Wedding Disaster

Wedding Disaster
Rahasia Kecil


__ADS_3

MOBIL mesin Arshaka kini sudah memanas, ia siap untuk berangkat kembali ke Jakarta.


“Kamu akan kembali kan, Ayu?” Tanya Arshaka menyentuh pelipis gadis itu dengan lembut.


Ayu tersenyum mengiyakan.


“Kabari aku saat kamu sudah sampai di Jakarta,” ucap Arshaka sembari kini mencium pangkal kepala Ayu.


Ia pergi terlebih dahulu meninggalkan Ayu di desa. Mulai hari ini, akan banyak hal yang akan mereka persiapkan. Hanya satu bulan. Setidaknya, mereka harus bekerja lebih keras lagi agar semua rencana mereka berjalan dengan lancar.


Seiring Arshaka pergi, Ayu masih melihat mobilnya hingga menghilang dari pangkal matanya. Gadis itu segera memasuki rumah, mencari sesuatu disana.


“Nyari apa, Yu?” Tanya Maya sibuk dengan tumpukan baju yang akan dia lipat.


“Roti sama buah yang kemarin baru beli sama Arshaka…”


“Udah mbak taruh di dapur, mau dipakai apa?”


“Aku mau ke tempat mas Bima…”


“Ngapain?” Tanya Maya was-was, ia takut kalau Ayu berbuat hal aneh lagi yang akan menyinggung keluarga Bima atau menimbulkan omongan-omongan tidak enak lainnya.


“Aku mau minta maaf…” ucap Ayu merasa bersalah.


Ia memang senang pernikahannya batal dengan Bima, namun ini dua kali dengan orang yang sama. Ayu merasa dirinya harus meminta maaf secara langsung.


Ayu segera menaruh beberapa potong buah dan roti pada keranjang rotan yang cantik. Ia sudah mempersiapkan diri dan melangkahkan kaki untuk pergi ke tempat Bima.


Lokasi kediaman keluarga Bima memang agak jauh dari sini, namun masih bisa dijangkau dengan jalan kaki, sepanjang jalan Ayu hanya memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan. Namun selebihnya, ia sudah pasrah jika tidak dimaafkan.


Di tengah jalan, tak sengaja ia mendengar seseorang menyebut namanya.


“Ayu yang mau nikah sama Bima itu ya?” Ucap seorang Ibu-ibu berdaster dengan anak kecil berusia 5 tahun dalam dekapannya.


“Iya, malah dibawa kabur sama cowok lain! Merasa dirinya paling cantik aja…” jawab Ibu-ibu di depannya.


“Yah dia memang cantik sih, Jeng! Nggak kaget, lagipula saya denger-denger juga dia cuman dijodohin sama si Maya…” sahut Ibu lainnya.


“Begitulah, Jeng! Kalau keluarga udah kepepet utang…” Kata Ibu yang membawa anaknya itu diselingi tawa.


Namun kalimatnya barusan membuat Ayu seketika tertegun, apa maksudnya? Hutang?


Ayu sangat penasaran hingga ia memberanikan diri mendekati sekelompok Ibu-ibu itu dan hendak menanyakannya secara langsung.


Beberapa di antaranya kaget karna tau ada Ayu tiba-tiba menghampirinya dan segera menutup mulut berpura-pura tidak pernah terjadi hal apapun.


“Eh ada Ayu…” sambut salah satu Ibu penggosip dengan riang.


“Permisi, maksud Anda tadi ngomong hutang apa ya?”


Ibu-ibu itu gelagapan, bingung mau mengatakan apa, “ah itu… anu… memangnya Ayu nggak tau ya?”

__ADS_1


“Bisa kasih tau saya?”


“Kami sih cuman denger-denger yaaa…” Ibu-ibu itu memulai lagi tanpa segan, “KATANYA, Maya itu punya hutang sama Bima, makanya kalian di jodohkan…”


Ayu mendegus seperti tidak percaya, karna yang ia tahu selama ini, Maya menjodohkannya karena ia ingin membiayai biaya rumah sakit Bapaknya dan selain itu Bapaknya juga ingin melihat putrinya menikah. Sedangkan Maya sendiri tidak bisa menikahi Bima karena dia sudah punya pacar.


“Kalian mendengar gosip itu dari mana?” Tantang Ayu ingin membuktikan bahwa itu tidak benar.


“Banyak kok yang bilang, kalau tidak percaya tanya saja sama mbak-mu sendiri!”


Tidak mungkinkan? Begitu pikir Ayu. Kalau memang Maya memiliki hutang kepada Bima, untuk apa uang itu? Kemana uang itu?


Ayu bergegas berpamitan singkat dan melanjutkan perjalanannya. Ia harus menanyai Bima, berharap banyak bahwa apa yang di dengarnya barusan adalah kebohongan.


Sesampainya disana, pembantu yang bekerja pada keluarga Bima sempat menolaknya, katanya itu perintah orang tua Bima. Bahwa seluruh keluarga Ayu tidak diterima untuk berkunjung kemari.


“Saya cuman mau minta maaf secara langsung…” kata Ayu memohon namun pembantu itu tetap memaksanya pergi.


Beberapa lama mereka berdebat, datanglah Bima dari belakang dengan mobilnya.


“Ayu?” Panggilnya membuka kaca mobil.


