Wedding Disaster

Wedding Disaster
Kembali ke ibu kota


__ADS_3

Pagi mulai menyingsing, suara kicau burung nampak merdu saling bersahutan dari satu dahan ke dahan yang lainnya. Rintik air hujan sisa semalam masih terlihat basah menempel pada dedaunan yang menghijau di sepanjang bukit. Hawa dingin yang terasa menusuk kulit membuat kedua sejoli enggan beranjak dari selimut tebal yang membalut tubuhnya, padahal sang surya sudah mengintip di balik awan.


Azura semakin membenamkan kepalanya pada dada bidang yang terasa hangat. Dia merasakan kenyamanan saat tangan besar itu merengkuh tubuhnya dengan posesif. Tristan hanya mengulas senyum melihat Azura yang terlelap di pelukannya. Tanpa ada niat untuk membangunkannya Tristan menyingkirkan sulur rambut yang menutupi wajah cantiknya. Dia membelai wajah Azura di mulai dari alis, mata, hidung dan beralih ke bibir tipis yang sudah menjadi candu bagi Tristan.


Cup!


Tristan melabuhkan kecupan pada puncak kepala Azura, rasanya momen langka ini tidak ingin Tristan lewatkan begitu saja. Tidur bersama, memandangi wajahnya setiap bangun tidur dan memeluknya terus sepanjang hari. Dan itu akan terjadi jika Azura sudah sah menjadi pasangan halalnya.


Azura mengerjapkan matanya saat merasakan kecupan bertubi-tubi di puncak kepalanya. Dia terlonjak kaget begitu menyadari tubuhnya berada dalam dekapan Tristan.


"Akhhhhh...." Azura refleks mendorong tubuh Tristan yang langsung terjungkal kebawah. Azura buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut. Dan mengecek seluruh pakaiannya.


"Huft...masih lengkap, aman."ucapnya terdengar lega.


"Sayang apa yang kamu lakuin? Kamu udah dua kali mendorong aku dari atas kasur?" Tristan langsung berdiri dan duduk di tepi ranjang.


"Maaf abis kamu ngagetin aku, siapa suruh tidur sambil peluk-peluk aku!"


"Loh kan semalam kamu yang suruh aku naik keatas kasur."


Kilasan kejadian semalam tiba-tiba berputar dalam benak Azura. Bagaimana mereka melewatkan malam dengan ciuman panas yang hampir saja....ahhh. Azura tidak bisa membayangkan seandainya dia terlena, mungkin pagi ini Azura dan Tristan akan menyesal karena mereka melakukan itu sebelum adanya pernikahan.


"Sudah inget apa yang terjadi semalam?" goda Tristan.


"Huh dasar mesum!" Azura buru-buru turun dari kasur dan masuk kedalam kamar mandi. Tristan hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Azura.


Baru lima menit Azura berada di kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara Azura berteriak. Sontak Tristan menghampiri pintu, dan mengetuknya dengan panik.


"Sayang apa yang terjadi?" teriak Tristan dari luar.


Ceklek!


Azura membukakan pintu masih dengan pakaian lengkapnya, dan memasang wajah cemberut.


"Ini apa?" Azura menunjuk tanda merah yang kini menghiasi lehernya. Dia menatap nyalang pada Tristan membuat Tristan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sa..sayang itu kissmark, apa semalam kamu gak ingat?"


"Hiihh...menyebalkan aku tahu ini apa, kenapa harus pake tanda ini segala. Ini kelihatan Tristan, gimana aku bisa menghilangkannya. Apa jadinya jika mamah dan papah tahu." ucap Azura kesal.


"Iya maaf sayang, kamu gak usah khawatir kamu bisa pakai foundation untuk menutupi bekasnya."


"Beneran gak kelihatan?"

__ADS_1


"Iya sayang coba aja dulu!"


"Kamu kok tahu banget ya, jangan-jangan kamu udah sering lakuin ini ya sama mantan kamu sebelumnya." selidik Azura.


Tristan buru-buru mengibaskan tangannya "belum pernah sayang, kamu yang pertama buat aku."


"Bohong!"


"Beneran sayang,"


Bruk!


Pintu kamar mandi kembali di tutup dengan keras, membuat Tristan berjengit kaget. Dia hanya tersenyum melihat wajah panik Azura gara-gara tanda merah yang dia ukir pada leher sang kekasih.


Setengah jam kemudian Azura sudah rapih dan berganti pakaian. Sementara Tristan sedang menikmati secangkir kopi hangat dari atas balkon dan menikmati pemandangan puncak di pagi hari.


"Ini cokelat hangat buat kamu sayang!"


