
Begitu pintu terbuka lebar Karina melihat Denis tengah menunduk dan terdiam diatas sofa, ruangannya begitu berantakan dengan barang-barang yang berserakan di lantai.
"Waw..apa sudah terjadi gempa bumi di ruangan ini?" Karina melenggang masuk , duduk bersebelahan dengan Denis. Satu kakinya dia biarkan melipat keatas menampilkan paha mulusnya yang terekspos sempurna.
Denis hanya menatap Karina sekilas dan kembali tertegun, tidak memperdulikan ucapan dari adik sepupunya.
"Hey...sudahlah!! muka tampanmu gak pantas di tekuk seperti itu!!"
"Mau apa lo kesini?" tanya Denis ketus. Dia merasa kedatangan Karina tidak tepat waktu.
"Aku merindukan abang sepupuku yang tampan ini, apa tidak boleh?"
"Berhenti bercanda Karina!! Gue sedang tidak ingin di ganggu!!"
"Apa gara-gara kedatangan Tristan mood lo jadi buruk?"
Denis menoleh dengan cepat mendengar Karina menyebut nama Tristan.
"Lo kenal sama Tristan?"
Karina tersenyum dan mengangguk "sangat kenal bahkan dulu kami sangat dekat."
Denis begitu tertarik mendengar ucapan Karina, dia membenarkan posisi duduknya dan menatap sang adik sepupu dengan penasaran.
"Coba jelaskan maksudnya dekat seperti apa?"
"Tristan itu teman kuliah gue dulu waktu di Jerman, bahkan kita sempat dekat selama beberapa bulan."
"Deket? Maksudnya lo pernah pacaran sama dia?"
Karina mengangguk,"hmmm...gue pacaran sama Tristan selama 9 bulan, setelah lulus kuliah gue pulang ke Indonesia dan hubungan kita bubar begitu saja, semuanya salah gue sih yang gak ngasih kepastian sama dia. Ya lo tahu kan sepulang gue dari Jerman, gue malah pacaran sama anaknya pejabat tapi tetap saja hubungan gue putus di tengah jalan."
"Terus?"
"Beberapa waktu yang lalu gue ketemu lagi sama Tristan, tapi sayang dia sudah bertunangan jadi gue gak ada harapan lagi buat balikan sama dia."
"Menarik." ucap Denis akhirnya.
__ADS_1
Karina mengernyit heran mendengar ucapan Denis "Apanya yang menarik?"
"Hubungan lo sama Tristan. Sama seperti hubungan gue sama Azura dulu."
"APA?? Jadi Azura mantan lo?"
"Iya dulu gue hampir menikah sama Azura, tapi sehari menjelang pernikahan gue batalin karena gue lebih memilih kembali sama Olivia. Dan akhirnya Olivia pun meninggalkan gue ke luar negeri demi karirnya sebagai model."
"Gilaa!! Lo lelaki bren*gsek yang pernah gue temui," Karina menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan kelakuan kakak sepupunya.
"Hahaha...bren*gsek gini juga gue saudara lo Rin."
"Lalu apa yang membuat Tristan marah sama lo, sampai dia memutus kontrak kerjasama dengan perusahaan ini?"
"Karena gue ingin kembali sama Azura,"
"Tapi kan Azura udah tunangan sama Tristan."
"Ya gue tahu, sebelum mereka menikah apa salahnya gue berjuang. Emang lo gak kepikiran buat kembali sama Tristan? Mungkin kita bisa kerjasama buat memisahkan mereka berdua?"
"Lo tenang aja serahin semuanya sama gue, jika gue bisa kembali sama Azura, maka lo juga bisa kembali sama Tristan." ucap Denis dengan tersenyum licik.
๐๐๐
Malam itu keseruan nampak terlihat dirumah keluarga papah Jupiter, pasalnya mereka tengah menyambut kepulangan Alvero dan Diandra yang baru pulang berbulan madu. Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan yang di hadiri kerabat terdekat saja. Selain menyambut kepulangan Alvero, mereka juga tengah membicarakan mengenai pernikahan Tristan dan Azura yang akan di percepat. Kekhawatirannya karena Denis sering mengganggu Azura, membuat seluruh keluarga sepakat untuk mempercepat pernikahan Azura dan Tristan.
