Wedding Disaster

Wedding Disaster
Gara-gara kissmark


__ADS_3

"Sayang makan malam dulu yuk!" usapan halus mamah Theolla yang membangunkan tidurnya, membuat Azura langsung membuka matanya.


"Ini jam berapa mah?"


"Udah jam 8 malam sayang, papah juga udah nunggu di bawah."


"Ya udah mah nanti aku nyusul!"


"Bener ya, jangan kelamaan!"


Setelah mamah Theolla berlalu, Azura beranjak untuk mencuci mukanya. Azura dan Tristan tiba di Jakarta sekitar pukul 6 sore, setelah Tristan mengantarnya pulang dan setelah Azura membersihkan seluruh tubuhnya karena kelelahan Azura langsung tertidur.


Suara denting sendok dan garfu menjadi pengiring makan malam keluarga papah Jupiter. Di meja makan hanya ada mamah Theolla dan Azura, mines Alvero yang masih berbulan madu dengan Diandra.


"Alvero kapan pulang mah?" tanya Azura di sela suapan makannya.


"Katanya besok mereka akan kembali ke Jakarta."


"Apa mereka akan langsung pulang kerumah baru mereka?"


"Sepertinya tidak, terlebih dulu Al dan Diandra akan pulang kerumah Diandra untuk membereskan barang-barangnya, lalu setelah itu mereka akan pulang kesini." tutur mamah Theolla menjelaskan.


"Liburan kamu sama Tristan gimana nak? Apa menyenangkan?" kali ini giliran papah Jupiter yang ingin mengetahui seputar liburan dadakan Azura dan Tristan saat di puncak.


"Ya begitu deh pah, gak ada rencana apa pun malah terjebak disana gara-gara hujan deras."


"Gak papa sayang, hiburan sekali-kali biar kamu gak jenuh kerja terus." ucap papah Jupiter.


Tiba-tiba fokus papah Jupiter tertuju pada leher jenjang Azura yang terekspos sempurna. Azura melupakan suatu hal dia hanya mengikat rambutnya asal tanpa menutupi tanda cinta milik Tristan. Pria paruh baya itu hanya tersenyum, melirik mamah Theolla yang menatapnya heran.


"Ada apa?" tanya mamah Theolla tanpa suara. Azura yang fokus dengan makanannya tidak menyadari tatapan papah Jupiter.


Papah Jupiter menyentuh lehernya sendiri, memberi kode pada mamah Theolla dengan matanya agar melihat Azura. Setelah tahu maksudnya mamah Theolla baru mengerti dan tersenyum kearah papah Jupiter.


"Mamah sama papah kenapa sih senyum-senyum begitu?" Azura mulai menyadari gelagat aneh dari kedua orang tuanya.


"Apa saat kamu menginap di Villa ada kecoa yang menggigit kamu nak?" goda papah Jupiter.


"Kecoa apa sih pah, ya mana ada. Orang tempatnya aja bersih mana ada kecoa berkeliaran."


"Berarti itu kecoanya kepala gede pah," kekeh mamah Theolla. Yang langsung mendapat gelak tawa dari papah Jupiter.


"Mah sepertinya calon menantu kita sudah tidak sabar untuk segera menikah dengan Azura,"

__ADS_1


"Iya..sebaiknya papah sama pak Pram segera mencari tanggal baik untuk pernikahan Azura dan Tristan."


"Pasti mah secepatnya kita nikahkan mereka berdua, daripada nanti mereka kebablasan kita yang repot."


Azura semakin bingung mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Kenapa dari kecoa mereka jadi membahas pernikahannya dengan Tristan.


"Tunggu sebenarnya ini ada apa mah, pah? Kenapa kalian tiba-tiba ingin mempercepat pernikahanku dengan Tristan?" tanya Azura heran. Dia menatap mamah Theolla dan papah Jupiter bergantian.


"Jadi saat di Villa kamu beneran gak di gigit sama kecoa?"


Azura menggeleng heran "gak ada kecoa kok mah."


"Nah berarti tanda merah di leher kamu jika bukan kecoa yang gigit pasti Tristan tuh yang gigit." goda mamah Theolla sambil tersenyum penuh arti.


