
Suara dentingan sendok dan garfu menjadi pengiring makan malam di rumah keluarga Azura. Di tambah dengan kehadiran Tristan yang mendapat undangan istimewa dari mamah Theolla. Karena jauh dari lubuk hatinya baik mamah Theolla maupun papah Jupiter berharap Tristan akan menjadi menantunya. Kini tinggal usaha dari Tristan untuk meyakinkan Azura, karena dari pihak dua keluarga sudah memberi restu.
Azura lebih dulu selesai, lalu di susul oleh yang lainnya. Azura berinisiatif untuk membawa piring-piring kotor untuk membantu meringankan asisten rumah tangganya. Setelah itu dia membawa beberapa camilan kecil dan teh hangat untuk di hidangkannya di ruang keluarga. Sedari tadi Tristan tidak henti menatap Azura, yang nampak gesit seperti sudah terbiasa. Padahal Azura nona di rumah besar ini, tapi dia tidak malu melakukan hal-hal itu.
"Udah puas lihatin Azuranya?" suara Alvero tiba-tiba membuyarkan Tristan. Dia langsung salah tingkah karena kepergok mandangin Azura. Semua yang berada di situ langsung tersenyum melihat tingkah Tristan.
"Jadi nak Tristan ini beneran teman masa kecil Azura?" tanya mamah Theolla mengawali pembicaraan.
Tristan mengangguk "betul tante, dulu saya dan Azura sempat berteman sebelum saya pindah ke Jerman."
Obrolan mereka terhenti sejenak ketika Azura ikut bergabung duduk diantara mereka.
"Jodoh itu gak akan kemana mah, buktinya sekarang Azura dan Tristan di pertemukan kembali." ucap Alvero.
Azura yang tidak suka mendengar ucapan Alvero melotot kearahnya "maksud lo apa Al? Aku belum setuju dengan perjodohan itu?" sanggah Azura dengan tangan bersidekap di dada.
"Azura sayang, Tristan laki-laki yang tepat untuk mendampingi kamu. Bahkan kalian sudah mengenal semenjak kecil." ucap papah Jupiter.
"Benar kata papah, kamu tidak perlu mikir dua kali buat nerima Tristan. Dia pasti bisa jadi suami yang baik buat kamu." tambah mamah Theolla.
Azura hanya terdiam mendengar mamah dan papahnya memuji Tristan. Sementara kini Tristan sedang tersenyum kearahnya, menampilkan kedua lesung pipi yang menambah kadar ketampanannya. Azura buru-buru memalingkan muka, sebelum Tristan besar kepala.
"Sudah om, tante tidak perlu memaksa Azura, cewek kan biasanya gitu malu-malu tapi sebenarnya mau." ucap Tristan dengan percaya dirinya.
What? Malu-malu tapi mau, Azura langsung melotot kearah Tristan. Bisa-bisanya tuh orang punya tingkat kepercayaan yang tinggi. Azura hampir mengeluarkan suaranya, tapi Tristan buru-buru menyela.
"Benar kan Azura?"
Azura mengerutkan dahinya, pertanyaan konyol macam apa yang sedang Tristan lontarkan.
"Sayang kok malah bengong? Tristan nanya kamu tuh." mamah Theolla menyadarkan Azura.
Azura beranjak dari duduknya, menatap kearah Tristan "kita bicara di luar!"
__ADS_1
Tristan tersenyum, berpamitan pada mamah Theolla dan papah Jupiter sebelum akhirnya dia keluar mengikuti Azura.
๐๐๐
Halaman belakang menjadi tempat dimana Azura mengajak Tristan untuk mengobrol. Duduk pada sebuah bangku taman Azura menatap Tristan dengan wajah yang sinis. Seperti biasa Tristan selalu mengulas senyum meskipun Azura bersikap jutek padanya.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu di depan kedua orangtuaku?" tanya Azura to the point.
Tristan tersenyum simpul "bicara yang mana maksud kamu Ra?"
"Yang barusan."
"Oh itu, simpel aja aku hanya ingin mempertegas hubungan kita di depan kedua orangtuamu."
Azura menggeram kesal mendengar ucapan Tristan "hubungan seperti apa yang kamu maksud Tristan? Aku merasa tidak pernah menyetujui apa pun sama kamu."
Tristan menyeringai lalu mendekatkan wajahnya pada Azura "semakin kamu menolak, aku semakin tertantang untuk mendapatkan kamu Zura."
