
Azura merasakan debaran jantung yang tak biasa saat Tristan dengan fasih menyebutkan nama lengkapnya, perlahan Azura mengangkat wajahnya menatap semua orang yang tengah menatapnya. Bahkan kini matanya bertemu dengan mata Tristan yang sedang tersenyum kearahnya.
Deg!
Deg!
Azura buru-buru memalingkan wajahnya menghindari tatapan dari Tristan. Tanpa sadar Azura meremat gaun yang di kenakannya karena terlalu gugup menghadapi semua kebetulan ini. Di mulai dari Tristan teman masa kecilnya, dan ternyata Tristan juga orang yang akan di jodohkan dengannya.
"Wah gak nyangka jika Azura dan Tristan sudah saling mengenal, akan mudah bagi kita melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius." ucap Opa Pramudya.
"Saya setuju Pram." kakek Andre turut menambahkan.
"Kalau saya terserah anak-anak saja." papah Jupiter menangkap raut tidak setuju dari wajah Azura. Dia tidak ingin membebani Azura dengan perjodohan ini, dari awal mereka sepakat hanya berkenalan dulu tanpa harus memaksa Azura.
"Tristan bagaimana menurutmu?" tanya Opa Pramudya.
"Saya terserah opa saja."
"Jika cewek yang mau di jodohin sama gue Azura, tentu gue gak bakal nolak. Karena sejak pertama bertemu dengannya ada rasa lain yang tumbuh di hati gue." ucap Tristan dalam hati.
Azura menatap tidak suka pada Tristan karena mendengar ucapannya, kenapa bisa secepat itu Tristan menyetujui. Meski di masa kecil mereka saling kenal, tapi Azura tidak bisa luluh begitu saja terhadap Tristan.
"Kalau Azura gimana setuju apa tidak?"
Pertanyaan dari sang kakek tidak Azura tanggapi, karena Azura terlalu sibuk dengan pemikirannya. Mamah Theolla yang duduk di sebelah Azura meraih tangan Azura untuk menyadarkannya.
"Sayang bagaimana menurutmu soal Tristan?"
"Aku..aku gak tahu mah," ucap Azura pelan, dia tertunduk tidak berani menatap semua orang yang berada di ruangan itu.
"Sudah tidak perlu memaksa, biasalah anak muda suka malu-malu tapi mau, yang penting jika mereka udah saling kenal akan mudah melanjutkan perjodohan ini."
"Saya setuju dengan kamu Pram,"
"Baiklah jangan terlalu serius, sekarang kita nikmati dulu makan malamnya!" seru Opa Pramudya.
Selanjutnya dua keluarga besar itu menyantap hidangan yang tersedia dan sesekali terselip obrolan ringan. Berbeda dengan Azura yang hanya berdiam diri sambil mengaduk-aduk makanan di hadapannya. Bahkan Tristan yang selalu mencuri pandang terhadap Azura di buat heran karena Azura lebih banyak diam dan seperti tidak menyukai pertemuan ini.
__ADS_1
Karena merasa bosan, Azura memilih pamit ke kamar mandi. Tristan tidak melewatkan kesempatan itu, dia pun beranjak dari duduknya beralasan ingin buang air padahal sebenarnya ingin mengikuti Azura.
"Lihatlah bahkan cucu-cucu kita ingin buang air secara bersamaan, mereka sangat berjodoh sekali ya." ucap Opa Pramudya menyelipkan sedikit candaan.
"Betul sekali Pram, mereka berdua sangat cocok, aku tidak sabar melihat cucu kita menikah."
"Ayah apa ini tidak terlalu buru-buru? Kita belum membahas perihal ini pada Azura." sela mamah Theolla.
"Betul yah, Azura memiliki trauma pada sebuah pernikahan kita tidak bisa memaksanya begitu saja." papah Jupiter turut menanggapi.
"Kalian berdua tenang saja, seiring berjalannya waktu Azura pasti akan menyetujui semua ini, apalagi Tristan orang yang di kenal Azura sewaktu kecil."
Namun dalam benak mamah Theolla dia bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi antara Tristan dan Azura. Entah kenapa mamah Theolla merasa jika Azura tidak menyukai pertemuan ini.
