
"KAMU sudah siap, Yu?" Tanya Arshaka membenahi kemejanya.
Pagi ini mereka bersiap untuk pulang, lebih tepatnya mengantarkan Ayu pulang ke rumah. Semalam mereka menginap di kediaman Lela.
Ayu mengangguk sembari melipat kaos yang dipinjamnya dari Lela, ia hendak meletakkannya di keranjang cucian.
Lela sudah siap dengan nampan berisi teh hangat dan beberapa potongan kue rumahan. "Kalian buru-buru banget..." ucapnya sedih.
Arshaka menghampiri Lela dan membantunya mendorong kursi roda, "Iya, Ma, aku harus mengembalikan Ayu ke orang tuanya. Aku merasa berdosa membawa kabur seharian," ucapan Arshaka barusan disambut tawa geli oleh Ayu.
Tommy datang membawa alat pancingnya lagi dan segera menyomot potongan roti yang barusan dibawa oleh Lela. Dia adalah pria yang pendiam.
“Apa aku harus memanggilmu Papa sekarang?” Tanya Arshaka tiba-tiba mendekati Tommy, rupanya ia sudah mulai membuka hatinya untuk suami baru Mamanya itu.
“Aku akan senang mendengarnya, tapi tidak mau memaksa juga. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan apapun yang kamu mau…”
Lalu Arshaka tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi itu lalu menepuk-nepuk bahu Tommy menganggapnya sebagai teman sendiri.
“Ayu, kemarilah!” Panggil Lela melambaikan tangannya menyuruh Ayu untuk mendekat.
“Iya, Tante?”
“Berikan tanganmu…”
Ayu mengulurkan tangan kedepan sesuai permintaan Lela.
Lalu Lela mengeluarkan sebuah gelang dengan ornamen bunga mutiara, gelang yang sangat cantik. Ia memasangkannya pada pergelangan tangan Ayu. “Ini gelang kesukaanku saat masih muda, sangat cantik kamu pakai…”
“Ini untukku, Tante?”
“Tentu saja!”
Ayu tersenyum senang, meskipun merasa tidak pantas mendapatkan hadiah semewah ini, namun ia tidak boleh menolak pemberian seseorang, terutama jika itu dari orang tua pacarmu.
“Segeralah menikah, aku ingin datang ke pernikahan kalian nanti…” ucap Lela membalas senyuman Ayu.
“Apa Mama ingin aku menikahi Ayu?” Tanya Arshaka ikut berjongkok di depan Lela.
“Tentu saja! Segera nikahi Ayu! Mama akan senang sekali kalo kalian mengundangku dengan Tommy…”
“Kami janji akan mengundang kalian, jadi tunggu sebentar yaa…”
__ADS_1
Ayu senang mendengar Arshaka sudah baikan dengan Lela, senang juga dengan kenyataan bahwa Arshaka mau menerima Tommy sebagai Papa tirinya, walaupun masih sedikit sulit untuk Arshaka membiasakan diri.
“Aku akan mengantar Ayu dan pulang ke rumah, mungkin aku akan kesini lagi jika ada waktu…”
“Jangan memaksakan diri, Arsha. Mama sudah senang kamu kesini, mengenalkan pacarmu ke Mama.” Lela membelai rambut Arshaka, “Papamu pasti akan sangat marah nanti jika tau kamu mengunjungi Mama, kamu jaga diri baik-baik yaa…”
“Aku mengambil cuti, jadi jangan khawatir. Tentang Papa, mungkin dia akan marah. Tapi aku sudah terbiasa menghadapinya, Ma.” Ucap Arshaka diselingi tawa kecil.
Ayu tersenyum melihat keduanya.
Seusai berpamitan, Arshaka dan Ayu segera memulai perjalanannya.
...\~oOo\~...
Maya mondar-mandir memegangi keningnya yang terasa pusing akibat ulah adiknya.
Ayu sudah sampai di rumah sekitar 1 jam yang lalu, Arshaka memutuskan untuk ikut menemaninya.
Mereka duduk berdua menunggu untuk dimarahi oleh Maya.
“APA KALIAN TIDAK PUNYA OTAK?!” Teriak Maya pada akhirnya lepas.
“Punya, Mbak.” Sahut Ayu masih menunduk.
Lalu kedua, Arshaka! Namamu Arshaka kan? Kalau kamu beneran cinta sama Ayu, nikahin dia secepatnya! Aku tidak mau mendengar alasan apapun!”
