
Warning! yang jomblo gak usah baca๐๐
๐๐๐
Malam semakin larut, hujan belum juga reda ketika Tristan dan Azura tiba di Villa pribadi milik Opa Pramudya yang berada di Puncak Cisarua, Bogor. Keduanya turun dari mobil di sambut pria paruh baya, yang selama ini di tugaskan untuk menjaga Villa.
"Selamat malam tuan,nona." sapa mang Dadang menyambut kedatangan cucu dari majikannya.
"Mang Dadang ya?" tanya Tristan, karena ini baru pertama kalinya bagi Tristan mendatangi Villa milik Opa.
"Betul tuan, saya mang Dadang. Saya sudah banyak mendengar cerita mengenai tuan muda Tristan dari tuan besar. Mari silahkan masuk tuan,nona!"
Tristan dan Azura lalu mengikuti mang Dadang untuk memasuki Villa, mereka di bawa berkeliling memperlihatkan seisi ruangan yang terdiri dari dua lantai ini. Setelah memutuskan baik dan buruknya Tristan dan Azura sepakat untuk bermalam ketimbang harus melakukan perjalanan jauh di tengah hujan deras yang masih mengguyur.
Sebelumnya Tristan meminta ijin terlebih dulu pada mamah Theolla dan papah Jupiter. Karena sudah mempercayakan Azura pada Tristan, sehingga mamah Theolla dan papah Jupiter langsung memberi ijin asalkan keduanya bisa kembali dengan selamat.
"Kamar ini yang biasa di pakai tuan besar ketika beliau berkunjung kemari!" tunjuk mang Dadang pada kamar yang terletak di lantai satu.
"Baiklah, tunjukan kami kamar yang lain mang!"
"Masih ada dua kamar, tapi terletak di lantai dua. Apa tuan muda dan nona mau memakai kamar yang di bawah atau di atas?"
"Kami akan menggunakan kamar yang di atas saja mang."
Ketiganya lalu beranjak menuju lantai atas, setelah menunjukan dua kamar tersebut mang Dadang pamit undur diri.
"Selamat beristirahat tuan, nona jika membutuhkan apa-apa panggil saja mamang di paviliun belakang."
"Iya mang terima kasih ya!"
Setelah mang Dadang pergi, Tristan dan Azura sedikit berdebat untuk menentukan dimana kamar yang akan mereka tempati.
"Kamu yakin mau tidur sendiri? Gimana kalau ada petir dan tiba-tiba mati lampu, apalagi di luar hujan belum juga berhenti?" ujar Tristan mencoba menakuti Azura.
Mendengar ucapan Tristan, Azura bergidik ngeri. Dia yang tetap keukeuh ingin tidur di kamar terpisah akhirnya mengikuti Tristan masuk ke kamar yang sama.
__ADS_1
"Awas ya kamu jangan macam-macam!" ancam Azura begitu mereka duduk di atas sofa besar.
"Iya sayang! Aku janji gak akan macam-macam, kecuali..."
Azura langsung melotot kearah Tristan "kecuali apa?"
"Kecuali aku khilaf, hehe.." kekeh Tristan yang langsung mendapat cubitan dari Azura.
"Dasar otak mes*um!"
"Pokoknya kamu tidur di sofa dan aku yang di kasur!"
"Loh kok bisa gitu! aku kedinginan sayang masa iya tidur di sofa. Kita tidur berdua aja ya aku janji gak bakal macam-macam."
"Aku gak percaya sama kamu Tristan! Udahlah aku mau ganti baju dulu." Azura lalu menyambar paperbag yang berisi baju ganti miliknya, jadi sebelum sampai di Villa, Azura dan Tristan mampir di sebuah toko baju terlebih dulu untuk membeli baju ganti.
"Hey sayang gak bisa gitu donk!" teriak Tristan. Karena Azura sudah masuk kedalam kamar mandi, Tristan pun dengan cepat mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek.
Lima menit kemudian Azura sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur. Dia buru-buru naik keatas kasur tidak memperdulikan ucapan Tristan yang begitu memelas. Dengan cepat Azura menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, sementara Tristan dia hanya bisa pasrah dan meringkuk di atas sofa.