πππ
Tristan bersandar dengan tangan yang menyilang di dada, dia masih menunggu Azura yang tak kunjung keluar dari toilet perempuan.
Saat pintu terbuka, senyum Tristan langsung terbit begitu orang yang di tunggunya keluar.
Azura terkejut mendapati Tristan yang berdiri di depan pintu toilet perempuan "ngapain kamu disini?" tanya Azura tak suka.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Bicaralah!" ucap Azura masih dengan mode dinginnya.
"Menurutmu bagaimana dengan perjodohan kita ini?"
"Aku belum menyetujui, jadi kamu jangan percaya diri dulu."
"Tapi kenapa aku yakin pasti kamu akan setuju?" goda Tristan.
"Bermimpilah Tristan, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah!" Azura pergi meninggalkan Tristan yang terkejut mendengar ucapannya.
Tristan termenung menatap punggung Azura yang semakin jauh dari pandangannya.
"Apa sesulit itu kamu memaafkan aku Ra? apa kamu tidak bisa membuka hatimu untuk pria lain?"
__ADS_1
πππ
Hari beranjak malam, keluarga Tristan dan keluarga Azura sudah kembali kerumahnya masing-masing. Azura sendiri lebih banyak diam setelah selesai dengan pertemuan ini, hal itu membuat mamah Theolla penasaran dengan keadaan Azura.
"Sayang ada apa sebenarnya? apa kamu tidak menyukai Tristan, bukan kah dia orang yang selama ini selalu kamu tunggu?" tanya mamah Theolla saat dia masuk ke kamar Azura.
Azura yang bersandar pada headboard sambil memeluk bantal guling hanya terdiam mendengar ucapan mamah Theolla.
"Cerita sayang apa yang terjadi antara kamu dan Tristan?
"Aku belum bisa memaafkan dia mah, karena Tristan sudah mengingkari janjinya."
"Tristan pasti punya alasan kenapa dulu dia mengingkari janjinya, apa kamu sudah mendengar penjelasan dari Tristan?
Azura menggeleng "aku tidak butuh itu mah, bertahun-tahun aku menunggu dia tapi dia gak pernah muncul, kemana aja dia saat Denis nyakitin aku? sekarang semua sudah terlambat mah, aku sudah memilih untuk menutup pintu hati ini dari pria manapun."
"Azura kamu tidak boleh bicara seperti itu nak, mamah yakin Tristan itu pria yang baik, dia berbeda dengan Denis, Tristan pasti bisa membahagiakan kamu sayang."
"Mah please..jangan paksa aku, perjanjian di awal aku hanya datang untuk berkenalan bukan untuk melanjutkan perjodohan ini."
"Apa kamu tega nak melihat kakek kecewa, dia sangat berharap kamu bisa menikah dengan Tristan. Pikirkan kesehatan kakekmu sayang, di sisa hidupnya dia hanya ingin melihat cucu-cucunya menikah."
Azura kembali terdiam mendengar ucapan mamah Theolla, jika sudah menyangkut sang kakek Azura tidak bisa apa-apa. Tapi Azura sendiri belum siap jika kembali menghadapi pernikahan, rasa takut karena pernah batal menikah membuat Azura berpikir jika pernikahan itu merupakan suatu bencana.
Tapi Azura bersyukur orang yang di kenalkannya kali ini adalah orang yang dia kenal sewaktu kecil. Berbeda dengan pria-pria sebelumnya yang di kenalkan papah Jupiter, Azura sama sekali tidak tertarik satu pun bahkan dengan tegas Azura menolak semuanya.
"Beri aku waktu mah, meski Tristan orang yang aku kenal tapi bertahun-tahun lamanya kami terpisah jauh."
Mamah Theolla tersenyum mendengar ucapan Azura kali ini, ada sedikit harapan bagi mamah Theolla jika Azura bisa melupakan rasa takutnya karena pernah batal menikah.
"Iya sayang, mamah ngerti kamu butuh waktu, tapi mamah berharap ada kabar baik dari kamu untuk kita semua." mamah Theolla memeluk Azura, mencurahkan kasih dan sayangnya. Sebelum keluar dari kamar Azura, mamah Theolla terlebih dulu mengecup kening putri kesayangannya.
bersambung..
πππ
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπdukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasihππ...
__ADS_1