Wedding Disaster

Wedding Disaster
Menuju hari H


__ADS_3

Malam semakin larut namun para orangtua itu masih betah mengobrol bernostalgia mengenang masa muda mereka, terutama bagi mamah Theolla dan Raisa. Clarisa yang berada di antara mereka tidak terlalu mengambil pusing, dia memilih memainkan ponselnya daripada terlibat dengan obrolan para orangtuanya yang dia tidak pahami.


Sementara Tristan dan Azura terlihat mengobrol di taman belakang, duduk di sebuah bangku taman yang menghadap kearah kolam renang. Di temani gemerlapnya bintang yang berkelipan kedua sejoli ini saling melepas rindu, karena intensitas pertemuan mereka yang semakin berkurang menjelang hari pernikahan mereka.


Tristan meraih telapak tangan Azura mengenggamnya dengan erat "aku gak sabar menunggu hitungan hari demi hari untuk segera menghalalkan kamu."


Azura tersenyum mendengar ucapan Tristan, dia pun merasakan hal yang sama dengan apa yang Tristan rasakan. Bertemu di depan penghulu saat mengikrarkan janji suci sehidup semati. Menjalani biduk rumah tangga ini untuk mendapatkan keridhoanNYA.


"Setelah ini jangan temui aku dulu, kita bertemu lagi nanti saat hari H tiba." ucap Azura, karena begitulah aturannya jika ada anggota keluarganya yang akan menikah kedua calon mempelai di larang bertemu dulu atau lebih di kenal dengan istilah pingitan.


"Yakin gak mau ketemu? Emang gak kangen sama aku sayang?"


"Bukan seperti itu Tan, kita ikutin aja aturan para orangtua kita. Toh hanya tinggal menunggu lima hari saja, kamu ini gak sabaran banget sih."


"Haha...jelas aku gak sabar sekali untuk memiliki kamu seutuhnya, kamu bersiap-siaplah saat malam pengantin kita tiba." bisik Tristan lirih di telinga Azura.


Azura meremang membayangkan ritual malam pertama yang pasti akan di lakukan oleh setiap pasangan pengantin, nalurinya sebagai wanita dewasa pun timbul dan ingin merasakan apa itu nikmatnya surga dunia. Apalagi setelah Azura mendengar cerita dari Diandra yang mengatakan jika di awal dia merasakan kesakitan, namun setelahnya hanya kenikmatan yang dia rasa. Seperti apakah sensasinya? bahkan untuk membayangkannya saja Azura enggan.


"Sayang kok diem?"


"Eh...a..apa?"


"Yah malah melamun, kamu mikirin apa sih sayang? Malam pertama kita?"


Azura langsung mencubit perut Tristan dengan keras "kamu ini otaknya gak jauh-jauh dari hal itu terus,"


"Emang kamu gak penasaran rasanya gimana?"


"Ihh dasar mes*um!!" Azura mencebik memilih membelakangi Tristan. Dia tidak ingin Tristan melihat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat matang.


Tristan langsung meraih bahu Azura, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Azura. Dia peluk tubuh Azura dan dia kecup puncak kepalanya karena gemas jika Azura sudah merajuk.


"Pulanglah ini sudah larut malam!!"

__ADS_1


"Kamu ngusir aku Ra?"


"Ya nggak gitu Tan, takutnya kedua orangtua kamu lelah dan ingin beristirahat."


"Mereka masih betah mengobrol di dalam, apalagi mamihku ketemu mamah kamu yang ternyata sahabat SMAnya pasti obrolannya gak akan kelar sampai pagi."


"Tapi kan..."


"Sssttt... " Tristan memilih menempelkan telunjuknya di atas bibir Azura. Dia menyapu seluruh permukaan bibir Azura dengan jari telunjuknya.


"Kamu terlalu banyak bicara," Tristan mulai mengikis jarak di antara mereka berdua, memajukan wajahnya dan berakhir di depan bibir Azura yang sudah tidak berkutik.


Cup!


