
Di sebuah ruang rapat..
Empat pria dan dua orang wanita sedang terlibat dalam obrolan yang sangat serius, mereka tengah membicarakan sebuah proyek yang baru akan mulai berjalan. Dua orang wanita yang merupakan sekretaris Alvero dan Kenzo mencatat beberapa poin-poin penting yang sedang mereka bahas, sementara Arga asisten pribadi Tristan terlihat menyimak dan sesekali memberi masukan.
Memasuki jam istirahat makan siang Alvero menghentikan rapatnya sejenak.
"Rapat kita lanjutkan setelah istirahat makan siang, Shelly tolong pesankan makan siang untuk kita berempat." ucap Alvero pada sekretarisnya yang bernama Shelly.
"Baik pak,"
"Gak perlu Al, gue sama Arga mau makan di kantin karyawan saja." tukas Tristan.
"Ya sudah biar Shelly yang bawain, kita makan di ruangan gue."
"Maksudnya gue mau makan disana Alvero, bukan di ruangan lo! Kalian mau ikut?" tanya Tristan pada Alvero dan Kenzo.
"Boleh juga tuh, ya udah kita makan disana." Kenzo menyetujui ajakan Tristan.
"Hmmm gue tahu lo mau makan disana, pasti sekalian mau ngelihat Azura kan ya." Alvero menyadari ucapannya, karena disana ada Shelly yang tidak mengetahui status Azura.
"Kalian berdua boleh keluar dulu!!" perintah Alvero pada Shelly dan Gita yang merupakan sekretaris Kenzo. Setelah dua wanita itu pergi dari ruangan rapat, kini Alvero tertawa mengejek Tristan yang bela-belain mau makan di kantin karyawan demi melihat Azura.
"Candaan lo gak lucu Al,"
"Ya udah gue gak ikut ya, gue makan di ruangan gue aja!" ucap Alvero akhirnya. Alvero terlalu malas jika harus makan di tempat yang ramai, apalagi disana banyak karyawannya.
Setelah itu tiga pria tampan yang merupakan Tristan, Kenzo dan Arga berjalan menuju kantin karyawan yang berada di lantai satu. Setibanya disana para gadis langsung heboh melihat pria-pria tampan yang jarang-jarang mau makan di kantin karyawan, padahal mereka bukan karyawan biasa tapi orang-orang penting di perusahaannya.
"Itu kan pak Kenzo, pemimpin perusahaan cabang."
"Iya kereen banget sih dia,"
"Wow itu kan direktur PT .Diamond pak Tristan sama Asistennya."
"Hooh cakep-cakep banget sih mereka,"
__ADS_1
Terdengar segelintir orang memuji ketampanan para pria yang baru memasuki kantin karyawan, setelah menemukan apa yang dia cari Tristan memilih meja yang tidak jauh dari tempat Azura makan. Setelah itu Arga mulai memesan makanan untuk mereka bertiga.
Sementara di meja Azura, Sisil menatap heran para pria yang membuat seisi kantin heboh. Pasalnya bukan hanya sekali dua kali Sisil melihat Tristan berbicara dengan Azura.
"Kamu kenal sama pak Tristan dimana Ra?"
Azura menggeleng "aku gak kenal dia," ucapnya sambil terus melanjutkan makan siangnya, tanpa memperdulikan tatapan Tristan yang terus tertuju kearahnya.
"Tapi lihatlah dia melihat terus kearah sini, kalau bukan ngelihatin kamu siapa lagi, waktu itu kan aku pernah lihat pak Tristan ngajakin kamu bicara." ucap Sisil dengan suara pelan.
"Dia waktu itu salah orang Sil, sudahlah tidak perlu di hiraukan, lebih baik kamu habiskan makan siang kamu!"
Azura kembali melanjutkan makan siangnya tanpa menghiraukan kedatangan Tristan di kantin karyawan. Sebenarnya hati Azura sedikit was-was dia takut Tristan akan menemuinya terang-terang di depan orang banyak. Tapi syukurlah Tristan hanya menumpang makan saja, meskipun sedari tadi tatapannya tak lepas dari Azura.
๐๐๐
Kenzo dan Arga di buat heran saat melihat Tristan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dia hanya menatap kearah dimana meja Azura berada, seolah-olah Azura kini mengalihkan semua perhatiannya. Sesekali Tristan tersenyum mengabaikan keberadaan Kenzo dan Arga yang duduk satu meja dengannya.