Arshaka dan Ayu saling melirik.
“Aku akan menikahi Ayu, mbak…”
“Kapan?” Tantang Maya kesal.
“….”
Maya menunggu jawaban dari Arshaka namun tak keluar sepatah kata lagi dari mulutnya.
“Aku tidak mau tau, segera nikahi Ayu atau lepaskan dia…”
“Mbak!” Ayu bangkit dari tempat duduknya kesal sekaligus merasa tidak enak jika Arshaka merasa terlalu ditekan, “sebenarnya apa sih alasan mbak Maya kaya gini?”
“Mbak udah jelasin berkali-kali kan, ini buat Bapak… kita butuh dana secepatnya buat operasi Bapak biar sembuh dan lagi dia pengen lihat anaknya nikah…”
__ADS_1
“Kenapa nggak mbak Maya dulu? Kan mbak Maya juga udah punya pacar?!”
“Kita bakal nikah kok tenang aja! Mas Eka udah siapin buat tahun depan…” ucap Maya sebenarnya tidak yakin.
“Nama pacar mbak, mas Eka? Mbak nggak pernah bawa ke rumah atau kenalin ke Ibu? Di pernikahan kemarin juga nggak ada orangnya…” ucap Ayu bingung dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka.
Namun Maya buru-buru mengalihkan perhatiannya dan kembali memarahi Ayu dan Arshaka, “aku ngomong gini karna aku tau Arshaka sudah mapan. Jadi aku merestui hubungan kalian asal segera saja halalkan!”
“Baik, Mbak. Aku akan segera nikahi Ayu…”
“Maaf ya, Ka…” ucap Ayu pelan di dekat Arshaka.
Pria itu membalas senyuman Ayu dan mengangguk mengerti.
Ibu Ayu saat ini sedang tidak di rumah, ia pergi ke rumah sakit sejak pagi untuk mengunjungi Bapak.
Sudah 5 tahun terakhir ini Bapaknya masih dalam keadaan kritis dan sedang rawat inap di rumah sakit. Sesekali ia sadar dan selebihnya tertidur.
Sebelum itu Maya bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan rumah, menggantikan sosok seorang Ayah, selain karna dia anak pertama, saat itu Ayu juga masih sekolah, jadi ia masih terlalu lugu untuk tau apa yang terjadi diantara orang dewasa.
Kini waktu sudah berlalu, Maya semakin merasa ia harus bertanggung jawab atas semuanya. Menggantikan peran kepala rumah tangga dan ingin memastikan semua sudah sesuai dengan keinginannya.
“Aku akan memberikan kalian waktu selama 1 bulan!” Ucap Maya kemudian membuat sebuah keputusan.
Maya memang sangat menyebalkan bagi Ayu, sangat mengatur dan seenaknya sendiri. Namun tetap saja, disisi lain ia harus menghormati kakaknya.
“Itu bukannya terlalu cepet ya mba?” Tanya Ayu memohon keringanan.
“Kalau gitu 2 minggu!” Jawab Maya membuat adiknya semakin kesal. Ia disini untuk membuat keputusan, bukan sedang bernegosiasi.
“Baik, beri aku waktu 1 bulan, Mba!” Ucap Arshaka kemudian menyetujui tawaran sebelumnya.
“Arshaka?!”
Pria itu menoleh.
“1 bulan itu cepet banget, kamu tau sendiri kaya gimana keluarga kamu…” ucap Ayu merasa keberatan. Ia masih takut jika harus membayangkan tentang bagaimana sikap keluarga Arshaka, belum lagi hubungannya dengan Salina yang harus diselesaikan.
Waktu secepat itu tidak akan cukup untuk membuat keluarga Arshaka menyukainya.
“Kamu tenang aja, Yu, ada aku yang nemenin kamu nanti. Jangan khawatirkan keluargaku…” meskipun Arshaka selalu berusaha membuat Ayu tenang, namun Ayu masih terpikirkan saja.
__ADS_1
Ia hanya ingin setidaknya ada waktu lebih untuk membuat keluarga Arshaka bisa menyukainya, entah dengan cara apapun. Namun dengan waktu sebulan? Mungkin Arshaka dan Ayu bisa saja menikah, namun bagaimana jika keluarganya masih menentangnya?
Ayu tidak yakin apakah semua ini akan berjalan dengan lancar.