Sentuhan lembut di atas bibirnya membuat Azura refleks memejamkan matanya. Dia mulai merasakan kecupan-kecupan lembut yang Tristan labuhkan di atas bibirnya. Azura yang mulai terbuai tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher Tristan, sementara Tristan semakin menekan tengkuk Azura untuk memperdalam ciumannya.


Keduanya hanyut dalam gelora cinta yang sangat memabukan, saling melum*at, saling menyes*ap di payungi langit malam di saksikan jutaan bintang yang turut berbahagia melihat kedua insan yang tengah merenda kasih.


Azura dan Tristan sontak melepaskan pertautan bibir mereka mendengar suara Clarisa datang. Azura buru-buru menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Tristan karena menahan malu.


"Iya Cla..nanti kakak nyusul, tunggulah sebentar di mobil!" ucap Tristan setenang mungkin.


"Baiklah..kalian lanjutkan lagi, tapi jangan kelamaan ya kak!!" Clarisa buru-buru pergi tanpa kembali menoleh ke belakang, dia memberikan waktu pada kedua sejoli itu untuk menyelesaikan kegiatannya.


"Ya ampuuun aku malu.." cicit Azura akhirnya setelah Clarisa benar-benar pergi.


"Tenang aja sayang, Clarisa orangnya enjoy kok."


"Ya udah sana kamu pergi, mereka udah nungguin kamu di depan!!"


Tristan tersenyum lebar, sebelum benar-benar pergi terlebih dulu Tristan mencium kening Azura dan melum*at bibir Azura sekilas. Dia lalu membelai pipinya dengan lembut.


"Untuk lima hari kedepan, tunggulah aku!"

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Sang surya perlahan mulai naik meninggalkan peraduannya, sinarnya yang terang memancarkan energi positif bagi seluruh penduduk bumi. Hari demi hari sudah berlalu tanpa terasa, hanya tinggal menunggu 48 jam lagi menuju akad pernikahan Azura dan Tristan.


Seorang pria terlihat mengepalkan tangannya begitu mendengar berita dari orang kepercayaannya, dia tidak menyangka akan kalah telak secepat ini. Sementara seorang wanita yang juga berada di ruangan yang sama tampak meredamkan emosi dari sang sepupu.


"Sudahlah Den! berhenti mengharapkan Azura, dua hari lagi mereka akan menikah!!"


"Tidak bisa!! bukan Denis namanya jika aku tidak bisa mendapatkan Azura!!"


"Lalu kamu mau apa? menghancurkan pernikahan mereka? bahkan pernikahan ini akan sangat tertutup untuk umum, undangan pun di batasi sudah pasti penjagaan akan semakin ketat. Apa sekarang yang bisa kita lakukan? menyerahlah biarkan mereka bahagia, toh aku sudah ikhlas melepas Tristan bersama Azura." Karina masih berupaya untuk menyadarkan saudara sepupunya yang masih terobsesi memiliki Azura.


"Tidak!! tidak ada kata menyerah dalam hidupku...jika aku tidak bisa mendapatkan Azura, maka orang lain pun tidak berhak!!"


Karina hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan Denis yang keras kepala. Bahkan Karina sudah menyerah saat mendengar jika pernikahan Azura dan Tristan akan di percepat.


"Ambisimu ini hanya akan membuat kamu terluka Denis!!"


"Aku tidak perduli, aku hanya ingin membalas dendam atas perlakuan Tristan terhadap perusahaan ku!"


"Itu salah kamu sendiri, karena kamu yang memulai!!"


"Maka dari itu aku akan mencari celah untuk masuk kedalam pernikahan mereka, untuk sesaat biarkanlah mereka merasakan kebahagiaan tapi setelah itu tunggu aku beraksi." ucap Denis penuh seringai. Sebuah rencana sudah tersusun rapi di dalam memory otaknya.


"Terserah kamu!! jika terjadi sesuatu tolong jangan libatkan aku!!"


"Kamu tenang saja Karin, kamu tinggal duduk manis dan menunggu hasilnya!!"


bersambung ..


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...

__ADS_1


__ADS_2