Tristan tertawa keras melihat wajah Azura yang panik, dia tidak menyangka Azura akan merespon seperti itu. Di raihnya kedua tangan Azura lalu di kecupnya dengan lembut.
"Aku bercanda Zura, mau sampai kapan kamu marah sama aku? Apa permintaan maafku tidak berarti buat kamu? Ijinkan aku untuk menjelaskan semuanya." ucap Tristan dengan sungguh-sungguh.
Azura terdiam menatap Tristan yang duduk berhadapan dengannya, apa sekarang saatnya Azura mendengarkan penjelasan Tristan. Dia tidak boleh bersikap egois, Tristan sudah menunjukan kesungguhannya beberapa minggu ini.
Azura menarik tangannya yang di genggam oleh Tristan "baiklah jelaskan kenapa kamu baru kembali sekarang?"
Tristan tersenyum senang akhirnya Azura mau mendengarkan dia berbicara. Tristan menghela nafas panjang terlebih dulu sebelum memulai ceritanya.
"Selama tiga tahun aku menjalani pengobatan mata saat di Jerman, dan di umurku yang ke-10 tahun aku baru bisa melihat. Sempat terpikir aku ingin segera kembali ke Jakarta dan bertemu denganmu Ra, tapi pada saat itu Oma ku dalam keadaan sakit. Kami sekeluarga memutuskan untuk sementara menetap di Jerman sampai Oma sembuh." Tristan menjeda ceritanya dan menatap Azura yang belum memberikan respon apapun.
"Tanpa kita duga setelah dua tahun pengobatan ternyata Oma meninggal, karena suatu hal kita tidak mungkin membawa jasad Oma untuk di kuburkan di Jakarta. Sampai akhirnya Opa merelakan Oma di kuburkan di Jerman, sejak saat itu Papi dan Mami memutuskan untuk menetap di Jerman karena ada jasad Oma yang di kuburkan di sana, sementara Opa kembali ke Jakarta untuk meneruskan kembali usahanya yang selama ini di pegang pak Damar."
"Kenapa kamu tidak ikut pulang saat Opa kembali ke Jakarta?" tanya Azura.
__ADS_1
"Saat Opa pulang ke Jakarta aku baru masuk sekolah menengah pertama, Papi dan Mami tidak memberiku ijin kembali sampai sekolah ku selesai. Begitu pun dengan Opa dia menyuruhku tetap tinggal di Jerman bersama keluargaku. Aku bisa apa Ra? saat itu aku tidak bisa melihat Papi, Mami dan adikku sedih, akhirnya aku turuti semua keinginan mereka dengan syarat setelah lulus kuliah aku akan kembali ke Jakarta."
"Apa kedua orangtuamu mengijinkan?" kini Azura berani menatap wajah Tristan.
Tristan mengangguk "mereka tentu saja mengijinkan, tapi setelah S2 ku selesai aku terpaksa harus membantu usaha papi yang saat itu tengah mengalami penurunan. Maaf Ra..aku baru kembali sekarang dan mengingkari janji kita." Tristan menunduk menyesal karena keadaan.
Azura mengusap bahu Tristan "aku mengerti Tristan, kalau pun aku jadi kamu tentu aku akan melakukan hal itu. Kelurga adalah segalanya buat kita tentu mereka harus menjadi prioritas yang utama."
Tristan tercengang mendengar ucapan Azura "tunggu..tunggu...itu artinya kamu udah maafin aku kan?"
Azura mengangguk dan tersenyum lebar "iya aku maafin kamu Tan,"
Reflek Tristan langsung memeluk Azura saking senangnya, Azura tertegun tidak tahu harus membalas pelukan Tristan atau tidak. Karena tidak mendapat balasan Tristan buru-buru melepas pelukannya.
"Sorry..sorry..aku gak sengaja Ra, kelewat seneng sih." kekeh Tristan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Azura menunduk menetralkan jantungnya yang berdebar cepat, bahkan rona merah kini sudah menghiasi pipinya. Tristan tiba-tiba mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Azura.
Azura mengerutkan dahi sedikit bingung dengan tingkah Tristan "maksudnya?"
"Kita bisa memulai hubungan ini seperti dulu lagi kan Ra?"
Azura tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan punya Tristan "ya kita bisa berteman lagi Tan seperti dulu."
"Hanya teman Ra?"
bersambung...
๐๐๐
Nah loh...Tristan gak mau kalau hanya teman, doi maunya lebih dari teman..wkwk๐ ๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1