Wedding Disaster

Wedding Disaster
Kotak Merah Marun


__ADS_3

Siang ini macet sudah mulai terurai jika dibandingkan beberapa jam lalu ketika Xora akan bertemu Kania. Kini gadis itu sudah duduk santai di sebuah kedai kopi. Sambil menunggu Kala, ia asyik berselancar di dunia maya dengan satu kata kunci utama--Kania Wiratama--sisanya kata kunci turunannya seperti, 'Kehidupan Kania Wiratama', 'Pacar Kania Wiratama', 'Keluarga Wiratama', 'Biografi Alexander Wiratama' hingga 'Gosip Kania Wiratama'.


Sebagai anak pengusaha kaya Alexander Wiratama, Kania sudah pasti punya selera jauh di atas rata-rata. Tidak seperti ayahnya yang sering muncul di televisi ataupun media digital lainnya, ternyata sosok Kania ini tidak banyak tersorot media. Kata kunci terakhir yang Xora ketik sebelum Kala muncul di hadapannya adalah Tex. Xora penasaran dengan calon suami Kania itu. Sayang ketika ia mengetik Tex pun yang muncul bukan yang ia mau.


"Udah lama, Ra?" tanya Kala sambil menarik kursi, kemudian duduk.


"Udah, tapi enggak masalah kok. Aku yang dateng kecepetan." Xora bangkit dari duduk lalu menyambung kata-katanya, "Seperti biasa, kan?"


Kala mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi, setelah itu membaca koran pagi yang tersusun di rak sebelahnya. "Kania yang ini?" celetuk Kala sesaat setelah Xora kembali memesan americano untuk Kala.


"Hah? Mana?" Xora langsung menyambar koran yang masih berada di tangan Kala. "Dari tadi aku cari informasinya nggak ketemu. Ternyata ngegantung di rak sebelah," ucap Xora sambil membaca judul berita dalam hati.


Kala pasrah saja, jauh lebih baik ia menikmati americanonya yang baru saja diantar ke meja dari pada harus berebut koran dengan Xora, untuk berita yang kurang penting menurutnya.


"Aduh kok enggak ada info tentang calon suaminya, sih?"


Kala meletakkan cangkir dan berpindah duduk ke sebelah Xora. "Calon suami apa? Yang mana?"


"Calon suami si Kania ini." Xora menunjuk wajah Kania di koran.


"Penting?"

__ADS_1


Kedua bola mata Xora semakin membulat, nyaris jatuh, "Penting lah! Sebagai wedding organizer-nya, aku harus mampu mengenal Kania dan Tex, bahkan untuk setiap pasangan, secara personal dalam waktu singkat. Susahnya, aku harus mengenal pribadi calon pengantin dari cara bicara, cara berjalan, cara berpakaian, cara menyisir rambut, cara tertawa, cara berjalan--"


"--cara berjalan sudah disebut," sambar Kala.


"Ah ya, semacam itulah. Aku harus tahu semua, Kala. Hobinya, makanan kesukaannya, warna kesukaannya. Semua itu agar mereka bisa ngerasa senang dan puas karena apa yang mereka inginkan bisa aku terjemahkan tanpa cela."


Kala mengangguk. Entah peduli atau tidak, akhirnya ia bertanya, "Sama setiap pasangan kamu begitu?"


"Maksudmu?"


"Maksudku, apa sama pasangan lain yang make jasamu kamu gitu juga? Jadi detektif gadungan untuk tau cara jalannya gimana … hobinya apa. Bukan karena itu Kania, kan?"


"Ya pasti. Aku sampe kepoin media sosial mereka," aku Xora dengan bangga.


"Iya, Kala. Sayangnya Kania ini misterius banget buat aku, sekaligus tantangan." Mata Xora berbinar seolah dirinya baru saja menaklukan puncak gunung tertinggi.


"Kamu tahu apa yang Kania bilang ke aku tadi?"


Kala menggeleng-gelengkan kepala.


Xora menegakkan duduk, lalu menghadap Kala yang berada di sebelahnya. Gadis itu berdehem sebentar lalu mulai mengikuti cara bicara Kania sedemikian rupa agar teman bicaranya itu ikut terpana. "Saya serahkan semua sama kamu. Kamu direkomendasikan karena reputasimu yang baik. Aku percaya kamu." Suara Xora kembali normal seperti Xora yang sebenarnya, "Gitu katanya."

__ADS_1


"Oh."


"Oh? Yang bener aja? Itu Kania loh yang bilang." Xora tidak terima lelaki itu hanya berkata 'Oh' setelah usaha panjangnya sepuluh menit belakangan.


"Aku sering dengar klienku ngomong gitu juga ke aku," ucap Kala sambil nyengir.


Kesal, Xora menggulung koran dan memukulkannya ke pundak Kala. Pria itu pun berusaha menghindar sambil tertawa geli karena pada akhirnya Xora hanya bisa memukul sembarangan yang penting mengenai bagian tubuh Kala.


"Udah cukup," seringai Kala yang kini sudah kembali duduk di tempat semula. "Jadi apa rencanamu?" lanjutnya.


Xora menarik napas dalam-dalam, lalu membenarkan kerah kemejanya yang acak-acakan. "Aku sudah punya sedikit bayangan. Aku akan menawarkan beberapa konsep sekaligus minggu depan. Di meeting kita selanjutnya. Dan kabarnya, pertemuan kedua bakalan sama calon suaminya." Xora mengatupkan kedua tangannya ke wajah. "Wah, pasti calon suami Kania itu kaya raya, tampan … uh, pasti pasangan serasi. The Royal Wedding."


Kala menyesap cangkir americanonya lagi. Ia merasa temannya itu sudah semakin berlebihan.


"Jadi kamu siap ikut kita meeting minggu depan, kan? Kateringmu yang terbaik, Kala."


"Lebih dari siap, Xora. Bukan hal sulit," ujarnya sambil tersenyum satire.


Ugh menyebalkan. "Oke, jadi apa rencanamu?"


"Rencanaku? Sebentar." Kala merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. "Ini," katanya sambil mendorong sebuah kotak kecil di meja hingga sampai tepat di hadapan Xora.

__ADS_1


"Apa ini?" Xora mengambil kotak berwarna merah marun itu. Di pinggirannya ada pita emas melingkar manis. Lalu ia buka kotak itu. Sebuah cincin dengan satu mata berukuran sedang, berkilau. "Kala?"


"Will you marry me, Ixora Amelia?"


__ADS_2