
Satu minggu kemudian..
Perlahan kesehatan Azura sudah membaik dan dokter sudah mengijinkannya untuk pulang kerumah. Setiap hari Azura selalu menanyakan keberadaan Denis, karena hingga detik ini mereka urung di pertemukan. Papah Jupiter sedang mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan Azura dan Denis. Seperti saat ini dengan di temani oleh Tristan, papah Jupiter mendatangi kantor Denis.
"Ada angin apa kalian mendatangi kantorku?" Denis duduk dengan pongahnya menatap Tristan dan papah Jupiter.
"Saya datang kesini meminta anda untuk datang menemui Azura."
"Hahaha..."
Denis yang sudah mengetahui kondisi Azura tertawa dengan sombongnya, karena dia merasa menang kali ini untuk memanfaatkan keadaan.
"Apa imbalannya jika saya menemui putri anda pak Jupiter?"
"Apa pun yang kamu inginkan."
"Saya mau proyek besar yang berada di Sentul menjadi milikku."
Tristan langsung menarik kerah Denis karena merasa Denis sudah kurang ajar. Namun papah Jupiter buru-buru menghalangi Tristan agar tidak membuat keributan di kantor Denis.
"Sabar Tristan. Ingat rencana awal kita."
"Lebih baik kita lupakan saja pah untuk mempertemukan Azura dengan dia."
"Ingat Tristan ini demi kesembuhan Azura."
Tristan yang merasa kesal tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah saja mengikuti rencana papah Jupiter. Sementara Denis yang sudah merasa di atas angin berbangga hati, selain rencananya yang berhasil ternyata Azura pun masih mengingat dirinya sebagai tunangannya.
"Jadi bagaimana? Jika kalian tidak setuju silahkan pergi dari kantorku!! disana pintu keluarnya!!!"
"Baik saya setuju!!"
"Pah.." Tristan menggeleng agar papah Jupiter tidak menyetujui ide gila dari Denis. Mereka bisa mencari cara lain untuk menyembuhkan Azura, bukan dengan mempertemukannya dengan Denis.
"Saya suka kerjasama ini. Baiklah secepatnya saya akan datang untuk menemui putri anda pak Jupiter."
Setelah kesepakatan terjadi Tristan dan papah Jupiter pergi meninggalkan kantor Denis.
Selama satu minggu ini Tristan memilih tinggal di rumah Opa Pramudya demi menjaga emosional Azura. Semua keluarganya sudah kembali ke Jerman karena mereka tidak bisa terlalu lama meninggalkan urusannya disana.
__ADS_1
"Mampirlah kerumah temui Azura!! Papah tahu kamu tersiksa selama ini."
"Aku takut Azura akan histeris lagi jika bertemu denganku."
"Cobalah dulu Tristan, kondisi Azura sudah sedikit membaik. Perlahan kita buat dia untuk mengingat kamu sebagai teman masa kecilnya."
"Azura akan semakin membenciku jika tahu aku ini teman masa kecilnya, karena aku pernah ingkar janji tidak datang di waktu yang tepat."
"Apa salahnya kita mencoba."
"Baiklah pah aku akan menemui Azura sekarang."
Tristan lalu menyetujui saran dari papah Jupiter. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit sampailah Tristan di kediaman papah Jupiter. Hal pertama yang dia lihat saat kembali menginjakan kakinya disana adalah Azura yang tengah duduk bersama mamah Theolla. Keduanya langsung menyambut kedatangan papah Jupiter dan juga Tristan, namun ada yang sedikit berbeda dari pandangan Azura saat kembali bertemu Tristan. Lama dia menatap pria yang dia tidak ingat sama sekali, padahal sebenarnya menempati ruang hatinya yang terdalam.
"Hai kamu apa kabar?" sapa Tristan dengan senyum yang mengembang saat kembali bertemu sang istri, setelah seminggu ini dia memilih menghindar.
Azura tidak menanggapi ucapan Tristan dan memilih mendekati papah Jupiter.
"Papah katanya janji mau bawa kak Denis? mana orangnya?" Azura terlihat celingak celinguk berharap orang yang dia tunggu akan datang.
