Wedding Disaster

Wedding Disaster
Bulan madu 1


__ADS_3

Sarapan pagi itu terasa sepi karena hanya ada papah Jupiter dan mamah Theolla yang berada di meja makan. Satu jam sudah berlalu, tapi kedua sejoli yang tengah mereguk manisnya madu bercinta itu tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sehingga papah Jupiter dan mamah Theolla memutuskan untuk sarapan terlebih dulu tanpa menunggu anak dan menantunya.


"Suruh si bibi aja untuk antar sarapannya keatas mah," ujar papah Jupiter mengingat hari mulai beranjak siang namun Azura dan Tristan belum terlihat batang hidungnya.


"Nanti mereka sarapan di bawah kok pah, katanya lagi nanggung."


Papah Jupiter mengerutkan keningnya "nanggung? Maksud mamah nanggung bikinin kita cucu?"


Mamah Theolla tergelak mendengar ucapan papah Jupiter "papah ini pikirannya kenapa bisa kesitu, maksud mamah tuh mereka nanggung lagi pake baju."


"Papah sih berharap mereka cepat-cepat bikinin kita cucu mah, secara Alvero sama Diandra malah memutuskan untuk menunda kehamilannya."


"Iya pah, mamah juga maunya gitu tapi itu sudah menjadi keputusan Alvero sama Diandra. Mudah-mudahan Azura sama Tristan tidak menundanya ya pah."


Obrolan kedua orang paruh baya itu terhenti tatkala melihat Azura dan Tristan turun dari atas tangga.


"Pagi mah, pah.."


"Pagi juga sayang.."


Azura dan Tristan lalu duduk bersebelahan di sofa ruang keluarga,


"Mamah sama papah gak sarapan?"


"Kita udah selesai dari tadi sayang, kalian sarapan saja dulu hari sudah mulai beranjak siang."


Azura dan Tristan lalu beranjak menuju meja makan mengambil beberapa menu makanan untuk mengisi perut mereka yang kelaparan, karena sudah melakukan olahraga pagi di kamar mandi. Keduanya makan dengan lahap mengisi kembali energi mereka yang sudah terkuras habis.


Setelah selesai dengan sarapan paginya, Azura dan Tristan kembali bergabung bersama mamah Theolla dan papah Jupiter.


"Kamu gak ke kantor Tristan?"


"Aku cuti pah, Azura juga kan baru sembuh jadi kita berencana untuk liburan bareng." ujar Tristan, dia tersenyum kearah Azura lalu merangkul pundaknya penuh perasaan.


"Bagus dong papah setuju, sudah seharusnya kalian menghabiskan waktu berdua untuk berbulan madu."


"Mamah juga setuju, jadi kalian mau bulan madu kemana?"


Azura tersenyum melihat kedua orangtuanya begitu antusias dengan rencana bulan madu dadakannya "gak jauh-jauh kok mah, pah kita bulan madunya ke Villa Opa saja yang ada di puncak."

__ADS_1


"Serius? Mamah pikir kalian mau lanjutkan acara bulan madunya ke Lombok."


"Azura gak mau mah, dia masih takut untuk bepergian jauh apalagi orang yang mencelakai kita pun belum tertangkap sampai sekarang." ucap Tristan menjelaskan.


"Iya benar papah setuju sama rencana kalian, lebih baik kalian tidak usah bepergian jauh sebelum pelakunya itu tertangkap."


Azura dan Tristan bernafas lega karena kedua orangtuanya setuju dengan rencana mereka.


"Jadi kapan kalian akan berangkat ke puncak?"


"Siang nanti mah, pah."


"Secepat itu?" tanya mamah Theolla dan papah Jupiter bebarengan.


"Iya mah, pah.."


"Baguslah lebih cepat lebih baik kalau gitu secepatnya buatkan kita berdua cucu ya nak,"


Mendengar ucapan papah Jupiter Azura sedikit merona, karena dari semalam mereka memang sudah berusaha keras.


"Siap pah, aku sama Azura pasti akan kasih cucu yang banyak buat mamah dan papah." ujar Tristan membuat mamah Theolla dan papah Jupiter tergelak, sementara Azura semakin menunduk malu.


"Ya udah pah, aku pamit ke kamar ya untuk berkemas."


Azura memilih masuk kembali ke kamar di temani mamah Theolla, sementara Tristan melanjutkan obrolannnya dengan papah Jupiter.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Senja yang memerah di ufuk barat mulai terlihat pertanda sore mulai tiba saat Azura dan Tristan sampai di Villa milik Opa Pramudya. Kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh dua orang paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan Villa, dia adalah mang Dadang dan istrinya bi Siti.


"Selamat sore tuan, dan nona muda selamat datang kembali di Villa ini." sapa mang Dadang ramah.


"Selamat sore juga mang, bi.."


"Selamat atas pernikahan tuan dan nona maaf mamang sama bibi tidak sempat hadir ke Jakarta."


Tristan dan Azura mengulas senyum mendengar ucapan dia orang paruh baya ini.


"Gak papa mang, bi..kita maklumin kok, doanya saja ya mudah-mudahan pernikahan kita langgeng hingga maut yang memisahkan."

__ADS_1


"Amiiin..." ucap dua orang paruh baya tersebut.


"Ya sudah barang-barangnya biar di bawakan mamang sama bibi saja, tuan sama nona silahkan beristirahat terlebih dahulu!!"


Azura dan Tristan membiarkan mang Dadang dan bi Siti yang membawa barang-barangnya, sementara mereka berlalu ke taman belakang beristirahat di sebuah gazebo yang berada di Villa itu.


"Sejuknyaaaa..." Azura merentangkan tangannya menikmati hawa sejuk yang jarang dia dapatkan di ibu kota.


Tristan tersenyum melihat tingkah Azura "kamu suka sayang?"


"Tentu saja, siapapun pasti akan suka jika berada di sini."


Grep!


Tristan tiba-tiba memeluk tubuh Azura dari belakang "karena disini hawanya sangat dingin, aku akan menghangatkanmu setiap saat sayang." bisik Tristan membuat Azura sedikit meremang.


"Ish...apa sih jangan ngaco," dengan sekuat tenaga Azura mencoba melepas pelukan Tristan namun karena tenaganya lebih besar pelukan itu tidak bisa mudah terlepas.


"Tristan lepaskan!! kita masih berada di luar, gimana jika mang Dadang dan bi Siti melihatnya."


"Gak papa sayang, mereka pasti mengerti kita ini kan pengantin baru." ucap Tristan dengan bibir yang terus menyapu area leher jenjang milik Azura.


"Ahh....geli..."


Tristan tidak perduli dengan rengekan Azura, dia terus saja bermain-main di area leher Azura mengendusnya, menghi*sap dan menciuminya hingga turun menuju tulang selangka milik Azura yang sedikit terbuka.


"Hentikan Tristan!!"


"Aku menginginkanmu sayang..!"


"Tapi ini masih sore.."


"Aku tak peduli." buru-buru Tristan membopong tubuh Azura ala bridal style, membuat Azura memekik karena kaget. Azura langsung mengalungkan lengannya pada leher Tristan dan pasrah saja saat Tristan melum*at bibir Azura sepanjang jalan menuju kamar mereka.


Mang Dadang dan Bi Siti yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum melihat keromantisan dari majikannya.


bersambung...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


...*Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπŸ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih***πŸ™πŸ˜**...


__ADS_2