Wedding Disaster

Wedding Disaster
Barang Bukti


__ADS_3

MATA Arshaka masih setengah terpejam, ia segera menyalakan ponsel untuk melihat pukul berapa sekarang. Rupanya sudah pukul 9 pagi, sudah terlambat untuk ke kantor.


Tanpa permisi pintu kamar Arshaka terbuka lebar, Rudi datang dengan terburu-buru nyaris mendobrak pintu kamar. "Bangun!" Teriaknya pada Arshaka masih berusaha untuk menahan diri.


Arshaka mencoba berdiri dengan terhuyung, masih ada sisa efek mabuk semalam. Ia menegakkan badannya, berdiri setegap mungkin dan menundukkan kepala di depan Rudi.


PLAAAKK!!!


Rudi menampar pipi Arshaka dengan sangat keras, belum sempat Arshaka menatap Papa-nya itu, tamparan Rudi kembali mendarat di pipi yang sama. "Apa yang kamu pikirkan, hah?! Mabuk?"


"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Arshaka ucapkan saat ini.


"Apa yang membuatmu teledor seperti ini?! Papa sudah bilang berkali-kali padamu untuk menjaga sikap! Menjaga sikap! Apa kamu tidak mengerti?"


Arshaka kembali menundukkan kepalanya.


"Papa tidak akan mengijinkanmu untuk pergi sendirian jika masih melakukan hal bodoh seperti ini!"


"Baik, Pa..."


Rudi melihat putranya sekali lagi, ia menyadari wajahnya memerah, bukan, bukan karena tamparannya barusan. Namun matanya juga sedikit membengkak seperti habis menangis semalaman, "apa yang kamu lakukan kemarin?" Tanya Rudi penasaran, ia memegangi dagu Arshaka.


"Aku hanya bosan, jadi mabuk sejak sore..." jawab Arshaka bohong, ia mabuk semalam setelah bertengkar dengan Ayu. Tentu saja ia tidak akan mengatakan hal sebenarnya, bahwa ia telah menangisi seorang wanita semalaman dan alasan itu pula yang membuatnya mampir ke bar dan mabuk disana.


Rudi ragu, namun ia harus berusaha untuk percaya kepada Arshaka. Bahwa putranya akan menuruti perkataannya dan tidak akan melakukan hal yang dilarangnya. "Kamu tau kan hari ini akan ada rapat penting?"


Arshaka mengangguk.


"Ini kesalahan pertama kamu, akan Papa maafkan untuk saat ini. Jangan pernah mengulanginya lagi..." Peringat Rudi lalu segera pergi setelah menyuruh Arshaka bersiap ke kantor.


Setelahnya, Arshaka mengecek ponselnya namun tak ada pesan apapun disana. Untuk saat ini, ia hanya bisa memohon kepada Ayu agar ia bisa bersabar, sebentar saja. Arshaka butuh waktu untuk bisa bersamanya diwaktu yang tepat.


...\~oOo\~...


Rina mengamati temannya yang sedang gelisah itu, sedari tadi Ayu hanya memainkan sedotannya sembari melamun entah kemana.


"Jam makan siang tinggal 20 menit lagi, itu makananmu masih utuh, Yu!"


Ayu tersadar, "ah, iya..." jawabnya menatap makanan di hadapannya yang kini tidak membuatnya nafsu makan, namun Ayu tetap mengambilnya berusaha menyuap meski ia tidak ingin.


"Ini gara-gara kemarin?" Tanya Rina kemudian.


Ayu mengangguk kecil, "apa aku salah bicara? Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya, pasti sekarang dia mengira aku sangat egois ya?" Ayu meratapi ujung piring dengan sedih.


"Kamu nggak salah kok, Yu! Sekarang tinggal keputusannya dia kan?"

__ADS_1


Ayu mengangguk kembali, "aku... akan menerima apapun keputusannya."


Rina menggenggam tangan Ayu untuk menguatkan, "Cinta itu memang kadang memudahkan, tapi terkadang cinta juga membuat kita terdesak dan keadaan terdesak itu yang membuat kita menjadi bodoh..."


"Jadi, maksudnya kamu mau bilang aku bodoh gitu?"


Rina tertawa melepaskan genggamannya, "iya, sangat bodoh!"


Ayu memukul bahu Rina dengan bibirnya yang sudah manyun beberapa centimeter. Mereka tertawa bersama namun kemudian Ayu tiba-tiba penasaran. "Ngomong-ngomong, aku selalu cerita tentang diriku. Tapi aku nggak pernah tau tentang kamu, Rin..." Ayu kini ingin gantian menjahili Rina. 


"Nggak ada yang menarik di hidupku, Yu! Gitu-gitu doang..."


"Kamu udah punya pacar?"


Rina seketika bergidik ngeri mendengar kata "pacar".


"Apa jangan-jangan kamu udah menikah?!"


"HEI! Aku nggak punya pacar dan nggak akan!" Teriak Rina tidak terima.


"Kenapa?"


"Cowok itu mengerikan, aku benci sama mereka!"


