
Matahari mulai menyingsing memancarkan kehidupan bagi seluruh insan di bumi. Suara deru kendaraan bermotor mulai terdengar di tengah ramainya hiruk pikuk jalanan ibu kota. Kaki di buat melangkah untuk mencari sumber penghasilan bagi keluarga tercinta. Yang tua dan muda saling membahu menapaki jalanan beraspal tak perduli panas atau hujan mengiringi hari-harinya.
Sebelum memutuskan bekerja untuk keluarganya, dulu dia hanya pegawai biasa di sebuah perusahaan kecil. Hilir mudik menaiki kendaraan umum, berpanas-panasan hanya karena dorongan hati kecilnya. Inilah hidupnya, inilah keinginannya menjadi orang biasa tanpa bergantung pada kesuksesan kedua orangtuanya.
Sampai pada hari itu, saat dia memutuskan memasuki perusahaan milik keluarganya, dia masih memilih menjadi orang lain bukan dirinya sendiri. Dia di hina, di fitnah bahkan di anggap seorang simpanan pun dia masih bersabar tak ada dendam sedikitpun. Karena hatinya seluas samudera, dan setinggi gunung himalaya. Dia adalah Azura Kalingga Wijaya putri pengusaha kontraktor terkenal.
Hari baru kini sudah menantinya, penampilan masih tetap sederhana padahal kini dia seorang direktur di perusahaan milik keluarganya. Azura melangkah memasuki ruangan yang dulu di tempati pak Teguh yang kini resmi menjadi miliknya. Bahkan desain interior ruangannya pun kini berubah, lebih terlihat soft dan elegant.
"Gimana kamu suka sayang sama ruangannya?" suara papah Jupiter terdengar dari arah belakang saat mengantar Azura masuk.
Azura tersenyum dan masih menatap takjub ruangannya yang di dominasi warna abu pastel "suka pah, jadi papah yang udah mengatur semua ini?"
"Hmmm, semoga kamu suka sayang dan betah kerja di perusahaan papah."
"Makasih banyak ya pah," Azura memeluk papah Jupiter mengucapkan terima kasih atas usahanya selama ini.
"Duduklah sayang ada sesuatu yang ingin papah bicarakan!" Azura mengikuti perintah papah Jupiter lalu duduk disebelahnya di sebuah sofa yang tersedia.
"Ada apa pah?"
"Apa rencanamu pada keempat karyawan yang suka membulymu sayang?"
"Maksud papah Nita sama teman-temannya?"
Papah Jupiter mengangguk "sekarang papah serahin mereka sama kamu, karena bagaimana pun mereka telah menyebarkan berita bohong soal kamu."
"Mereka hanya salah paham pah, mereka kan tahunya aku ini karyawan biasa bukan putri papah. Toh mereka kan sudah mendapatkan hukumannya. Tidak bijak juga jika tiba-tiba aku memecat mereka berempat, buat apa jabatan tinggi jika untuk memanfaatkan keadaan. Mereka punya keluarga pah, dan aku yakin mereka mencari nafkah karena mereka adalah tulang punggung keluarga."
Papah Jupiter terharu mendengar ucapan Azura "Jadi kamu akan tetap membiarkan mereka bekerja sama kamu nak?"
Azura mengangguk "pekerjaan mereka gak jelek-jelek amat pah, Nita malah orang lama disini. Dedikasinya pada perusahaan juga besar, kalau kita memberhentikan orang seperti Nita, belum tentu karyawan baru bisa seperti Nita. Aku malah berniat akan mengangkat Nita sebagai kepala divisi yang baru, menggantikan kepala divisi yang lama karena pindah bagian."
Papah Jupiter hanya geleng-geleng kepala "kamu memang putri terbaik papah, kejahatan memang tidak harus di balas kejahatan. Justru kebaikan kamu yang seperti ini akan selalu di kenang sampai kapan pun. Hati kamu begitu lapang nak, papah bangga sama kamu."
"Makasih pah aku hanya minta satu permintaan sama papah?"
"Apa itu sayang sebutkan saja!"
__ADS_1
"Aku ingin Sisil menjadi asisten pribadiku pah, bisa kan? Dia juga orang lama disini?"
"Sisil teman satu divisi kamu?"
