
"AYU, hari ini bukannya kamu libur? Kenapa masih ke kafe?" Tanya Farhan saat melihat Ayu masuk kedainya, pria itu memang sangat rajin berkunjung ke kafenya setiap hari. Berbeda dari karyawan lain yang memiliki jadwal hari libur, Farhan memilih untuk masuk setiap hari dan hanya pulang lebih awal dari pada yang lain.
"Aku lagi bosan aja, Han, dan lagi ditempatku gerah banget, disini ada AC nya..." keluh Ayu sedikit tertawa, namun sejujurnya alasannya jelas bukan itu. Ia hanya ingin menghindari kesendirian, ia tidak ingin berlarut-larut memikirkan kebodohannya. "Biar aku bantu!" Lanjutnya lagi hendak mengambil kain lap yang Farhan pegang.
Namun sebelum Ayu mendapatkannya, Farhan sudah duluan menghalangi tangan Ayu. "Temani aku saja kalo bosan, biar aku yang bersihin..."
Ayu hanya menatap Farhan menurut, baginya Farhan memanglah sehabat terbaik. Namun terkadang ia penasaran kenapa Farhan belum juga punya pacar hingga saat ini.
"Farhan?" Panggil Ayu tiba-tiba.
"Ya?"
"Jujur deh, kamu suka sama cowok ya?"
Farhan lantas terpingkal-pingkal mendengarnya, apa itu barusan? Ia tidak habis pikir kenapa otak Ayu mendadak tercetus opini tersebut. "Kenapa emangnya?"
"Aku nggak pernah aja denger kamu cerita soal cewek yang kamu suka..."
Pria itu hanya tersenyum sedikit melirik Ayu penuh arti meskipun gadis yang ada di hadapannya ini masih tidak mengerti juga. Farhan tidak ingin memaksa Ayu juga, baginya, berada disisi Ayu seperti ini saja sudah sangat menyenangkan. Namun, terbesit pikiran jika mungkin suatu saat nanti Farhan mungkin bisa menyatakan perasaannya, di waktu yang tepat.
Ia tidak ingin terburu-buru dan membuat Ayu lari darinya.
"Aku belum aja cerita ke kamu..." jawab Farhan kemudian.
Ayu segera memperbaiki posisi duduknya, ia lebih memperhatikan Farhan menunggunya untuk mengatakan siapa wanita itu, namun pria yang ditunggu untuk bicara malah tertawa-tawa saja. "Belum? Berarti sudah ada. Siapa? Ditungguin nih..."
"Rahasia!"
"Ih kasih tau dong!"
"Nanti... Nanti kalau sudah waktunya kukasih tau, oke?"
"Janji ya! Awas kalau bohong..."
Farhan selalu tersenyum bagaimana pun keadaannya, setelah obrolan kecil mereka yang singkat Farhan pamit untuk membantu mengantar pesanan, sedangkan Ayu kini sendirian lagi menunggu di kafe.
Ia segera membuka ponsel saat tiba-tiba terdengar suara notifikasi disana. Ini, seperti badai yang datang di saat gempa bumi. Baru saja ia ingin melupakan seseorang yang membuatnya merasa bodoh, namun tiba-tiba nama "Arshaka" muncul disana. Pria itu mengirimkan sebuah pesan melalui InstaToon-nya.
Sejenak Ayu ragu-ragu apakah ia akan membukanya sekarang?
__ADS_1
Masa bodoh, Ayu sangat penasaran sekarang, ia kemudian membukanya.
"Ini kamu Ayu?" Begitulah awal mula pesan itu sampai disini. Jemari Ayu menjadi kaku, tak tahu harus menjawab apa. Hanya terdengar seperti pertanyaan retorik yang tidak perlu dijelaskan untuk mendapatkan jawabannya, sudah jelas ini Ayu.
Lalu Ayu memutuskan untuk mengabaikan pesan tersebut, membiarkannya mengambang di udara tanpa jawaban.
...\~oOo\~...
Arshaka mengetuk-ngetuk layar ponsel sedari tadi seperti sedang menunggu sesuatu, kakinya tak bisa diam ia hentakkan, sesekali membuka layar utama di ponselnya lalu menutupnya kembali. Belum ada jawaban, batin Arshaka.
"Arshaka! Mana kartu kredit yang Mami kasih, balikin sekarang juga!" Kinan datang menghampiri Arshaka, ia sangat marah mengetahui bahwa pria itu telah membohonginya.
"Arshaka harus pulang, Mi..."
PLAAKKK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Arshaka, "Mami harus bilang apa sama Papa-mu?! Kamu bilang mau pakai kartu kredit itu buat makan dan jalan-jalan sama Salina? Tapi kamu malah beli tiket pesawat dan mau pulang ke Indonesia?"
Arshaka menghela napas dengan berat, ia hanya tidak kuat jika harus menahan perasaanya. Ia sangat-sangat ingin bertemu dengan Ayu, namun jelas alasan itu ia sembunyikan jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Kasih ke Mami sekarang juga!" Perintah Kinan sekali lagi dengan menodongkan tangannya lalu segera merampasnya dengan paksa dari saku celana putranya itu. "Jangan sekali-kali kamu berbuat bodoh, dengar!" Peringat Kinan kemudian saat sudah mendapatkan kartu kredit itu di tangannya.