"Kamu suka sama cewek, Rin?"


Seketika Ayu menjitak kepala Rina, "Nggak boleh ngomong gitu! Pamali tau! Cabut lagi omongannya ih!"


"Aw!" Rina meringis memegangi jidatnya, "gimana cabutnya? Aneh-aneh aja kamu!"


"aku emang nggak tau trauma apa yang kamu alami sampai benci sama cowok gitu, tapi nggak semua cowok itu jahat, Rin! Aku doain kamu bakal dapet cowok yang cocok buat kamu nanti!"


"Nggak! Please, makasih do'anya, tapi nggak perlu!"


Satu jitakkan lagi melayang di jidat Rina membuatnya menyerah berhadapan dengan Ayu.


...\~oOo\~...


Anthony sudah menunggu Arshaka lebih dari 30 menit yang lalu, mereka akhirnya menyelesaikan rapatnya. Pria itu sudah membuat janji untuk bertemu di atap gedung.


"Rokok?" Tawar Anthony menyalakan korek api gasnya.


Arshaka menggeleng sembari melihat gedung-gedung perkotaan dari atas.


"Ah sorry, aku lupa kamu masih dalam terapi..." ia mendekat sedikit menghirup aroma di dekat Arshaka, "tapi sepertinya kamu melanggar juga ya," Anthony tertawa sendiri.

__ADS_1


"Langsung ke intinya saja, apa yang ingin kamu katakan?"


"Wah... wah... Arshaka! Kamu udah inget sama aku nggak mau nyapa dulu? Gimana kalo kita ngobrol santai kaya jaman dulu?" Tawa Anthony membuat Arshaka kesal, ia hanya ingin mengulur-ngulur waktu agar Arshaka terbawa emosi. "Kamu habis mabuk ya?"


Arshaka melihat Anthony disana semakin percaya diri, merasa dirinya berhasil memancing Arshaka hingga membuatnya mabuk.


"Jadi, kamu berselingkuh dari Salina? Arshaka, kurang apa lagi sih calon istrimu itu? Malah pacaran sama gembel!"


Tanpa sadar tangan Arshaka sudah mengepal ingin sekali meninju orang di sampingnya ini.


"Sebenarnya, itu bukan urusanku sih, tapi makasih karna hal itu bisa menambah masalah di hidupmu," Anthony kini tersenyum licik, "gimana kalau aku nggak akan kasih tau orang lain tentang kondisimu, tapi aku kasih tau tentang calon CEO kita yang ternyata mata keranjang? Hahaha!"


Arshaka mendegus, "kamu tau apa sih?!"


"Aku tau apa? Wah... jadi kamu menantangku gitu?"


Arshaka terdiam namun sorot matanya sudah bisa membuat siapa pun akan takut melihatnya.


"Kamu pikir pacarmu akan aman? Dan kamu tanya apa yang kutau? Memang aku belum tau banyak, tapi yang jelas, aku tau dia bernama Ayu..." senyum licik Anthony kembali terlihat disana.


Arshaka merebut batang rokok milik Anthony lalu menginjaknya hingga api disana padam, "Katakan apa maumu, jangan basa-basi!"


"Mauku? Hahaha!"


Arshaka mendekat dengan percaya diri mencengkeram kerah baju Anthony hingga membuatnya harus sedikit berjinjit, Arshaka sudah sangat kesal dengan kelakuan Anthony yang berani menyebut nama Ayu dari mulutnya yang kotor itu.


"Lepaskan!" Seru Anthony kesal.


"Aku akan lepaskan setelah kamu mengatakan apa maumu!"


Anthony berusaha menatap mata Arshaka, ia tak ingin kelihatan lemah, "serahkan posisimu kepadaku!"


Arshaka melepaskan genggamannya lalu tertawa merasa orang di hadapannya kini memang sangat konyol. "Apa kamu merasa pantas mengatakan hal seperti itu?"


"Kamu meremehkanku sekarang?" Anthony masih berdiri dengan egonya, "kamu tidak ingat Ayahku dulu adalah wakil presdir di perusahaan ini dan lagi, dia adalah orang kepercayaan Pak Rudi!"


"Kalian bukan orang yang sama. Kamu dan ayahmu itu orang yang berbeda..."


"Apa maksudmu?! Kamu mau bilang kalau aku nggak bisa dipercaya gitu?"


"Kamu sendiri yang bilang..."


Anthony kembali tertawa tidak percaya, "apa kamu lupa siapa disini sekarang yang memegang kendali?" ia berusaha mengingatkan Arshaka dengan segera menunjukkan foto-foto bukti saat Arshaka bersama dengan Ayu dan tentu saja rekaman suara saat Anthony menguping pembicaraannya dengan Rudi.


Arshaka kembali diam, baginya tidak masalah jika orang lain tau tentang kondisinya. Namun, ini menyangkut Ayu. Ia hanya ingin menjaga Ayu.

__ADS_1


Kepercayaan diri Anthony kembali lagi, "kamu tau kan kalau aku sebarin rumor tentang kalian yang menderita siapa?"


__ADS_2