
*“DIA** udah nunggu kamu dari tadi, Yu!” Bisik Rina dibalik meja counter*, matanya mengarah kepada sosok wanita yang sedang duduk dengan memegangi cangkir kopi.
Ayu mengamatinya, tidak salah lagi, itu adalah Salina.
Ia segera menghampiri tempat duduk Salina, Ayu sudah menduganya, cepat atau lambat dia pasti akan berurusan dengan wanita satu ini.
“Ada apa mencariku?” Tanya Ayu sesampainya disana.
Salina melihat Ayu dengan seragam dan apron kafenya, lalu dengan teganya ia menjatuhkan cangkir yang ia genggam sebelumnya dengan sengaja. Cangkir itu pecah di dekat tempat Ayu berdiri.
“Ada masalah apa ya?” Pekik Ayu kaget.
“Ups! Tolong dibersihkan ya…” ucap Salina tanpa rasa bersalah.
Ayu sangat kesal sekarang, ia paham kenapa Salina berbuat demikian, namun bukan salahnya juga jika Arshaka memilih untuk meninggalkannya. Itu juga karena Salina yang menduakan Arshaka dari dulu hingga sekarang. Lalu apa masalahnya wanita ini?
Ayu masih bisa menahan emosinya, selama ia masih mengenakan seragam dari tempatnya bekerja artinya dia sedang membawa nama perusahaan orang lain, setidaknya ia harus menjaga nama baiknya. Lalu Ayu dengan terpaksa harus berjongkok untuk membereskan pecahan-pecahan kaca tersebut.
Kemudian dengan sengaja lagi, Salina menggeser piring cookiesnya dan ia jatuhkan juga, pecahan itu nyaris mengenai kepala Ayu.
Praanggg!!!
Ayu segera berdiri dan melepas apronnya yang terdapat logo kafe tempatnya bekerja disana. “Ada apa?!” Tanya Ayu kemudian. “Kalau ingin berbicara denganku, ayo kita keluar dari sini…”
Ia tidak ingin mencari masalah disini, jadi menurutnya, jika Salina memang ingin membicarakannya baik-baik, setidaknya mereka bisa mendiskusikannya diluar tempat kerja Ayu.
Salina tertawa, “ada apa katamu? Setelah merebut pacar orang kamu masih bisa tanya ada apa?”
Yah, tapi sepertinya Salina memang tidak peduli.
“Aku tidak merebutnya,” jelas Ayu berusaha tetap rasional, “Arshaka sendiri yang memutuskan…”
“Apa menurutmu kamu pantas?” Salina memang tidak mengatakan apapun mengenai dandanan Ayu, namun itu terbaca dengan jelas melalui tatapannya yang mencibir apapun yang dikenakan Ayu.
“Jika aku tidak pantas pun, aku akan berusaha memantaskan diri untuknya…”
Plaaakk!!!
Sebuah tamparan melayang di pipi Ayu. Salina mengepalkan kedua tangannya sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.
Saat ini Ayu hanya diam, jika itu bisa membuat Salina merasa puas dan segera pergi dari hadapannya, Ayu akan menerima.
“Aku tidak akan membiarkanmu bahagia!” Ancam Salina dengan serius.
Saat itu mereka masih bersitegang, namun tiba-tiba suara tepuk tangan pelan terdengar mendekat. Seorang pria aneh muncul menghampiri mereka, dia Anthony si pria gila yang datang dengan senyumnya seperti menikmati pertunjukan.
“Wah! Ada apa ini? Sepertinya seru!” Ucapnya kini meletakkan pantatnya di salah satu kursi dan menghadap ke arah Ayu dan Salina berdiri.
__ADS_1
Ayu tidak peduli dengan kehadirannya, dia kesini pasti untuk menggoda Rina. Hobi barunya.
Salina mengabaikan orang itu, “aku akan memberimu kesempatan untuk menjauhi Arshaka!” Ancamnya lagi menunjuk wajah Ayu.
“Kenapa? Kenapa aku harus menjauhinya? Kami akan menikah!”
Plaakkk!!!
Tamparan keras sekali lagi Ayu dapatkan. Ia kini menyentuh bekas tamparan itu, sakit.
“Jangan berani-berani mulut kotormu itu mengucapkan kalimat itu! Sadar posisimu, kamu itu hanya perebut calon suami orang lain!”
Ayu terdiam. Mau bagaimana pun Ayu membela diri, disini posisi Salina memang lebih diuntungkan. Jadi, Ayu memilih untuk diam.
“Jika kalian tidak membatalkan pernikahan itu, aku akan menghancurkan hidupmu!” Ucap Salina menyambat tas jinjingnya hendak pergi.
Namun kemudian Anthony menyahut, “udah gitu doang? Yah, gak seru dong! Ayo dong jambak-jambakan!”
Salina berjalan pergi setelah memukul kepala Anthony dengan tas bermerk-nya.
Ayu masih tertegun disana, entah apa yang harus ia lakukan. Salina bukanlah orang yang sembarang, ia yakin betul bahwa wanita itu akan melakukan apapun demi tujuannya. Namun disini lain, Ayu harus mempercayai Arshaka.