"Jadi semua setuju ya Azura dan Tristan akan menikah dalam waktu satu bulan lagi, untuk mempersiapkan segala sesuatunya semoga waktunya cukup." ujar Opa Pramudya yang langsung di setujui oleh seluruh anggota Azura.
Azura hanya pasrah mendengar keputusan dari semua keluarganya, toh ini juga demi kebaikan dirinya. Semakin cepat menikah, itu lebih bagus dengan begitu Denis tidak akan berani untuk mengganggu dirinya lagi.
"Kedua calon mempelai kalian siap ya?" tanya papah Jupiter.
"Saya siap sekali om. Bahkan sudah siap lahir dan bathin." jawab Tristan penuh percaya diri. Semua langsung tertawa mendengar ucapan Tristan.
"Azura gimana?" kali ini giliran Opa Pramudya yang melemparkan pertanyaan pada Azura.
Azura yang sedari tadi tidak banyak bicara hanya mengangguk pasrah, kalau pun dia menolak akan percuma karena keputusan yang di buat sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat.
__ADS_1
"Kok lemes banget sih sayang, kamu gak suka nikah sama aku?" Tristan menatap Azura penuh keheranan, ada apa gerangan dengan calon istrinya ini?
Azura menggeleng cepat, dia tersenyum sewajar mungkin. Azura hanya takut jika kembali menghadapi pernikahan, rasa trauma yang dulu memang masih ada dan itu membuat Azura berpikir kemana-mana. Seolah tahu dengan apa yang di pikirkan sang kekasih hati, Tristan meraih tangan Azura, menciumnya penuh perasaan.
"Kamu jangan khawatir aku tidaklah sama dengan mantan kamu yang dulu." di usapnya pipi Azura dengan lembut, membuat Azura menunduk dan tersipu malu.
"Woy...bisa gak jangan pamer kemesraan di depan kita?" celetuk Kenzo yang memang turut hadir di antara keluarga Azura.
"Syirik aja lo Ken!! sana makanya lo buruan lamar Agnes biar gak gigit jari melihat kita nikah."
Kenzo hanya mencibir mendengar ucapan Tristan, dia melirik Agnes yang duduk manis di sebelahnya. Tak ada respon apa pun dari sang pujaan hati, karena mereka sama-sama tahu jika mereka belum siap jika menikah dalam waktu yang cepat. Mereka masih ingin menikmati masa-masa pacaran terlebih dulu.
"Apa aku boleh minta satu syarat pah?" ucap Azura, yang membuat semua orang penasaran dengan permintaan Azura.
"Syarat? syarat apa itu nak coba jelaskan pada kita semua?"
Azura nampak menghela nafas terlebih dahulu dan di keluarkannya secara perlahan, semua orang yang hadir di situ terlihat menunggu dengan apa yang ingin Azura ucapkan.
"Aku mau menikah hanya di hadiri kerabat dekat saja pah, tak ada pesta atau apapun itu hanya syukuran biasa. Dan aku hanya ingin menikah di rumah ini saja, jadi tak perlu menyewa gedung segala."
Semua orang begitu terkejut mendengar ucapan Azura, bagaimana tidak pernikahan yang seharusnya jadi impian bagi semua orang, tapi Azura tidak menginginkan hal itu. Kegagalan yang pernah Azura alami, menjadi trauma tersendiri bagi dirinya.
"Tapi nak, papah ingin memberikan pesta yang meriah di hari pernikahanmu. Selain itu papah ingin mengundang semua relasi bisnis papah."
"Papah tidak perlu khawatir, setelah enam bulan pernikahanku dan Tristan baru papah bisa mengadakan resepsi untuk pernikahanku, hanya itu saja pintaku pah. Kuharap papah dan yang lainnya bisa mengerti keputusanku."
"Aku setuju dengan keputusan Azura, kita menikah secara sederhana dan untuk resepsi kita bisa menyusul." Tristan orang pertama yang mendukung keputusan Azura.
"Baiklah jika seperti ini Opa ikut keputusan kalian berdua."
Karena Opa Pramudya sudah menyetujui, maka yang lain pun ikut mendukung keputusan Azura.
bersambung...
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1