
Sang surya kini sudah kembali ke peraduannya, berganti dewi malam yang memancarkan cahaya di temani ribuan bintang yang menghiasi langit. Satu persatu karyawan yang bekerja di perusahaan papah Jupiter mulai membubarkan diri, mengistirahatkan tubuh, mengumpulkan energi untuk kembali berjibaku esok hari.
Sementara itu di ruangan papah Jupiter, terlihat Azura dan Alvero yang tengah berkumpul bersama. Meski pekerjaan mereka telah usai, namun mereka selalu menyisihkan waktu untuk berkumpul karena baik Azura maupun Alvero sudah tidak satu rumah lagi bersama kedua orangtuanya.
"Jadi orang yang mencelakai mobil Tristan sudah tertangkap pah?" Alvero membuka suara di saat ayah dan anak itu duduk dalam satu ruangan.
"Iya Al, tapi dia tetap bungkam dan tidak buka suara siapa dalang yang berada di balik semua ini."
Alvero terlihat menghela nafas mendengar ucapan papah Jupiter "Apa Tristan mengenal orang itu?"
"Dia tidak mengenalnya Al, tapi Vino pernah bekerja pada Denis selama beberapa tahun." kali ini Azura yang menjawab pertanyaan Alvero.
Alvero mengerutkan keningnya dan berpikir sesuatu "Apa mungkin Denis ada hubungannya dengan semua ini?"
"Tristan pun mencurigai Denis yang mendalangi kejahatan Vino, tapi kita tidak punya bukti untuk menangkap Denis dan menjebloskannya ke penjara."
Obrolan mereka terpangkas saat Tristan datang untuk menjemput Azura.
"Malam pah, malam Al.." Tristan lalu duduk bersebelahan dengan Azura.
"Bagaimana kasusnya apa sudah ada perkembangan Tristan?"
"Belum pah, Vino masih tetap bungkam dia memilih mendapat hukuman yang berat daripada memberitahu kami siapa orang di belakangnya."
"Apa lo tidak mencoba untuk menyelidiki Denis diam-diam? Karena bagaimana pun Denis yang kita curigai saat ini." usul Alvero.
"Gue udah pernah menyelidiki Denis tapi tak ada yang mencurigakan Al, Denis sepertinya tengah berbahagia bersama istri barunya sekarang."
"Baguslah jika dia sudah menikah lagi, dengan begitu dia tidak akan mengganggu Azura lagi."
Alvero dan papah Jupiter melanjutkan obrolannya, sementara Tristan dan Azura memilih pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan Azura menyuruh Tristan untuk menepikan mobilnya. Dia melihat sebuah gerobak yang berjualan kue dongkal. Makanan favorit mamah Theolla, dan juga makanan tradisional dari betawi.
"Kamu yakin mau beli kue itu?" Tristan agak ragu juga karena tidak biasanya Azura menginginkan kue yang terbuat dari tepung beras itu.
"Iya udah sana kamu turun beliin yang banyak!!"
"Bersih gak tuh? Nanti kalau yang jualan jorok kamu sakit perut sayang."
__ADS_1
"Ya ampuun Tristan...bersih kok, aku dulu sering beli."
"Kapan?"
"Kalau jalan sama mamah, itu kan makanan favorit mamahku."
"Jadi sekarang ceritanya kamu ngidam nih?"
"Isshh apaan sih..kelamaan!! ya udah aku beli sendiri."
"Eeh ..jangan biar aku aja!! Kamu disini duduk yang manis!!"
Tristan lalu turun dari mobil dan menghampiri penjual kue dongkal itu. Setelah selesai bertransaksi Tristan kembali membawa beberapa kotak kue dongkal.
"Wah masih anget, ini pasti enak loh." Azura makan dengan lahap sementara Tristan hanya menggelengkan kepala dan fokus dengan setirnya.
"Kamu mau coba gak Tan?"
"Gak usah."
"Yakin gak mau? Nih coba aja dulu...a...aa.." Azura menyodorkan kue itu dan Tristan tidak bisa menolak suapan Azura.
"Gimana enak gak?" tanya Azura penasaran.