Azura menerima segelas cokelat dari Tristan dan duduk di sampingnya "makasih."


Tristan terpana melihat Azura yang sudah tampil cantik mengenakan dress selutut di balut sebuah cardigan.


"Kamu udah rapih aja Ra, mau kemana?"


"Percuma jalanan pasti macet sekarang, kita pulang nanti siang aja ya. Mumpung kita disini, kita jalan-jalan dulu sekitaran puncak."


"Tapi gimana sama kerjaanku Tan?"


"Buat apa punya asisten Ra, khusus hari ini biar mereka yang handle pekerjaan kita. Barusan aku udah menghubungi papah kamu dan beliau juga mengijinkan kok."


"Ya sudahlah kalau gitu, sana mandi jorok amat sih kamu!" Azura mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Tristan mandi.


"Iya sayang ini aku mau mandi." sebelum berlalu Tristan terlebih dulu mencuri ciuman di pipi Azura. Dan membuat Azura berteriak kesal.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Saat hari mulai beranjak sore Tristan dan Azura baru bersiap untuk kembali ke ibu kota. Setelah seharian menghabiskakn waktu untuk bersama, kini keduanya harus kembali dengan rutinitasnya setiap hari.


"Sering-sering mampir kesini tuan, nona." ucap mang Dadang sebelum majikannya pergi meninggalkan villa.


"Pasti kami akan sering kesini jika sudah menikah nanti mang," seru Tristan. Akan berbahaya jika mereka keseringan berada di villa ini jika mereka belum menjadi pasangan halal, bisa-bisa Tristan kembali khilaf dan berbuat sesuatu yang tidak di inginkan.


"Kalau gitu kami permisi mang!"

__ADS_1


"Iya tuan, nona silahkan! Hati-hati dalam perjalanan!"


Sebelum berlalu pergi Tristan terlebih dulu memberi uang tip bagi penjaga villa tersebut. Tristan dan Azura lalu memasuki mobilnya, meninggalkan tempat yang menyimpan kenangan indah.


"Makasih sayang buat hari ini," Tristan meraih tangan Azura dan menciumnya penuh cinta. Azura hanya tersenyum mendapat perlakuan manis dari Tristan.


Sementara itu jauh di ibu kota sana, kedua asisten yang selama beberapa waktu ini terlihat dekat, tengah di sibukan oleh tugas yang di tinggalkan oleh atasannya masing-masing. Meski jam kantor sudah berakhir baik Sisil maupun Arga masih terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


Hingga hari beranjak malam, Sisil baru bisa meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena seharian menghandle pekerjaan Azura.


"Sil.." suara bariton yang memanggil namanya membuat Sisil menghentikan kegiatannya yang tengah bersiap untuk pulang.


"Arga kamu udah datang rupanya," Sisil tersenyum senang melihat Arga datang untuk menjemputnya pulang.


"Gimana apa kamu lelah Sil?" tanya Arga saat mereka mulai masuk kedalam lift.


"Jangan di tanya lagi Ga, bu Azura dan pak Tristan membuat kita harus lembur hingga malam."


"Yah maklumin saja, mereka kan lagi kasmaran."


Setelah tiba di parkiran keduanya lalu bersiap untuk masuk kedalam mobil, Arga terlebih dulu membukakan pintunya untuk Sisil. Hubungan antara Arga dan Sisil terjalin begitu saja, apalagi setelah Sisil resmi menyandang status sebagai janda keduanya lebih sering terlihat bersama seperti sepasang kekasih. Namun hingga detik ini Arga belum berani untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung.


"Kita udah sampai Sil," Arga mengusap lengan Sisil yang tertidur di dalam mobilnya.


"Maaf Ga, aku ketiduran." Sisil mengucek matanya dan benar saja ternyata mereka sudah tiba di depan rumah Sisil.


"Gak papa pasti kamu lelah banget kan,"


"Ya sudah aku masuk dulu ya, makasih udah nganterin aku pulang." Sisil bersiap meraih pintu mobil, namun Arga dengan cepat menahan lengannya.


"Ada apa?" Sisil berbalik dan mendapati wajah Arga yang sudah berada tepat di depan matanya. Nafas keduanya terdengar bersahutan dengan jantung yang berdebar cepat. Sisil memejamkan matanya saat Arga semakin memangkas jarak di antara mereka.


Cup!


Sebuah sapuan lembut Arga labuhkan di atas kening Sisil "selamat beristirahat Sil,"


"Makasih Ga," dengan muka yang memerah Sisil buru-buru turun dari mobil Arga.


bersambung..


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...

__ADS_1


__ADS_2