"AARGGHHH!" Teriaknya membanting salah satu vas keramik disana. Ia terduduk, ingin menangis jika bisa. Bukan hanya ujung bibirnya saja yang kini berdarah akibat tamparan Kinan barusan, namun juga tangannya kini tergores keramik yang pecah.
Kinan mengunci kamar hotelnya Arshaka, bahkan ia menyuruh dua bodyguard untuk menjaganya. Selain itu ia tidak membolehkan Salina meminjamkan uang sepeserpun dan untuk hukumannya, Kinan akan menyita ponsel milik Arshaka nanti jam 12 malam.
Saat ini, ia hanya berharap mendapatkan kabar dari Ayu, walaupun hanya satu pesan saja.
...\~oOo\~...
Di meja makan, mereka semua sudah berkumpul. Rudi, Papa Arshaka sudah datang di Singapura, Kinan sengaja menyuruh semua orang untuk tutup mulut tentang kejadian tadi. Ia tidak mau dimarahi Rudi dan dianggap tidak pecus dalam mendidik anak.
Semua makan dengan tenang, bahkan Rudi tidak basa-basi untuk menanyai kabar anaknya. Kinan pun berlagak semua baik-baik saja. Sedangkan Arshaka masih sibuk menatap layar ponselnya, berharap ada pesan yang ditungu-tunggu datang.
Seketika itu Rudi membanting sendok dan garpunya ke tengah-tengah meja makan, membuat semua terbelalak kaget. "Apa kamu bisa makan dengan tenang?!" Tanya Rudi menatap Arshaka, ia tidak suka dengan suara hentakan kaki Arshaka yang terdengar seperti ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Maaf..." Ucap Arshaka mengantongi kembali ponselnya.
"Dia cuman lagi butuh hiburan aja..." ucap Kinan mencoba untuk menutupi, sedangkan Arshaka hanya diam. "Sini, Sayang..." lanjut Kinan mengulurkan tangannya ke arah Arshaka.
__ADS_1
"Apa?"
"HP kamu, sekarang waktunya makan bukan mainan HP..." jawab Kinan masih dengan nada yang lembut agar Rudi tidak curiga.
Tanpa menjawab Arshaka hanya memberikan isyarat bahwa dia sudah tidak memegang ponselnya dan kini memegang sendok serta garpu. Ia masih kesal saja, gara-gara Kinan ia tidak bisa ke bandara dan harus melewatkan jadwal pesawatnya.
"Biar Mami yang pegang..." Kinan masih ngotot karna khawatir Arshaka akan berbuat hal aneh lagi.
Kini gantian Arshaka yang melemparkan sendok dan garpunya, "Bukannya Mami bilang akan menyita HP-ku nanti malam pukul 12?" Arshaka sudah tidak tahan lagi.
Rudi menggebrak meja dengan keras, "Apa kita tidak bisa sekali saja makan dengan tenang?!"
Kinan menghela napas sembari meletakkan peralatan makannya, "aku sudah tidak nafsu makan..."
Salina pun terpaksa ikut meletakkan alat makannya, mereka semua saling terdiam. Tidak tahu harus memulai dari mana.
"Aku pesan tiket pesawat untuk pulang..." ucap Arshaka membuka suara.
"Arshaka!" Teriak Kinan kesal, ia sama sekali tidak ingin membahasnya sekarang namun Arshaka malah mengatakannya terang-terangan.
"Aku membohongi Mami dan meminta kartu kreditnya untuk memesan tiket pesawat..."
"Pergi ke kamarmu sekarang!" Perintah Rudi sudah tidak tahan lagi.
Lalu Arshaka berdiri pasrah, "terima kasih makan malamnya!" sekali lagi ia melihat ponselnya disana, masih tidak ada apapun. Ia mencoba mengirim pesan kepada Ayu sekali lagi bertulisakan, "Apa Kabar?"
Memang benar adanya, cinta akan membuat buta? Atau... membuat orang menjadi lebih berani?
Sebelum Arshaka memasuki kamarnya, Kinan buru-buru menyusulnya dan merebut ponsel tersebut dari tangan Arshaka. "Ponsel ini Mami pegang sekarang!" ucapnya sedikit mengancam kemudian segera pergi lagi menemui Rudi yang ingin bicara empat mata dengannya.
Seperti sudah diambang keputusasaan. Ayu sudah melupakannya, batin Arshaka.
...\~oOo\~...
Ayu menatap dinding kamarnya, masih berusaha memejamkan mata tapi belum juga bisa. Seketika itu ponselnya berbunyi mengagetkannya. Satu pesan dari Arshaka lagi, bertuliskan, "Apa kabar?"
Diam-diam Ayu tersenyum namun juga ragu apakah pantas jika ia membalas pesan tersebut? Satu detik... dua detik... ia memikirkan untuk menjawabnya, lalu Ayu mengetikkan sesuatu disana.
"Baik, kamu apa kabar disana?"
__ADS_1
Namun sayangnya pertanyaan itu menggantung hingga beberapa hari tanpa jawaban, sejak saat itu, itulah yang menjadi pesan terakhir mereka.