Ia harus percaya kepada hubungannya.
...\~oOo\~...
Tak lama setelahnya, terdengar suara ketukan pintu, Ayu sudah yakin betul bahwa itu adalah Arshaka. Tentu saja dengan semangat Ayu menghampirinya dan membukakan pintu. Namun apa yang dilihatnya, sunggu hal yang sangat diluar nalar.
“Salina?” Sambut Ayu kecewa.
Salina yang berdiri disana sangat kaget dengan apa yang ada di hadapannya. Mereka berdua sama-sama kaget, sama-sama mengharapkan hal yang sama namun keduanya tidak mendapatkannya.
Kenapa ada Ayu di dalam apartemen Arshaka! Bahkan saat Salina dan Arshaka masih menjalin hubungan pun Salina jarang kemari. “Kamu lagi?! Ngapain kamu disini?!”
“Ah… itu…” sebelum Ayu sempat menjelaskan, Salina sudah menyelonong masuk tanpa permisi.
Ia tidak peduli. Baginya properti milik Arshaka adalah miliknya juga.
Salina melihat hanya ada sandal dan sepatu Ayu disana.
Ia kemudian kembali menjelajahkan kedua bola matanya dan yang ia temui hanyalah dekorasi dan perlengkapan perempuan. Jadi, dia sudah menyimpulkan, “kamu tinggal disini?” Tanyanya cemburu.
“I-iya.. kemarin Arshaka memintaku untuk tinggal disini saja untuk sementara…”
Salina berjalan menuju dapur, mencicipi beberapa menu masakan disana, “kalian tinggal bersama?” Tanyanya lagi memendam emosi.
Buru-buru Ayu menjawab, “enggak! Enggak! Kami nggak tinggal bersama…”
__ADS_1
“Tinggalkan tempat ini!” Perintah Salina tiba-tiba tidak peduli, masih sama saja sifatnya.
“Ya?”
“Aku bilang tinggalkan tempat ini! Kemasi barangmu dan cari tempat lain!”
“Tapi ini udah malem. Kalau kamu mau aku pindah dari sini nggak masalah, tapi aku akan pindah besok pagi…”
“Kalau aku bilang sekarang ya sekarang! Bodoh banget sih!” Teriak Salina sudah kesal. Ia sangat marah mengetahui fakta bahwa Arshaka memberikan akses apartemennya kepada Ayu, sedangkan kepadanya tidak.
“Arshaka akan kesini sebentar lagi…” ucap Ayu memberitahu, siapa tahu dengan begitu Salina akan mengurungkan niatnya untuk mengusir Ayu.
Namun hal yang sangat tidak terduga justru muncul begitu saja.
Kalimat itu justru menjadi bumerang bagi Ayu, karna kini Salina tiba-tiba kembali ke dapur dan mengambil sebuah pisau kecil disana.
“Apa yang kamu lakukan?!” Tanya Ayu khawatir saat Salina memain-mainkannya.
Salina justru tertawa, “apa yang akan aku lakukan?” Lalu tanpa ragu Salina menyayat lengan kirinya sendiri, tidak dalam namun panjang dan mengeluarkan banyak darah disana.
“Salina?!” Teriak Ayu mendekatinya, “kamu ngapain sih?!”
“Apa segini kurang untukmu?” Tanya Salina menantang, kemudian ia menyayat tangannya sekali lagi hingga cukup membuat tubuhnya nyaris kehilangan kesadaran.
Sakit memang, tapi untuk sekarang dia masih bisa menahannya.
Ayu berusaha menghentikan pendarahan tersebut sebelum ketukan pintu apartemen terdengar. Itu pasti Arshaka.
Dengan segala ketakutan Ayu, ia buru-buru membuka pintu dan meminta tolong kepada Arshaka.
“Ada apa?” Tanya Arshaka khawatir saat Ayu menyuruhnya berjalan lebih cepat.
“Salina, dia…” ucap Ayu menunjukkan Salina yang terbaring lemah di lantai dekat meja makan.
Arshaka segera menghampiri tubuh Salina yang tekapar lemah itu, “Salina, astaga… kenapa ini?” Arshaka mencoba untuk menggendong tubuh Salina.
“Arshaka…” panggil Salina dengan lemas, tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bangkit, matanya mulai meremang.
Arshaka menoleh sembari berlari membawa tubuhnya memasuki pintu lift yang diikuti oleh Ayu.
“Arshaka, ini semua… Ayu yang melakukannya…” ucap Salina membuat dada Ayu serasa sedang ditusuk dari depan dan belakang. Apa maksudnya?
Seketika Arshaka melihat Ayu meminta penjelasan.
“Tidak, Arshaka… aku… aku… t-tidak—“
“Ayu yang melakukannya…” potong Salina kembali, ia masih mencoba meyakinkan Arshaka agar percaya kepadanya, “aku hanya ingin menyapamu karna kupikir kamu masih tinggal disini. Ternyata aku bertemu Ayu, dia mengajakku masuk dan melakukan ini padaku…
__ADS_1
Ayu ingin membunuhku…”