
Malam semakin larut sebagian penduduk bumi sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Namun di sebuah rumah seorang gadis masih terjaga dari tidurnya, dia nampak gelisah berulang kali menggerakan badannya ke kiri dan ke kanan. Bahkan bantal yang dia buat untuk menutupi matanya tidak berpengaruh sama sekali, tetap saja matanya enggan untuk terpejam. Di buangnya bantal tersebut ke sembarang arah, Azura lalu beringsut bangun menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Di lihatnya jam dinding yang sudah menunjukan angka 00.30, Azura hanya berdecak kesal gara-gara pertemuannya dengan Denis kini Azura tidak bisa tidur dan merasa khawatir karena Denis sudah kembali ke kota ini.
"Semudah itu dia bilang minta maaf, apa dia gak ingat gimana kelakuannya dulu. Bisa-bisanya menjadikan anaknya sebagai umpan." Azura terus mengumpat memaki-maki Denis di dalam hatinya.
"Kok bisa ya pernikahannya setragis itu? apa itu karma karena dulu dia udah ninggalin aku?" sebuah seringai keluar dari bibir tipisnya. Azura rasanya puas karena pernikahan Denis tidak bahagia.
"Tapi gimana jika dia terus ngejar-ngejar aku dan gak percaya aku sudah memiliki calon suami? siapa yang harus aku jadiin alibi? apakah Tristan?" Azura langsung menggeleng-gelengkan kepalanya merasa idenya itu kurang tepat.
"Gak Tristan juga, gimana jika dia besar kepala dan mengira aku sudah menerima perjodohan itu."
Azura terus bermonolog hingga akhirnya dia mengantuk dan tertidur dengan sendirinya.
Malam yang panjang kini sudah berganti pagi hari yang cerah, sang surya mulai merangkak naik keluar dari peraduannya, sinarnya memberi kehidupan bagi seluruh penduduk di muka bumi, Azura yang masih terlelap sedikit terusik akan sinar mentari yang masuk lewat celah gorden kamarnya, dia memicingkan sebelah matanya menyesuaikan pandangan yang silau karena hari sudah beranjak terang. Beruntung hari ini adalah hari weekend sehingga Azura bisa kembali melanjutkan tidurnya.
Namun saat akan kembali memejamkan matanya tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dan terdengar suara mamah Theolla yang memanggilnya dari luar. Masih dengan muka bantalnya Azura lalu membuka pintu kamar.
"Apa sih mah?" tanya Azura dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ya ampun anak gadis mamah jam segini kenapa baru bangun."
"Masih ngantuk mah," Azura berbalik kembali menuju tempat tidurnya.
"Sayang ada nak Tristan di bawah, dia datang jemput kamu." mendengar ucapan mamah Theolla Azura membelalakan matanya, rasa kantuk yang tadi menyerang kini menguap begitu saja.
"Sepagi ini mah? buat apa dia kemari?" tanya Azura heran.
"Katanya pagi ini kalian janjian buat jogging bareng, ayo siap-siap kasian nak Tristan jika nunggu kelamaan."
Azura menepuk dahinya, janji yang Azura buat beberapa hari yang lalu bersama Tristan dia lupakan begitu saja hanya gara-gara kemunculan Denis. Rencananya saat weekend Azura dan Tristan memang sudah sepakat akan jogging bareng bersama Alvero dan Diandra juga Kenzo dan Agnes.
"Bilang Tristan tunggu sebentar ya mah, aku siap-siap dulu!"
Mamah Theolla mengangguk lalu keluar dari kamar Azura. Sementara Azura langsung bersiap membersihkan diri terlebih dulu.
🍂🍂🍂
Setengah jam kemudian Azura sudah berada di mobil Tristan, rencananya mereka akan pergi ke taman Aglonema tempat dimana mereka jogging pagi ini, sementara Alvero dan Diandra sudah tiba terlebih dulu.
__ADS_1
"Kenzo dan Agnes jadi ikut gak sih?" tanya Azura memulai percakapan.
"Mereka udah disana sama Alvero dan Diandra."
"Maaf ya Tan, aku bangunnya telat jadi nunggu kelamaan deh."