"Tuan muda silahkan makanannya nanti keburu dingin!" untuk yang kedua kalinya Arga memperingatkan bosnya, baru setelah itu Tristan menyadarinya.
"Udah dari tadi kali bro, lo sibuk amat sih mandangin Azura sampe gak sadar tuh makanan udah di depan mata." sindir Kenzo.
Tristan hanya tersenyum mendengar penuturan Kenzo, dia lalu mulai melahap makanannya tanpa memperdulikan ocehan Kenzo. Dalam hatinya Tristan ingin sekali menghampiri Azura dan menemaninya makan siang, tapi niat itu dia urungkan karena tidak ingin membuat Azura marah dan membuat teman-temannya curiga.
Azura dan Sisil selesai terlebih dahulu, mereka berdua lalu keluar dari kantin karyawan. Melihat Azura pergi, Tristan juga dengan terburu-buru menyusul Azura keluar.
"Makanan lo belum habis Tan!" tegur Kenzo saat melihat Tristan buru-buru.
"Lo aja yang habisin, gue kenyang." ucap Tristan sambil berlalu pergi, Kenzo hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tristan.
"Lo liat tuh kelakuan bos lo, demi mengejar Azura dia sampai terburu-buru bahkan makanannya pun masih tersisa banyak."
"Maklumin aja pak, namanya orang lagi jatuh cinta."
"Hahaha lo benar Ga, ya udah kita balik keruangan Alvero!" ajak Kenzo, kedua pria itu lalu keluar dari kantin karyawan.
__ADS_1
Sementara itu, Azura dan Sisil hendak memasuki lift khusus karyawan untuk sampai keruangannya. Namun seruan seseorang dari arah belakang membuat langkah mereka terhenti. Azura berdecak mendapati Tristan yang berjalan menghampirinya.
"Tunggu Ra,"
"Apa sih?"
"Ikut aku yuk!"
"Ini tuh di kantor Tristan, kamu jangan macam-macam!" bisik Azura karena takut terdengar Sisil.
"Azura kalau gitu aku duluan ya!" ucap Sisil yang langsung masuk lift karyawan, meskipun Azura tidak mengakuinya kenal dengan Tristan tapi Sisil merasa ada sesuatu di antara mereka.
Tristan lalu menarik tangan Azura untuk masuk ke lift khusus para petinggi perusahaan, Tristan tidak memperdulikan pandangan orang-orang yang menatap mereka dengan aneh. Untung saja di dalam lift itu hanya ada mereka berdua.
"Kamu gila ya Tan! gimana kalau orang-orang curiga sama aku?" sentak Azura dengan nada tinggi.
"Bukannya sebentar lagi kamu juga akan naik jabatan jadi direktur, jadi mau ketahuan sekarang atau nanti sama saja kan. Emang gak cape apa nyamar terus kayak gini?"
"Bukan urusanmu!" cebik Azura dengan tangan bersidekap di dada.
"Hahaha..kamu tuh kalau lagi cemberut kayak gini bikin gemes tahu." Tristan mencubit pipi Azura bermaksud menggodanya, tapi dengan cepat Azura menepis tangan Tristan dan terjadi aksi balas cubit-mencubit. Tristan yang ingin terus menggoda Azura, lalu menarik pinggang rampingnya hingga tubuh mereka menempel sempurna. Azura terkejut dia berusaha mendorong dada Tristan, namun percuma karena tenaga Tristan jauh lebih besar dari Azura.
"Sebentar saja Ra, aku ingin melihat wajah kamu dari dekat." ucap Tristan yang berubah dengan nada serius, Azura pun hanya pasrah dan menurut tidak berani memberontak lagi.
Tristan menelusuri wajah Azura dari hidung, pipi dan berakhir pada bibir tipisnya yang terdapat polesan lipstik berwarna peach. Tristan menelan salivanya dengan susah payah, saat bibir Azura terlihat menggoda dan ada rasa ingin mencicipinya walau hanya sebentar.
Cup
Azura membulatkan matanya, saat sapuan lembut itu mendarat di bibirnya. Awalnya hanya kecupan biasa, tapi lama-lama berubah jadi luma*tan.Azura ingin memberontak tapi tubuhnya mendadak kaku dan hanya bisa pasrah dalam permainan bibir yang di lakukan oleh Tristan.
Suara lift yang terbuka membuat Tristan menyudahi aksinya, Azura langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Tristan dan buru-buru keluar dengan perasaan yang tidak karuan.
bersambung..
๐๐๐
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...