Wedding Disaster

Wedding Disaster
Time Travel


__ADS_3

Entah sudah yang keberapa kali Tex membasuh wajah dengan air yang mengucur deras di wastafel. Kemudian ia menatap sosok mirip dirinya di cermin. "Kenapa harus sekarang?" lirihnya. Seolah tak peduli sisa air di wajahnya yang masih menetes hingga kerah baju, ia basuh lagi.


Tex tidak pernah menyangka akan bertemu dengan mantan tunangannya di situasi seperti ini. Tunggu, lelaki itu mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tidak pernah ada kata mantan. Mereka berdua tidak pernah membicarakan tentang itu, bahkan mereka memang tidak pernah bicara apapun selama terpisah jarak dan waktu.


Ah, gila. Kehilangan kontak selama tujuh tahun sepertinya bisa menjadi alasan yang kuat untuk mereka berdua otomatis putus. Ditambah lagi, Tex sangat meyakini pria yang bersama Xora tadi pasti memiliki hubungan khusus dengan mantan tunangannya itu.


"Oke, semua akan baik-baik saja." Tex menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi situasi yang bisa jadi mudah sekaligus sulit. "Tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Jangan kegeeran Tex. Xora bahkan tidak mencarimu sama sekali," yakinnya pada diri sendiri.


Tex meraih ponsel yang sedari tadi berbunyi dan mengangkatnya untuk kali ini. "Iya sayang, aku ke sana sekarang," ujarnya pada Kania di telepon. Perempuan itu tampak sudah tidak sabaran, sangat bertolak belakang dengannya yang ingin mengulur waktu sepanjang mungkin. Tex mencoba biasa saja.



Kala menyenggol siku Xora. "Kenapa?" bisiknya. "Sakit?"


Xora menggeleng pelan. Gadis itu berusaha mengatur napasnya. Kemudian Xora mengambil notebook dan menyalakannya. Dicarinya folder konsep yang sudah ia siapkan semalam untuk Kania. Namun sayang, usaha menyibukkan diri itu tetap saja membuatnya penasaran ingin lekas bertemu dengan Tex. Xora masih terus berharap Tex yang dimaksud bukan Tristan miliknya dulu. Kalau pun benar Tex itu adalah Tristan, maka Xora berharap Tristan yang lain dan analisisnya tentang nama itu salah.


"Hai sayang … kamu lama banget," seru Kania tiba-tiba. Xora mendongak dan melihat seorang pria bertubuh tinggi, sedang disalami oleh Kala. Pria itu tersenyum. Senyum yang sangat ia kenal, senyum yang sangat ia suka sejak dulu, senyum khas yang selalu menampakkan celah di antara dua gigi serinya. Itu senyum Tristan.

__ADS_1


Xora bergeming. Untuk kedua kalinya Kala menyenggol lengan Xora supaya gadis itu tidak terlihat bodoh dengan banyak melongo. "Xora, are you okay?" bisik Kala.


"Ah ya. Okay … I am okay, Kala." Xora berdiri. Ragu-ragu ia mengulurkan tangannya kepada Tex. Gadis itu masih belum memutuskan harus pura-pura tidak mengenal Tex atau harus bagaimana. Pikirannya benar-benar amburadul, lidahnya kelu, bahkan jika Tex menyambut tangan Xora, sudah pasti Tex bisa merasakan dinginnya tangan Xora.


"Hai, apa kabar, Xora?" tanya Tex sambil meraih tangan Xora dan menggenggamnya. Mendengar namanya disebut, kesadaran Xora sepenuhnya kembali.


"Xora? Dia barusan benar-benar menyebut namaku?" batin Xora.


Kania memandang Tex dan bertanya, "apa aku sudah bilang namanya Xora?" Pandangan Kania berpindah pada Xora.


"Kamu belum bilang, kok, sayang." Tex melepaskan genggaman tangannya dan duduk di sebelah Kania. "Aku memang kenal sama Xora," lanjut pria itu.


Xora melengkungkan senyuman penuh keterpaksaan dan mengangguk pada Kania.


"Wah, bagus kalau kalian sudah saling kenal. Jadi kamu udah tahu betul selera Tex, bukan? Kalau begitu aku semakin yakin keputusanku memilihmu adalah sebuah keputusan yang paling benar," ucap Kania. "Jadi bagaimana konsep yang mau kamu tawarkan?"


Xora memutar notebooknya ke ujung meja agar bisa dilihat oleh semua orang. Bagaimanapun juga, Xora harus berusaha profesional di hadapkan kenyataan yang baginya terasa sangat pahit. Suaranya sedikit gemetar. Hanya dua orang yang menyadari Xora sedang tidak baik-baik saja, yaitu Kala dan Tex tentunya. Kala berusaha menutupi ketidakfokusan Xora dengan membantunya bicara tentang konsep yang telah mereka bicarakan sebelumnya.

__ADS_1


"Aku tidak suka ketiga konsepmu," celetuk Kania setelah tiga konsep habis Xora presentasikan. "Ayo lah Xora … you are the best wedding organizer in town. Masak cuma segini aja?" lanjut Kania.


"Tapi aku suka yang pertama, sayang," ungkap Tex untuk mendinginkan suasana.


"Yang pertama? Are you crazy, Tex?"


Keduanya berdebat untuk masalah konsep resepsi pernikahan. Xora semakin pening dibuatnya. Gadis itu menutup layar notebook dan membuat Kania sedikit tersentak.


"Kenapa ditutup? Kita kan belum selesai," kata Kania sembari menatap mata Xora lekat-lekat.


Dengan berat hati Xora berkata, "Konsep yang satu ini adalah konsep terakhir yang kami tawarkan. Semoga Mbak Kania dan Mas Tristan, ehm maksud saya Tex suka."


"Oh ya, silahkan. Saya mau dengar," balas Tex yang masih tampak tenang menghadapi Xora. Tak bisa dipungkiri, Xora, wanita yang sedang bicara tentang resepsi pernikahannya itu tampak lebih cantik dibandingkan terakhir kali mereka bertemu, bicaranya lebih tegas dan juga terlihat lebih matang. Sesuatu yang sudah Tex simpan rapat-rapat di dasar hatinya seolah sedang mengetuk-ketuk untuk dibuka kembali.


"Time travel? Coba jelaskan. Aku mulai tertarik." Seruan Kania barusan menyadarkan Tex dari lamunannya tentang Xora. Kini pria itu ikut mendengarkan penjelasan Xora.


"Time travel. Setelah tamu mengisi buku tamu, mereka akan diantar memasuki sebuah labirin yang berisi kenangan tentang kebersamaan kalian. Bisa apa saja, benda, foto, cerita, lagu atau apapun itu. Kemudian mereka bersamalam dan foto bersama mempelai sebagai puncak dari petualangan hubungan kalian berdua. Setelah itu tinggal menikmati makan siang yang akan diatur Mas Kala."

__ADS_1


Kania tampak takjub. Ia benar-benar suka ide itu. Sementara disebelahnya, Tex menatap Xora lekat-lekat. "Kenapa harus ide itu, Xora?" batin Tex.


__ADS_2