APA? Leher?tanda merah?


Azura bergumam dalam hatinya dan baru menyadari perkataan dari kedua orangtuanya. Refleks dia langsung menyentuh tanda merah yang di tinggalkan Tristan, dan Azura baru menyadari dia belum menutupinya sehabis mandi tadi.


Dengan langkah seribu, Azura langsung pergi meninggalkan meja makan. Dia tidak memperdulikan ucapan mamah Theolla dan papah Jupiter yang terus saja menggoda dirinya. Azura terlalu malu karena ketahuan oleh kedua orangtuanya. Bahkan kini mereka berencana mempercepat pernikahan Azura dan Tristan.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Dikantor jam makan siang,


Azura masih bersidekap dengan tampang cemberutnya. Tristan berulang kali membujuk Azura agar mau berbicara padanya. Tapi Azura masih tetap pada mode diamnya dan tidak memperdulikan ocehan Tristan.


Hening. Azura masih tidak ingin membuka suaranya.


"Sayang kalau kamu masih diam saja, aku kembali ke kantorku. Kita batalkan saja makan siang ini." ancam Tristan, dia hampir saja berdiri dari duduknya, tapi Azura langsung menahan lengan Tristan.


"Aku semalam ketahuan sama mamah dan papah," akunya jujur.


"Ketahuan apa sayang?"


"Ya ini.." Azura menunjuk lehernya yang terdapat tanda merah, yang sudah tertutup foundation.


"Lalu?"


"Gara-gara ini mereka mau mempercepat pernikahan kita."


"Ya itu bagus sayang, aku juga udah gak sabar buat milikin kamu seutuhnya."


Azura langsung memukul Tristan begitu mendengar ucapannya "kamu sama aja kayak mamah dan papah." cebiknya kesal

__ADS_1


"Loh menikah sekarang apa nanti itu sama aja, kamu pasti bakal jadi istri aku sayang."


"Tapi tidak dalam waktu dekat Tristan, aku belum siap. Aku masih takut untuk menikah."


Tristan langsung meraih tangan Azura dan menggenggamnya erat "lihat baik-baik mata aku, apa aku terlihat sama dengan mantan kamu sebelumnya?"


Azura menggeleng cepat.


"Nah aku gak mungkin seperti mantan kamu sebelumnya, dan aku gak akan main-main dengan pernikahan ini. Jadi percayalah sama aku, aku bisa membahagiakan kamu saat kita sudah menikah nanti."


"Tapi..."


"Ssst...jangan mikirin apapun dulu!" Tristan buru-buru menempelkan telunjuknya di atas bibir Azura. Keduanya saling menatap satu sama lain, Tristan menyusuri bibir Azura dengan telunjuknya dan...


Cup!


Tanpa membuang kesempatan Tristan mendaratkan bibirnya di atas bibir Azura. Dia menahan tengkuk Azura untuk memperdalam ciumannya. Perlahan ciuman itu berubah menjadi luma*tan dan sesap*an, tak ada penolakan dari Azura saat lidah Tristan mulai mengeksplor seluruh rongga mulutnya, keduanya saling berbelit lidah dan bertukar cairan saliva.


Saat sedang asyik menikmati ciumannya tiba-tiba pintu ruangan Azura di ketuk dari luar. Buru-buru Azura dan Tristan menjauhkan tubuhnya dengan wajah yang tegang.


Tok!


Tok!


Tok!


"Maaf bu ini makan siangnya!" suara Sisil terdengar dari luar.


"Masuk Sil!"


Sisil membuka pintu dan melangkah masuk kedalam, dia lalu menyimpan paperbag berisi makanan yang dia beli di restoran depan.


"Makasih ya Sil," ujar Tristan.


"Iya pak sama-sama, saya pamit undur diri dulu."


Setelah Sisil keluar Tristan menarik pinggang Azura untuk mendekat kearahnya.


"Tristan jangan mulai lagi!" ancam Azura penuh penekanan.


"Itu yang tadi hidangan pembuka makan siang kita, nanti kita lanjut lagi sebagai hidangan penutupnya." bisik Tristan di telinga Azura.


bersambung...

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_2