"Gak papa Ra, masih keburu kok belum terlalu siang ini." Tristan mengulas senyum lalu kembali fokus menatap ke depan. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin Tristan lontarkan pada Azura, mengenai kemarin sore saat Azura pergi bersama seorang pria.
"Ra..?"
"Hmmm..."
"Aku boleh nanya sesuatu?"
Azura mengangguk "iya boleh tanya aja."
"Kemarin sore aku lihat kamu pergi naik mobil bersama seorang pria, kalau boleh tahu siapa pria itu?"
Azura terkejut mendengar pertanyaan Tristan, ternyata Tristan mengetahui kepergiaannya bersama Denis kemarin sore.
"Kamu lihat dimana Tan? apa gak salah lihat?"
Azura terdiam cukup lama, dia bingung harus menceritakan pertemuannya dengan Denis atau tidak pada Tristan.
"Azura?"
"Dia bukan siapa-siapa kok Tan, hanya teman lama." Azura terpaksa berbohong karena takut Tristan akan salah paham padanya.
"Benarkah?"
Azura mengangguk menatap wajah Tristan yang masih fokus memegang kemudi.
"Jadi aku masih ada harapan kan Ra?"
Kening Azura sedikit berkerut "untuk?"
"Menikah denganmu." ucap Tristan pasti.
Deg
__ADS_1
Jantung Azura berdebar dengan cepat saat Tristan kembali mengajaknya untuk menikah. Entah apa yang membuat Azura merasakan sesuatu yang berbeda kali ini, apa karena hubungan mereka yang mulai membaik atau karena ada sesuatu yang membuat Azura selalu berdebar jika berdekatan dengan Tristan.
"Ra?"
Azura tersentak dari lamunannya, dia baru menyadari jika mereka sudah tiba di parkiran taman Aglonema.
"Udah nympe ya, kita turun yuk kasian yang lain udah nungguin kita." ajak Azura, dia sengaja mengalihkan pembicaraan karena bingung menjawab pertanyaan dari Tristan.
Azura keluar terlebih dulu di ikuti Tristan dari arah belakang yang nampak kecewa karena belum mendapatkan kepastian dari Azura. Tapi Tristan tidak ingin memaksa Azura, karena pernikahan yang di landasi keterpaksaan tidak akan baik pada akhirnya.
"Ya ampuun kalian ini lama banget sih, gak tahu apa kita sampe jamuran nungguin kalian berdua." omel Kenzo begitu Azura dan Tristan sudah bergabung.
"Sorry aku yang salah karena bangun kesiangan," tutur Azura.
"Biasalah orang kalau lagi kasmaran bawa mobilnya pasti pelan-pelan, kan di hayati dulu biar perjalanannya terlihat romantis." goda Alvero.
Azura terlihat mencebikan bibirnya sementara Tristan tersenyum senang di goda seperti itu.
"Udah donk ngobrolnya, keburu kesiangan nih joggingnya!" Diandra memperingatkan Alvero dan Kenzo agar berhenti menggoda Azura.
Setelah itu mereka berenam lari pagi mengitari taman Aglonema, taman yang terletak di pusat kota. Jika hari weekend seperti ini taman tersebut akan ramai oleh pengunjung, dari yang dewasa, remaja hingga anak-anak. Selain itu banyak juga para penjual aneka makanan dari makanan ringan hingga makanan berat. Setelah mengelilingi beberapa putaran Azura, Diandra dan Agnes memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sementara para pria masih semangat untuk berlari.
Azura yang tengah meneguk minumannya, di buat terkejut ketika ada tangan kecil yang menarik bajunya.
"Tante cantik?" sontak Azura, Diandra dan Agnes menoleh kearah si gadis kecil.
"Chery.." pekik Azura, pandangan ketiga wanita itu langsung tertuju pada seorang pria yang berdiri tak jauh di belakang Chery.
"Denis.." ucap ketiga wanita itu secara bersamaan.
bersambung..
#Si Denis minta di keroyok kali tuh muncul tiba-tiba😅
🍂🍂🍂
Author mau ngucapin selamat hari raya idul adha bagi yang merayakannya😊bagi yang berkurban semoga pahalanya di lipat gandakan oleh sang maha pencipta😇lanjuutt nyatee yuuk...😁
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit💞dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih🙏😍...
__ADS_1