๐๐๐
Berbeda dengan kedua sejoli yang tidur di kamar yang sama tapi di tempat yang berbeda. Azura yang tidur nyaman diatas kasur hanya berguling kesana kemari, seolah selimut tebal yang membalut tubuhnya tidak membuat dia nyaman. Sementara Tristan dia hanya meringkuk, melawan hawa dingin yang menyerang tubuhnya. Karena Azura tidak mengijinkan untuk berbagi selimut dengannya.
"Tristan.." Azura yang tidak tega akhirnya memanggil nama Tristan dan beringsut bangun bersandar pada kepala ranjang.
"Iya sayang, kamu belum tidur?"
"Aku gak bisa tidur Tan."
"Tidurlah ini sudah larut malam!" ucap Tristan lembut.
"Bagaimana aku bisa tidur jika melihat kamu kedinginan seperti itu, kemarilah!"
"Maksudnya sayang?"
__ADS_1
"Naiklah kemari! Kita tidur bersama!"
Tanpa berpikir panjang Tristan langsung menghampiri Azura, naik keatas kasur dan masuk kedalam selimut yang sama.
"Makasih ya sayang!" ucap Tristan sambil mengecup puncak kepala Azura. Keduanya kini bersandar pada kepala ranjang, dengan mata saling memandang. Azura dan Tristan merasakan debaran tak biasa saat mereka berada di ranjang yang sama.
"Aku udah gak sabar menunggu saat kita menjadi pasangan yang halal." ucap Tristan tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua mata Azura.
Azura hanya tersipu dan menunduk malu-malu.
"Aku sangat mencintai kamu Azura," Tristan meraih dagu Azura agar menghadap kearahnya. Tristan menatap kedua netra Azura, berharap Azura akan mengungkapkan isi hatinya.
"Aku juga mencintai kamu Tristan," balas Azura. Tristan tersenyum senang karena ini pertama kalinya Azura dengan langsung menyatakan perasaannya.
CUP!
Sebuah kecupan hangat Tristan labuhkan diatas bibir Azura. Dengan senang hati Azura menyambut ciuman Tristan yang sangat memabukan. Keduanya hanyut saling memagu*t, saling mengecap dan saling menghis*ap merasakan manisnya permainan bibir. Azura tanpa sadar membuka mulutnya sehingga lidah Tristan dengan leluasa masuk kedalam rongga mulut Azura, dia mengabsen setiap deretan gigi milik Azura. Dan lidah keduanya kini saling membelit dengan nafas yang memburu.
Tristan melepas sejenak ciumannya, dia tersenyum melihat Azura yang memejamkan mata karena menikmati permainannya. Tristan kembali meluma*t bibir Azura menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Perlahan ciuman Tristan turun menuju leher jenjang milik Azura, menghis*apnya memberi tanda kepemilikan disana. Sekuat tenaga Azura menahan hasratnya dengan merema*s rambut Tristan.
Tak ada penolakan dari Azura, saat tangan Tristan mulai masuk kedalam baju tidurnya tanpa melepas pagutan mereka. Tristan merasakan dua gundukan yang sangat menonjol di balik kain yang menutupnya. Dia menelan salivanya, berharap bisa mencicipinya walau sejenak.
"Bolehkah sayang?"
Entah setan apa yang merasukinya, Azura hanya mengangguk pasrah mengijinkan Tristan untuk berbuat lebih jauh. Dengan penuh hati-hati Tristan melepas pengait bra milik Azura dan kembali melum*at bibir Azura, dan Azura merasakan sensasi dingin menyentuh kulitnya saat satu tangan Tristan merem*as gundukan sintal yang masih berpenghalang. Namun Azura langsung tersadar dan merasa tindakannya kali ini salah. Dia mendorong tubuh Tristan dengan keras hingga Tristan berguling jatuh kebawah.
Azura tersipu malu dan buru-buru menutup tubuhnya dengan selimut. Sementara Tristan hanya menggelengkan kepalanya dan kembali naik keatas kasur. Dia memeluk tubuh Azura yang posisinya membelakangi tubuh Tristan.
"Maaf sayang, aku khilaf.." bisik Tristan lirih.
bersambung...
๐๐๐
Kita kasih yang manis-manis dulu sebelum yang pahit datang๐
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...