"Kok lumayan sih, ini enak tahu." cebik Azura.
"Iya ini enak sayang, mau lagi donk!!" Tristan pun ketagihan dan meminta Azura untuk kembali menyuapinya. Dan jadilah kedua sejoli itu melanjutkan perjalanan sambil menyantap hangatnya kue dongkal.
๐๐๐
Setelah membersihkan tubuhnya, Tristan menghampiri Azura yang tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Berhubung waktu belum terlalu malam keduanya memutuskan untuk bersantai terlebih dahulu. Sementara Opa Pramudya memilih beristirahat ke kamar karena sedang kurang enak badan.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa Opa kerumah sakit." saran Azura karena merasa khawatir dengan kesehatan Opa Pramudya.
"Opa gak akan mau di bawa kerumah sakit, kamu gak usah khawatir tadi kan Opa sudah minum obat,di bawa istirahat juga nanti baikan kok." Tristan mencoba menenangkan kekhawatiran Azura dengan membelai rambut panjangnya.
"Kita ke kamar yuk sayang!!" ajak Tristan.
"Kamu aja sana aku belum ngantuk!!" Azura tetap fokus pada layar kaca yang sedang menayangkan sebuah berita gunung meletus.
__ADS_1
"Nonton tvnya kan bisa dikamar, biar kita bisa sekalian...ehemm..ehemm" bujuk Tristan sambil menaik turunkan alisnya.
"Isshh apa sih..kamu kan sudah dapat jatah semalam."
"Kurang sayang, semalam kan cuma main satu ronde." ujar Tristan dengan tatapan mengiba.
Azura tidak bergeming tetap fokus pada layar di depan, hingga suara bel berbunyi membuat Azura beranjak untuk membukakan pintu.
"Ada tamu kamu gak usah macam-macam!!" ancam Azura sambil berlalu pergi.
"Siapa sih malam-malam gini bertamu, ganggu aja!!!" umpat Tristan kesal, dia pun mengikuti Azura untuk melihat siapa yang datang.
Saat pintu terbuka lebar Azura dan Tristan terkejut karena yang datang ternyata Karina.
"Kamu!! ada perlu apa datang kemari?" tanya Azura ketus, dia masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Karina saat terjadi sebuah pertengkaran dirumah Tristan hingga berujung saling jambak menjambak.
"Maaf jika aku mengganggu, tapi aku harus bicara dengan kalian berdua ini penting!!" ucap Karina.
Azura dan Tristan hanya saling berpandangan, mereka melihat Karina yang begitu serius tanpa ada kebohongan sedikitpun. Tidak ada salahnya jika Azura dan Tristan mendengarkan apa yang ingin Karina bicarakan.
"Masuklah!" Azura lalu mempersilahkan Karina untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan Rin!!" ucap Tristan karena dia tidak ingin Karina berlama-lama di rumahnya.
"Ini soal Denis."
"Denis? ada apa dengannya?" tanya Azura penasaran.
Karina tiba-tiba duduk berlutut di hadapan Azura dan Tristan "Sebelumnya aku ingin minta maaf sama kalian berdua terutama sama kamu Azura, aku memang jahat aku pernah ada niat untuk merebut Tristan dari kamu. Tapi sekarang aku sadar semua itu salah, tidak seharusnya aku mengganggu pernikahan kalian berdua." ucap Karina sambil terisak.
Azura terkejut karena Karina tiba-tiba berlutut "Jangan seperti ini Rin!! duduklah!!" Azura memegang bahu Karina agar dia kembali duduk di kursi.
"Dari awal seharusnya aku mencegah Denis, tapi karena aku ingin memiliki kamu kembali maka aku menyetujui rencana Denis untuk memisahkan kalian berdua. Denis itu dendam sama kamu Tristan karena kamu sudah memutus kontrak kerjasamanya dan menikahi Azura." kembali Karina tergugu karena penyesalannya sudah berbuat jahat dan mengikuti rencana Denis.
"Tunggu-tunggu...maksud kamu gimana Rin?"
"Denislah yang menyuruh Vino untuk memutus rem mobil kalian."
bersambung...
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...