan memeluk Tristan dengan erat.
"Sayang kamu udah inget semuanya?"
Azura mengangguk di dalam dekapan Tristan, perlahan Azura mengurai pelukannya dan menatap Tristan dengan penuh kebahagiaan.
"Aku minta maaf Tristan karena selama ini aku malah mengingat Denis.." ucapan Azura langsung terpangkas saat Tristan kembali memeluk dirinya.
"Tidak perlu meminta maaf ini bukan salah kamu sayang, semua ini cobaan bagi rumah tangga kita. Aku malah bersyukur karena kamu sembuh lebih cepat, dengan begitu kita bisa kembali bersatu sebagai pasangan suami istri."
Azura terdiam di dalam pelukan Tristan, debaran jantung dari keduanya begitu terasa menggetarkan jiwa yang selama dua bulan ini begitu kesepian. Keduanya tersenyum saat pelukan itu terlepas, Tristan lalu mencium puncak kepala Azura secara bertubi-tubi.
"Oh ya dimana mamah sama papah?"
"Mamah sama papah pulang dulu sayang, nanti malam mereka baru balik kesini lagi. Tadi juga ada Alvero sama Diandra tapi mereka buru-buru pergi karena ada hal penting yang tidak bisa di tinggalkan."
"Oh gitu.."
"Ya sudah sekarang kamu istirahat lagi, kondisi kamu kan baru saja pulih sayang."
Azura mengangguk patuh saat Tristan kembali merebahkan tubuhnya, tangan dari keduanya terpaut erat seolah tidak ingin terpisahkan lagi. Tristan menciumi tangan Azura dengan segenap perasaan.
"I love you sayang,"
"I love you too my hubby.."
bersambung...
πππ
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπdukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasihππ...
__ADS_1