Tristan hanya bisa menghela nafas panjang saat Azura kembali mencari Denis, bahkan sapaan dari dirinya tidak dia anggap sama sekali.
"Tunggu Tristan!!" papah Jupiter mencegah Tristan untuk tetap tinggal dan tidak menghiraukan ucapan Azura.
Papah Jupiter lalu mengajak Tristan untuk masuk kedalam ruang kerjanya. Sementara Azura dan mamah Theolla kembali melanjutkan acara mengobrol mereka yang sempat terganggu karena kedatangan Tristan dan papah Jupiter.
๐๐๐
Hari mulai beranjak malam sang rembulan pun sudah mulai terlihat memancarkan cahaya terang bagi penduduk bumi. Di atas balkon sebuah kamar Azura terlihat berdiri memandang keatas langit menatap ribuan bintang yang kebetulan malam itu sangat cerah.
"Apa aku sudah keterlaluan padanya." gumam Azura saat mengingat pertemuannya tadi sore bersama Tristan.
"Harusnya aku bisa bersikap sedikit lebih baik, karena bagaimana pun juga dia tidak jahat padaku malah dia sangat perhatian. Sebenarnya dia itu siapa ya? kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali."
Azura menatap satu bintang yang paling terang di antara bintang yang lainnya "hei bintang!! bisakah kau menjawab pertanyaanku? siapakah pria itu kenapa aku tidak bisa mengingatnya dan hanya mengingat kak Denis?"
"Kamu mau tahu siapa pria itu?" tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik punggung Azura.
"Mamah, papah?"
__ADS_1
Mamah Theolla tersenyum menatap Azura "kamu sedang apa di sini sayang?"
"Aku hanya sedang bingung saja mah sama keadaanku sekarang, aku sungguh tidak bisa mengingat sedikit pun kejadian di masa sekarang."
Mamah Theolla lalu membawa Azura untuk masuk kedalam kamar dan duduk di sebuah sofa bersama papah Jupiter.
"Pelan-pelan saja sayang, kamu pasti akan mengingatnya." ucap papah Jupiter.
"Jadi pria yang tadi sore bersama papah itu siapa? kenapa dia begitu baik terhadapku sementara aku tidak bisa mengingatnya?"
"Kamu yakin sedikit pun tidak mengingatnya?"
Azura menggeleng pelan.
"Dia itu Tristan teman masa kecilmu." kali ini mamah Theolla yang menjawab pertanyaan Azura.
"Teman masa kecil? Tristan?" Azura nampak memutar ingatannya berusaha sedikit saja mengingat Tristan.
Azura membulatkan matanya begitu dia mengingat Tristan sebagai teman dari masa kecilnya.
Papah Jupiter lalu mengeluarkan sebuah kalung milik Tristan yang dia berikan tadi sore "kalung ini yang menjadi saksi begitu dekatnya kamu dan Tristan pada masa kecil dulu."
Azura meraih kalung tersebut lalu menatapnya begitu lama "dia udah kembali dari Jerman pah?"
"Iya sayang dia sudah kembali,"
"Terlambat!! kemana saja dia dari dulu? aku menunggunya selama bertahun-tahun tapi dia tidak pernah kembali, aku sekarang udah punya kak Denis mah, pah percuma juga dia datang." Azura kini merasa kesal saat mengetahui siapa Tristan sebenarnya.
"Tidak sayang semua belum terlambat, Tristan punya alasan kenapa dia melakukan itu. Mamah berharap kamu bisa bersikap baik terhadap Tristan bagaimana pun juga kalian sangat lah dekat, tolong jangan pernah membahas Denis lagi di depan Tristan kamu harus menghargai perasaannya juga."
Azura menggeleng dan memegang kepalanya yang berdenyut nyeri "nggak mah!! untuk apa aku harus menghargai perasaannya, memang dia siapanya aku?"
"Tristan itu su..." mamah Theolla yang hampir kelepasan bicara langsung di bekap mulutnya oleh papah Jupiter.
bersambung...
๐๐๐
Ya ampuuun maafkan daku yang menghilang selama satu minggu ini, kesibukan di dunia nyata sangatlah menguras emosi dan pikiran sehingga aku tidak fokus untuk menulis๐๐ช
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...