Wedding Disaster

Wedding Disaster
Cerita dari Masa Lalu


__ADS_3

Xira melirik jam tangan. Masih pukul setengah empat sore. Tidak boleh seperti minggu lalu, Xora sudah datang setengah jam lebih awal sebelum kedatangan klien VVIP-nya; masih di tempat yang sama, restoran mewah pilihan sang klien. Kali ini Kala duduk di sebelah Xora. Ia memandangi cincin yang melingkar di jari manis Xora dengan wajah jahil. Tidak ada jawaban 'Ya' yang terucap dari mulut Xora untuk pertanyaan 'will you marry me' nya beberapa waktu lalu. Namun setelah hari yang lumayan bersejarah itu Xora selalu mengenakan cincin dari Kala kemana pun ia pergi. Itu bisa diartikan secara otomatis artinya 'YA'.


"Biasa aja bisa, nggak? Mentang-mentang cincin baru," celetuk Kala untuk ketukan jari Xora di atas meja yang berkali-kali dengan tempo yang amburadul.


"Jangan komentari cincinnya. Kubuang ke sungai juga, nih, lama-lama." Jari Xora berhenti mengetuk meja. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba tenang.


"Kukira tadi ada gempa bumi," celetuk Kala lagi untuk kaki pacarnya yang sekarang tak mau diam membuat meja mereka bergetar halus.


"Ssst ... berisik." Xora kesal. Kakinya diam lagi. Kini Xora melipat kedua lengannya ke dada. Kemudian gadis itu mencoba rileks bersandar pada sandaran kursi.


Kala menarik kursinya lebih dekat hingga sisi-sisi kursi mereka saling berdampingan. "Ada apa? Nggak biasanya kayak gini kalau mau ketemu klien?" tanya Kala dengan wajah serius. Telapak tangan kiri pria itu mendarat lembut menyentuh helaian rambut Xora.


"Nggak tahu, nih. Perasaanku tiba-tiba nggak enak. Ada apa, ya?"

__ADS_1


Kala melekatkan ujung telunjuknya ke kening. Tak lama kemudian wajahnya menjadi serius. Perhatian Xora pun langsung tersedot untuk menyimak analisa kekasihnya. Sejurus kemudian, pria itu berkata sambil mengelus dagu, "Mungkin … kamu mau mens."


Gigi geligi Xora gemerutuk. Ia kesal bukan main mendengar jawaban Kala. Dirinya mengira akan semakin tenang dengan jawaban itu. Alih-alih tenang, ia malah semakin gusar.


"Udah lah tenang aja. Jangan menilai Kania Wiratama terlalu berlebihan. Anggap semua klienmu sama rata. Jangan bikin kasta," kata Kala yang tiba-tiba bijak.


Harus diakui, kata-kata Kala barusan memang benar. Namun bukan itu yang sesungguhnya membuat Xora cemas. Bukan Kania secara langsung. Ada sesuatu yang sedang mengincarnya, tapi entah apa itu.


Sementara itu di tempat lain, Kania sedang sangat berbunga-bunga hatinya. Ia bersama calon suaminya--Tex--baru akan berangkat menuju tempat Xora.


"Bagaimana penerbanganmu, Dear?" tanya Kania manja. Perempuan itu langsung menyandarkan tubuhnya ke pelukan Tex yang sedang jetlag.


Tex menyambut Kania barusan dengan usapan lembut di kepala sekaligus rangkulan hangat pelepas rindu. "Hmmm, yah lumayan lah. Tiga belas jam dari Amsterdam," jawab Tex.

__ADS_1


Kania beringsut. Kini ia menguncupkan kedua telapak tangan menghadap Tex. "Kamu pasti capek banget, ya? Aku janji akan langsung antar kamu pulang setelah kita ketemu sama WO kita, Dear."


Tex menggapai tangan Kania dan kemudian menggenggamnya erat. "Enggak masalah, sayang. Aku senang kamu antusias menyiapkan hari bahagia kita. Jadi semua lelahku nggak akan pernah sebanding dengan itu."


Pipi Kania bersemu merah. Jika biasanya ia hanya bisa mendengar Tex memujinya melalui panggilan telepon, kini ia bisa melihat wajah Tex secara langsung, nyata dan bisa disentuh. Ujung mata Kania melirik ke arah sopirnya yang sedang fokus dengan jalanan. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Tex dan berbisik, "I miss You, Dear."


Tex menyunggingkan senyuman. Celah di antara gigi depan atasnya terlihat. Lalu pria itu balas berbisik di telinga Kania dengan kata-kata yang persis sama. Kata-kata itu telah lunas ia sebut, namun bibir Tex masih belum mau menjauh dari telinga Kania. Wangi sitrus bercampur dengan sedikit aroma mirip vanila yang Tex hidu malah memicu sesuatu yang tak biasa, feromon.


Dengan tangan kanannya, perlahan Tex menarik dagu Kania dan membawanya lebih dekat ke wajah lelaki itu. Tex terfokus pada bibir merah serupa strawberi yang siap dilumat di hadapannya.


Kemudian ….


"Mbak Kania, kita sudah sampai," ujar sopir yang selama ini tidak menyadari apa yang tuannya lakukan, atau lebih tepatnya pura-pura tidak sadar.

__ADS_1


Keduanya salah tingkah, bahkan, tak bisa disembunyikan bahwa si sopir pun turut salah tingkah. Kania langsung mengucapkan terima kasih dan turun dari mobil. Tex mengikutinya.


"Sayang, ayo cepat ke sini," bisik Kania pelan sambil menggamit lengan Tex masuk ke dalam resto. "Itu mereka." Kania menunjuk meja nomor sembilan. Tex mengikuti petunjuk arah yang baru Kania sebutkan. Yang Tex lihat adalah seorang wanita dan pria sedang mengobrol. Jantung Tex berdegup kencang. Sang pria kini mengacak rambut wanitanya, kemudian si wanita membalas dengan pukulan yang sangat pelan. Mereka berdua terlihat sangat intim. Tex bisa merasakan darahnya berdesir kencang. Ia pernah ada di posisi itu. Dengan wanita yang sama, Xora. Cerita dari masa lalunya.


__ADS_2