"Iya pah,"
"Baiklah papah akan suruh bagian kepegawaian untuk mengurus kepindahannya."
"Makasih ya pah," Azura begitu senang karena papah Jupiter langsung menyetujui keinginannya.
"Baiklah kalau gitu papah kembali ke ruangan papah dulu, jika ada yang tidak mengerti kamu jangan sungkan tanya sama papah."
"Iya papahku sayang." papah Jupiter berlalu keluar dari ruangan Azura.
๐๐๐
Keempat orang wanita terlihat berdiri dengan kepala tertunduk di depan meja kerja Azura. Setelah mendapat panggilan untuk menghadap direktur mereka yang baru, keempat wanita yang tak lain adalah Nita, Citra, Reva dan Nadin di liputi kecemasan yang luar biasa. Mereka sebenarnya sudah tidak punya muka lagi di hadapan Azura, tapi karena tuntutan hidup dengan muka tembok mereka tetap datang berharap ada keajaiban menghampiri mereka.
Satu menit, dua menit keempat orang itu masih diam membisu dengan tangan meremas ujung blazernya. Azura pun sengaja menunggu mereka bersuara terlebih dahulu. Tapi satu pun dari mereka berempat sepertinya sulit untuk mengeluarkan suara karena di dera rasa bersalah yang besar terhadap Azura.
"Saya minta maaf bu.." akhirnya Nita lah orang yang pertama mengeluarkan suara.
"Saya juga bu..." Citra, Reva dan Nadin pun serempak bersuara seperti paduan suara saat upacara bendera.
"Kami tidak tahu jika ibu anak dari pemilik perusahaan ini, apa pun hukumannya akan kami terima asalkan ibu mau mengampuni kami dan memberikan kami kesempatan tetap bekerja di sini.," ucap Nita mewakili ketiga temannya.
"Benar bu saya tulang punggung keluarga, ibu saya seorang janda." tutur Citra.
"Saya pun sama harus membiayai ketiga adik saya sekolah," tambah Reva.
"Dan saya seorang perantau bu, apa kata abah dan ambu saya jika tahu anaknya di pecat secara tidak hormat oleh perusahaan tempatnya bekerja." ucap Nadin dengan penuh sesal.
"Memangnya siapa yang akan memecat kalian?" tanya Azura heran. Mereka berempat sontak mengangkat wajahnya dan saling berpandangan.
"Jadi ibu gak akan pecat kami?" tanya Nita kaget sekaligus lega. Kekhawatirannya selama ini ternyata tidak terbukti.
Azura tersenyum dan mengangguk. Keempat orang wanita yang tengah di landa rasa bersalah itu kini tersenyum lega.
__ADS_1
"Makasih bu, ternyata ibu orang yang baik dan berhati mulia." seru Citra.
"Saya manggil kalian kesini cuma mau bilang kerja yang bener jangan pernah menilai orang dari penampilannya, dan jangan menilai sesuatu yang belum tentu kebenarannya apalagi sampai menimbulkan keributan."
"Baik bu saya janji akan bekerja lebih giat lagi,"
"Saya juga bu..."
"Saya juga..."
"Saya juga.."
"Jadi ibu beneran sudah memaafkan kami?" tanya Nita mencoba memastikan.
"Iya asalkan kalian mau berubah ya!"
Keempatnya serentak mengangguk dengan kompak.
"Dan kamu Nita saya akan mengangkat kamu sebagai kepala divisi baru menggantikan pak Agung yang pindah bagian."
Nita membelalakan matanya mendengar ucapan Azura "s-sa-saya bu?"
"Iya...kamu kan yang paling senior di antara yang lain."
"Tapi bu saya tidak pantas mendapatkan kebaikan hati ibu, tidak di pecat saja saya bersyukur bu tapi ibu.."
"Kamu pantas mendapatkannya dan aku yang memilihmu!"
Nita terharu dengan keputusan yang di buat Azura, tanpa sadar kedua sudut matanya berair "Terima kasih atas kebaikan hati ibu, semoga tuhan membalasnya berkali-kali lipat." ucap Nita tulus.
bersambung.
๐๐๐
Jadi gitu ya pemirsah kejahatan itu tidak harus di balas dengan kejahatan๐ ada yang kecewa gak karena genk ghibah gak jadi di pecat?๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1