“Mas Bima!”


“Ada apa kemari?”


Ayu merasa sangat bersalah, ia mengangkat keranjang buahnya sembari berkata, “aku mau minta maaf, Mas…”


Bima tersenyum melihat Ayu, tak ada ekspresi marah disana, kemudian ia menyuruh pembantu itu mempersilahkan Ayu untuk masuk.


“Mas, aku mau minta maaf sebesar-besarnya. Sebenernya aku mau ketemu sama orang tua mas Bima juga, aku merasa bersalah banget…”


Bima tertawa, “nggak apa-apa, nanti kusampain ke mereka aja…”


“Maaf banget, Mas.”


“Kalau dibilang kecewa sih ya kecewa, Yu…” ucap Bima kemudian tanpa ditanya, “tapi kalau sedih enggak terlalu kok, jadi nggak usah khawatir.”


Ayu terdiam masih tidak tahu harus berkata apa.


“Jadi, aku dengar dari Maya kamu bakal nikah sama cowok yang bawa lari kamu kemarin ya?”


“Ah… itu… i-iya, Mas.” Jawab Ayu gelagapan.


“Semoga lancar ya…”


“Mas Bima nggak marah?”


Bima kemudian melihat mata Ayu disana yang sedang kebingungan, “mungkin orang tuaku marah, Yu. Sangat marah. Tapi kalau mas sendiri, enggak. Tenang aja…”


Ayu ragu-ragu sejenak apakah perkataannya benar, namun jika dilihat lagi, Bima memang tidak memperlihatkan emosi apapun disana.

__ADS_1


“Mas…” panggil Ayu ingin bertanya sesuatu.


Bima hanya menoleh memperhatikan Ayu.


“Sebenarnya, saat perjalanan kemari, aku denger sesuatu yang aneh dari tetangga sebelah…”


“Apa?”


“Apa bener mbak Maya punya hutang sama mas Bima?”


Raut wajah Bima mendadak berubah, ia berusaha memalingkan pandangannya namun tetap saja, Ayu menangkap sebuah kebenaran disana. Bima tidak bisa lari dari pertanyaan gadis di hadapannya ini.


“Jadi bener, Mas?”


“Ayu, mas nggak tau boleh cerita ini apa enggak sama kamu…” ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Aku pengen denger, Mas!”


Bima kemudian menghela napas berat memulai ceritanya, “iya bener, sebenernya Maya punya hutang pribadi sama mas dan tanpa sengaja ternyata orang tua kita jodohin Mas sama Maya… Tentu saja aku sama Maya nggak bisa bareng-bareng karna kita udah temenan lama.


Terus Maya saranin aku buat nikah sama kamu, adiknya.


Selain itu, karna aku tau Maya udah punya pacar.


Waktu kita gagal nikah yang pertama kali, nggak sengaja orang tua tau kalo ternyata Maya punya hutang sama Mas, sejak saat itu orang tua jadi nuntut lebih biar pernikahan kita jadi dilaksanakan. Mungkin itu juga alasan Maya selalu nuntut kamu.


Dan alasan juga kenapa orang tuaku marah banget sekarang…”


Ayu terdiam masih memikirkan, setengahnya tidak percaya kenapa Maya tega berbuat demikian. Lalu untuk apa Maya membohonginya? Menutup-nutupi hutangnya dari keluarga dengan kedok ingin bertanggung jawab atas keluarganya.


“Orang tuaku bilang, Maya harus bertanggung jawab untuk mengembalikan citra keluarga yang sekarang malah jadi omongan tetangga. Ibuku ngasih dia waktu 1 bulan buat lunasin semua hutang-hutang-nya. Kalau enggak bisa lunasin, kamu tau apa yang bakal mereka lakuin?”


Ayu membelalakan matanya.


“Mereka akan menikahkan paksa kita. Enggak peduli walaupun kamu udah punya pasangan…”


Lalu Ayu terbatuk mendengar kalimat barusan. Dia tidak salah dengar, rupanya Maya masih sama saja seperti dulu, seenaknya sendiri. Jadi, apa ini juga alasan dia memberi waktu Ayu dan Arshaka selama sebulan?


Dan alasan lain dari Maya merestui hubungan mereka adalah karna ia tahu bahwa Arshaka berasal dari keluarga yang mampu. Apakah Maya akan memanfaatkannya juga seperti ia menggunakan Bima demi keserakahannya?


Ayu kini tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Bagaimana ia akan menceritakan ini semua kepada Arshaka. Aib keluarganya.


Bagaimana juga ia akan merubah Maya dengan sifatnya yang seperti ini?


“Apa mas Bima tau mba Maya pinjem uang mas buat apa?” Tanya Ayu masih penasaran.


Bima menggeleng, “enggak, tapi sejauh yang kutau, ini ada hubungannya sama pacarnya Maya…”


“Kenapa?”


“Mas nggak tau jelasnya, Yu. Cuman pernah tau sekali kalo Maya minjem uangku buat pacarnya…”

__ADS_1


Pacarnya. Rupanya semua ini berakar dari sana, pikir Ayu.


Lalu ia bergegas memberi salam dan sekali lagi meminta maaf kepada Bima lalu berpamitan pergi. Ayu harus menyelesaikan ini terlebih dahulu!


__ADS_2