Wedding Disaster

Wedding Disaster
Falling in Love at the Coffee Shop


__ADS_3

Xora menggenggam gangang cangkir putih berisi latte-nya. Gadis itu berada di sini karena Tex. Darahnya berdesir kencang. Ia baru menyadari sesuatu, kenapa ia harus memenuhi ajakan Tex untuk bertemu? Padahal pertemuan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan rencana pernikahannya. Atau ada? Yang jelas, ada bagian kecil yang tercungkil dari hatinya. Sungguh tidak nyaman rasanya.


"Hai, maaf udah bikin kamu nunggu lama."


Xora menoleh ke arah asal suara yang agak berat itu. Gadis itu mendapati senyuman yang dahulu selalu menghiasi hari-harinya. Senyuman itu masih tetap sama.


"Enggak, kok. Aku juga baru datang," aku Xora. Gadis itu menarik cangkirnya lebih dekat. Kali ini kedua telapak tangannya menyelimuti permukaan cangkir yang hangat. Bibirnya tiba-tiba agak kaku. Sementara Tex menarik kursi tepat di depan Xora, dengan senyuman yang ternyata menyiksa gadis itu.


"Jadi namanu sekarang Tex? Kemana Tristan yang dulu?" tanya Xora sambil melemaskan cengkeraman tangannya di cangkir.


Tex tertawa lirih. "Yah, itu supaya lebih mudah diingat aja."


"Kalau sudah lebih mudah diingat, maka kau akan sulit dilupakan."


"Sorry?"


"Ah, enggak lupain aja."


Tex menatap Xora lekat-lekat. "Begini, Xora. Aku mau meminta maaf."


"Tidak ada yang perlu minta maaf dan tidak ada yang perlu dimaafkan, Tristan. Mungkin beginilah seharusnya takdir berbicara. Lagi pula, kita sudah punya hidup sendiri-sendiri sekarang."

__ADS_1


Keduanya hening kemudian.


"Ehm, kamu mau pesan apa?" ujar Xora kemudian.


"Kamu yang pilihkan Xora."


"Masih sama seperti dulu?"


"Selalu, Xora."


Aroma biji kopi menyeruak di penjuru ruangan. Tak lama kemudian espresso Tex datang. Pria itu tersenyum lagi ke arah Xora yang sedari tadi hanya memandang latte art burung merak di dalam cangkir.


Xora tersenyum satire. "Aku penikmat latte art." Ia mengangkat cangkir itu dan menyeruput latte. "Benar, ini sudah dingin." Gadis itu meletakkan kembali cangkirnya.


"Xora, lebih baik kamu tolak saja permintaan Kania."


"Maksudmu?"


"Sebaiknya, kalian mundur saja."


"Maaf. Aku bener-bener nggak ngerti maksudmu." Xora melipat kedua lengannya.

__ADS_1


"Aku akan mencari wedding organizer yang lain kalau kamu mau."


Wajah Xora merah padam. "Kenapa kamu berpikir seperti itu, Tristan?"


"Aku takut kamu terluka."


Terluka. Kata-kata klise itu Tex gunakan untuk apa? Sementara meninggalkanku begitu lama tanpa kabar sudah cukup membuatnya mati rasa. Omong kosong macam apa ini?


"Dengar Tristan. Aku tidak apa-apa. Aku akan mengurus acara pernikahan kalian, hingga akhir. Aku professional. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan aku," urai Xora panjang lebar. "Lagi pula, aku juga sudah bertunangan dengan Kala. Cerita kita yang dulu sudah berlalu lama. Kamu jangan khawatir."


"Kala ... oh ya ... dia."


"Iya, dia."


"Aku tak perlu khawatir. Bodohnya aku ...."


Xora tertawa renyah. "Iya Tristan. Kamu nggak perlu khawatir. Aku rasa kita sekarang sudah bahagia sendiri-sendiri. Kamu ada Kania dan aku bersama Kala. Di mana letak kesalahannya? Kamu enggak perlu minta maaf. Kita tidak perlu bertemu diam-diam di sini." Xora berhenti bicara sesaat setelah sebuah lagu berganti menjadi lagu Falling in Love at the Coffee Shop milik Landon Pigg. Keduanya bergeming sambil mendengarkan lagu itu melantun manja di telinga.


"Ah sial. Biar aku suruh mereka mengganti lagunya." Xora berjingkat dari tempat duduk. Dengan cepat Tex meraik lengan kanan Xora.


"Tidak apa-apa Xora. Bukan kah dulu kita berdua menyukai lagu ini? Biarkan saja dulu sebentar."

__ADS_1


__ADS_2