
"KEMARILAH!" Ajak Arshaka merentangkan tangannya, mengajak Ayu berjalan bersama.
Ayu menyambut telapak tangan Arshaka disana.
"Sudah siap?" Tanya Arshaka memastikan Ayu sudah nyaman duduk di dalam mobilnya. Setelah ia mendapatkan anggukan dari Ayu, Arshaka berkata lagi, "aku akan mengajakmu ke suatu tempat..."
"Kemana?" Ayu mengencangkan sabuk pengaman.
"Suatu tempat yang ingin kudatangi dari dulu, sebelum hari kecelakaan waktu itu aku ingin ke tempat ini..." lalu Arshaka tersenyum lembut pada Ayu.
Ia menginjak pedal gas dan sesekali mencuri pandang kearah Ayu, tangan Arshaka diam-diam berjalan pelan menyentuh punggung tangan Ayu dan menggenggamnya.
Perjalanan yang panjang namun menyenangkan. Ayu membuka kaca jendela, ia menikmati hembusan angin yang menerpa. “Aku tidak akan berani pulang ke rumah…” ucapnya dengan terkikik.
“Maaf ya…”
Ayu menoleh, meminta penjelasan atas permintaan maafnya barusan.
“Maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa kemarin, maaf karena membuatmu seperti ini…”
Ayu mendegus, “aku tidak berharap banyak padamu…”
“Jangan berkata seperti itu.”
“Apa?” Ayu menautkan alisnya.
“Tidak berharap padaku? Aku kesal setiap kali kamu mengatakan kalimat itu…” Arshaka kembali menyentuh jemari Ayu, merasakan hangatnya dalam genggaman tangannya, “aku ingin kamu berharap padaku…”
Ayu memalingkan wajahnya, kembali menatap jalan yang panjang, ia ingin tersenyum dan berkata bahwa ia pun ingin berharap hubungan mereka baik-baik saja. Namun rasanya sulit.
Mungkin sekarang ia bisa bersama Arshaka. Tertawa seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi, saling menggenggam tangan seolah tidak akan ada yang memisahkan. Tapi bagaimana dengan keluarganya nanti? Bagaimana dengan dirinya sendiri?
Ayu perlahan memejamkan matanya, rasanya sangat lelah hari ini.
Hingga akhirnya waktu berlalu dan Ayu sedikit membuka matanya kembali, ia melihat mata Arshaka yang sedang mengamatinya dengan senyuman manis. “Kamu sudah bangun?”
“Eemm…” Ayu mengerang beberapa kali mengedipkan mata, saat melihat keluar jendela rupanya sudah malam. Entah sudah berapa lama ia tertidur. “Apa kita sudah sampai?”
Arshaka mengangguk, membelai rambut Ayu.
“Kenapa nggak bangunin aku?”
“Aku lihat kamu nyenyak banget tidurnya. Nggak tega buat bangunin kamu…”
Ayu memperbaiki posisi duduknya. Ia tidak yakin sekarang berada dimana, tempat ini sangat jauh dari desanya.
Dan lagi, ia masih mengenakan gaun pengantinnya.
“Apa kamu nunggu lama tadi?” Tanya Ayu merasa tidak enak jika harus membuat Arshaka menunggu, setengahnya ia malu jika sedari tadi pria itu melihatnya tidur. Bagaimana jika tidurnya aneh? Bagaimana jika ia tadi mengorok, Ayu cepat-cepat menghilangkan pikiran itu.
__ADS_1
“Enggak kok, cuman 30 menit…”
“30 menit kamu nungguin aku bangun?! Ah, Arshaka kamu!!!” Ayu sangat malu, pipinya kini memerah, dirinya tidak melakukan hal aneh kan saat tidur?
Arshaka tertawa puas menggoda Ayu, terlebih lagi saat gadis itu berusaha menyembunyikan wajah malunya.
Pria itu mendekat ke tubuh Ayu, “sebentar…” ucapnya.
“Ada apa?” Ayu tertegun karena sekarang tiba-tiba tubuh Arshaka mendekat padanya.
Ada apa sih pria ini, kenapa dia sangat tampan, jika dilihat dari dekat begini senyum Arshaka sangatlah manis.
Tidak tahu apa yang dipikirkan Ayu, namun ia memejamkan matanya.
Ia merasakan hembusan napas Arshaka semakin mendekat kearahnya. Menunggu sesuatu namun tidak ada apapun yang terjadi, Ayu kembali membuka matanya.
“Kamu ngapain nutup mata?” Tanya Arshaka jahil.
Ayu tersipu kembali namun kesal karena Arshaka membuatnya mengharapkan sesuatu. “E-enggak… enggak apa-apa…”
Arshaka membantu Ayu melepaskan sabuk pengamannya. Hanya membantu melepaskan sabuk pengaman. Ayu sedikit kecewa.
