
Suara brankar yang di dorong menggema di lorong sebuah rumah sakit swasta yang berada di daerah Ibu kota. Ketiga korban kecelakaan lalu lintas tersebut langsung di bawa ke sebuah Instalasi Gawat Darurat untuk di berikan penanganan pertama. Mobil yang di duga mengalami rem blong, membuat supir yang membawa mobil tersebut menabrakan mobilnya pada pembatas jalan. Sehingga terjadi kecelakaan tunggal yang membawa dua penumpang dan satu orang supir.
Mamah Theolla tergugu di dalam pelukan papah Jupiter. Bagaimana tidak putri tersayangnya dan juga menantunya kini sedang terbaring lemah di IGD. Selain mamah Theolla dan papah Jupiter ada Alvero dan juga Diandra yang masih duduk menunggu. Keluarga Tristan pun semua sudah hadir disana, menunggu kabar dari anak dan menantunya.
"Mamah bilang apa pah, harusnya Azura sama Tristan tidak berangkat hari ini." ucap mamah Theolla masih berlinang air mata.
Papah Jupiter hanya bisa mengelus punggung mamah Theolla, menenangkannya.
"Sudahlah mah, musibah ini kita harus menyikapinya dengan bijaksana, papah juga tidak ingin mereka celaka seperti ini."
"Ya ampuun nak..kenapa nasibmu selalu tidak baik, dulu pernikahan kamu gagal dan sekarang setelah menikah kamu mengalami kecelakaan."
"Mah kita berdoa semoga Azura sama Tristan baik-baik saja, kita tidak bisa terus-terusan menyalahkan takdir." Alvero ikut bersuara setelah dari tadi bungkam dan hanya menyimak obrolan kedua orangtuanya.
Setelah menunggu hampir satu jam pintu ruangan IGD pun terbuka, dokter yang menangani kecelakaan tersebut keluar dan tersenyum pada semua anggota keluarga Azura dan Tristan.
"Bagaimana keadaan anak-anak kami dok?" tanya papah Jupiter dengan raut wajah yang tegang.
"Saya sudah menangani ketiganya, tidak ada yang perlu di khawatirkan untuk pasien atas nama Tristan dan Rustam keadaannya sudah stabil sebentar lagi mereka pasti akan sadar. Mereka berdua nanti akan di pindahkan ke ruang perawatan, namun untuk pasien bernama Azura..."
"Anak saya kenapa dokter?" tanya mamah Theolla begitu cemas.
Dokter Pras yang kebetulan menangani keadaan Azura terlihat menghela nafasnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya "Putri bapak dan ibu mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya, secepatnya kami akan mengambil tindakan operasi untuk menghindari hal yang tidak di inginkan."
"Ya alloh pah.." mamah Theolla meraung di pelukan papah Jupiter mengingat nasib putri tersayangnya.
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya dok."
"Baik pak malam ini juga kita akan melakukan operasi pada putri bapak. Untuk pasien bernama Tristan dan Rustam bisa di tengok setelah di pindahkan keruang perawatan."
"Silahkan pak untuk mengurus administrasinya terlebih dahulu." ucap suster yang berdiri di samping dokter Pras.
"Biar saya yang mengurus administrasinya," ucap Anggara mengingat putranya Tristan sudah akan di pindahkan keruang perawatan.
Setelah dokter Pras berlalu semua yang berada disitu kembali duduk di ruang tunggu. Mamah Theolla masih menangis di pelukan papah Jupiter sementara Alvero dan Diandra terdiam dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
๐๐๐
Sepuluh menit kemudian Tristan sudah di pindahkan keruang perawatan VVIP. Raisa, Anggara, Clarisa dan Opa Pramudya terlihat duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut. Mereka masih menunggu Tristan sadar dari pengaruh obat, dokter mengatakan Tristan bisa sadar dalam waktu setengah jam lagi.