“Sabuk pengamannya agak sulit dilepas, jadi aku mau bantuin…” alibinya untuk mengganggu Ayu.
“Oh…” jawab Ayu terlanjur kesal merasa tertipu.
Arshaka tidak tahan menahan senyumnya.
“Nggak apa-apa,”
Ayu mendegus memalingkan wajahnya, ia melihat keluar jendela.
“Ayu?” Panggil Arshaka pelan.
Ayu menoleh dan ia dapati wajah Arshaka yang sedang memandangnya lembut, pria itu kini mendekat kearahnya. Tidak bisa menahan perasaan ingin memiliki Ayu.
Bibir Arshaka seketika mengecup bibir Ayu, kini gadis itu melepaskan perasaan kesalnya, mereka memejamkan kedua matanya.
Jemari Arshaka perlahan menyentuh tengkuk leher Ayu yang halus, sedangkan Ayu menempelkan tangannya pada dada Arshaka. Ia baru tahu jika pria ini memiliki dada yang sangat keras, tubuhnya… hangat.
Meskipun masih berbalut kain, namun Ayu dapat merasakan otot di dalamnya.
Ayu segera melepaskan ciuman itu dan menggantinya dengan kecupan di pipi. Arshaka juga mencium kening Ayu. “Apa kita mau turun sekarang?” Tanyanya.
Arshaka tampak kecewa, “um? Sekarang?” Jelas sekali jika pria di hadapannya ini masih ingin melakukan sesuatu namun Ayu malah mengakhirinya dengan cepat.
Ayu masih menatap Arshaka.
“Sekarang banget?” Tanya Arshaka kembali lagi, ia mencodongkan tubuhnya ke arah Ayu dengan manja.
__ADS_1
“Iya,” jawab Ayu tertawa melihat sikap Arshaka yang seperti bayi minta perhatian begini.
“Ck…” Arshaka manyun sembari melepaskan sabuk pengamannya.
Ayu melotot ke arah Arshaka berusaha membalas menjahilinya, “kamu kenapa kesel?”
“Enggak, aku nggak kesel…” ucapnya sambil manyun tidak mau menatap Ayu.
“Enggak?”
“Enggak.”
Ayu menarik tangan Arshaka dan mengecup bibirnya sekali lagi, “enggak kesel kan?”
Arshaka kemudian tersenyum senang dan memeluk tubuh Ayu kembali. Ia mencium bibir Ayu lagi dan lagi. Rasanya ia tidak ingin keluar mobil malam ini.
Tok…tok…tok…
Seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Ayu menahan tawanya saat melihat Arshaka mendegus kesal kepada siapapun yang mengganggunya itu.
Arshaka menghela napas berat dan membuka kaca mobil dengan cepat, “ada apa?!”
“Ada mobil truk di belakang yang mau lewat, bisa menyingkir kesana?” Bapak itu menunduk meminta Arshaka untuk menepikan mobilnya ke ujung.
Arshaka melihat sekitar untuk memastikan lalu mengangguk setuju, “baik, saya parkirkan disana!” Ucapnya kemudian kembali menyalakan mesin.
Disela-sela ia menepikan mobilnya, Arshaka bergumam kesal kepada bapak-bapak tersebut yang menganggunya.
“Kamu ngomong apa?” Tanya Ayu bingung.
“Ah enggak, bukan apa-apa kok, tunggu sebentar…” Arshaka lalu segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Ayu.
Ia mengulurkan tangan mengajak Ayu berjalan bersama, mereka melangkah ke arah jalan setapak.
Sekarang pukul 20:00 tapi rasanya disini sudah seperti tengah malam, sangat gelap. Hanya ada suara angin dan jangkrik, atau bahkan samar-samar terdengar suara burung hantu.
Di samping kiri dan kanan mulai banyak pohon-pohon, mereka semakin masuk ke dalam desa yang di kelilingi oleh hutan.
Tempat ini lebih pelosok lagi dibandingkan rumah Ayu, tempat ini lebih seperti tempat pengasingan.
Arshaka kemudian menghentikan langkah kakinya, ia menarik napas mempersiapkan diri.
Di depan sana, ada sebuah rumah tua yang masih terawat, di depannya banyak tanaman dan bunga-bunga yang cantik. Ayu mengira bahwa rumah itu sebenarnya bisa dihuni oleh satu keluarga lengkap, namun sepertinya rumah yang ini sangat sepi.
“Kita sudah sampai…” ucap Arshaka.
“Ini rumah siapa?”
__ADS_1
“Kita akan berkunjung ke rumah Ibu kandungku…”