"Permisi tuan.." Damar masuk menghampiri Opa Pramudya. Setelah kecelakaan yang menimpa Tristan, Opa Pramudya langsung menyuruh asisten kepercayaannya untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Tristan.
"Apa sudah ada kabar?"
Damar mengangguk dan langsung menyampaikan informasi yang dia dapat.
"Seperti perkiraan kita tuan, mobil yang membawa tuan muda dan nona Azura sudah di sabotase."
Anggara, Raisa dan Clarisa tampak terkejut mendengar ucapan Damar.
"Sabotase? Maksudnya bagaimana pak? Jadi kecelakaan ini adalah di sengaja?" tanya Raisa penasaran.
"Benar nyonya ada yang sengaja membuat rem mobil tuan muda tidak berfungsi, sehingga mengakibatkan kecelakaan itu terjadi."
"Bagaimana mungkin? Apa Tristan memiliki musuh sehingga ada orang yang berniat mencelakainya?"
Opa Pramudya nampak terdiam dengan pikirannya sendiri. Dia sedang mengingat-ngingat apakah mungkin Tristan memiliki musuh di luar sana atau bisa jadi saingan bisnisnya.
"Apa kamu sudah periksa cctv di sekitar area rumah Azura?"
"Sudah tuan, Cctv di area parkir mobil kebetulan rusak, hanya ada pria bertopi yang gerak geriknya mencurigan masuk ke area taman belakang." ucap Damar menjelaskan.
"Pasti orang itu dengan sengaja merusak cctv di area parkir mobil!!" Anggara nampak geram dengan rahang yang mengeras, dia terlihat mengepalkan tangannya karena menahan kemarahan.
"Kamu tenang saja Anggara, Ayah pasti akan menemukan siapa dalang di balik kecelakaan Tristan." Opa Pramudya mencoba menenangkan Anggara.
"Azura..Azura..." Tristan tersadar dan orang pertama yang dia cari adalah Azura.
Raisa dan Clarisa langsung bangkit menghampiri ranjang Tristan. Di ikuti Anggara, Opa Pramudya dan juga Damar.
"Sayang kamu sudah sadar nak, dimana yang sakit biar mamah panggilkan dokter ya."
__ADS_1
Tristan menggeleng lemah "Azura mah...aku mau Azura."
"Kamu baru sadar nak, biar di periksa dokter dulu ya."
Dokter Pras yang baru memasuki ruangan Tristan langsung memeriksa keadaan Tristan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Sejauh ini perkembangannya sudah cukup bagus, tinggal memulihkan beberapa luka di bagian lengan dan dahinya. Di bawa Istirahat dulu saja selama beberapa hari untuk menunggu keadaannya stabil."
Mendengar penjelasan dokter Pras, semua keluarga Tristan terlihat lega mereka mengucap syukur karena keadaan Tristan tidak separah Azura.
"Azura...bagaimana keadaan Azura?" tanya Tristan dengan menatap anggota keluarganya berharap segera menemukan jawaban mengenai keadaan istri tercintanya.
Opa Pramudya, Anggara, Raisa dan Clarisa hanya saling menatap mendengar pertanyaan Tristan. Satu pun dari mereka tak ada yang berani untuk memberitahukan keadaan Azura yang sebenarnya.
"Jawab mah!!"
"Sayang kamu baru saja sadar, nanti ya kita bicarakan mengenai keadaan Azura."
"Aku maunya sekarang mah bukan nanti!! Azura itu istriku dan aku berhak tahu bagaimana keadaan dia."
"Dokter tolong katakan padaku bagaimana keadaan istriku?" tidak mendapat jawaban dari anggota keluarganya, Tristan langsung bertanya pada dokter Pras.
"Baiklah saya akan ceritakan mengenai istri anda pak, tapi saya harap anda bisa tenang dan..."
"Cepat katakan dokter!!" ujar Tristan tak sabaran.
"Istri anda akan menjalani operasi malam ini karena terjadi benturan keras di kepalanya."
"APA???"
bersambung...
๐๐๐
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan anda sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...