
Mentari pagi mulai menyapa menggantikan sang dewi malam yang bertahta di atas langit. Kicauan burung terdengar merdu bertengger dari satu dahan ke dahan yang lainnya. Di sebuah rumah sakit swasta pasien yang beberapa jam lalu selesai melakukan operasi, terlihat sudah membuka matanya. Dokter Pras dan suster yang berjaga tengah memeriksa keadaan dari pasien tersebut.
Mamah Theolla terlihat bahagia melihat anak kesayangannya yang sudah sadar pasca operasi. Azura terlihat sudah sehat hanya kepalanya saja yang masih di balut perban. Selain mamah Theolla, ada papah Jupiter dan juga Alvero yang pagi itu tengah berjaga. Sementara Diandra pulang terlebih dulu untuk berganti pakaian.
"Mah kenapa aku bisa berada di rumah sakit?" Azura terlihat menatap sekeliling menyesuaikan keadaan.
"Kamu kemarin kecelakaan sayang, apa tidak ingat?"
Azura menggeleng pelan, pandangannya lalu beralih pada saudara kembarnya yang berdiri di dekat papah Jupiter.
"Al kok kamu disini sih? Kapan pulang?"
Alvero tersenyum menatap sang adik kembar "aku dari semalam disini dek, nungguin kamu sadar pasca operasi."
"Jauh-jauh kamu datang kesini hanya untuk menunggu aku sadar?? Itu bukan kamu banget deh Al.."
"Benar nak dari semalam Alvero memang menunggu kamu sadar." sahut papah Jupiter.
"Oh ya? Lalu kuliah kamu di Jerman bagaimana?"
Papah Jupiter, mamah Theolla dan Alvero hanya saling berpandangan mendengar pertanyaan Azura. Mereka tidak paham kemana arah pembicaraan Azura.
"Sudah ya sayang, kamu jangan terlalu banyak berpikir sekarang istirahatlah terlebih dulu!!" ujar mamah Theolla.
"Tunggu mah..apa kak Denis tidak datang untuk menjengukku?"
"Denis????" ucap mamah Theolla dan papah Jupiter berbarengan. Mereka semakin yakin jika ada yang salah dengan kondisi Azura.
"Tenang mah...biar papah tanya dulu ke dokter Pras ya." papah Jupiter buru-buru keluar untuk menemui dokter Pras.
"Mah tolong hubungi kak Denis jika aku sudah sadar, aku ingin bertemu dengannya!!" lagi ucapan Azura semakin membuat mamah Theolla dan Alvero bingung. Kenapa saat sadar setelah operasi orang yang Azura cari adalah Denis bukan Tristan suaminya.
Ceklek!!
Pintu kamar perawatan Azura terbuka lebar, terlihat Tristan datang bersama mamah Raisa dan Clarisa.
"Sayang kamu udah sadar!!" Tristan meraih telapak tangan Azura dan mengecupnya penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak melihat istri tercintanya sudah sadar merupakan anugerah yang indah bagi Tristan.
Azura mengerutkan keningnya melihat tingkah Tristan, buru-buru dia menarik tangannya dan menatap tak suka pada Tristan.
__ADS_1
"Anda siapa jangan kurang ajar sama saya!!"
Tristan dan mamah Raisa di buat terkejut mendengar ucapan Azura.
"Sayang ini aku Tristan."
"Saya gak kenal anda!!" Tristan semakin tersentak kaget saat Azura tidak mengenalinya.
"Azura sayang..dia itu Tristan suami kamu." ucap mamah Theolla menjelaskan. Mamah Theolla merasa harus segera menyadarkan Azura.
Azura menggeleng cepat "bukan mah!! Aku gak kenal dia, calon suamiku yang sebenarnya adalah kak Denis!!"
Jeddeerrr!!!
Tristan langsung limbung mendengar ucapan Azura, bagai ada ribuan jarum yang kini menusuk hatinya..sakiitt..dan sungguh menyesakkan saat sang kekasih hati lebih mengingat pria lain di bandingkan dirinya yang jelas-jelas suaminya.
Dokter Pras datang di ikuti papah Jupiter, Tristan memilih menjauh dan mendudukan dirinya di atas sofa. Mamah Raisa hanya bisa menenangkan Tristan jika semua pasti akan baik-baik saja.
Dokter Pras di temani seorang suster kembali memeriksa keadaan Azura. Mendengar cerita dari papah Jupiter Dokter Pras kembali melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Dokter apa yang terjadi dengan anak saya?"
"Baik dokter kami mengerti."
Setelah itu Dokter Pras dan suster yang memeriksa keadaan Azura keluar dari kamar milik Azura. Menyisakan mamah Theolla, papah Jupiter, mamah Raisa, Clarisa dan Alvero yang tengah menenangkan Tristan.
πππ
"Pasien terkena amnesia sebagian karena efek dari benturan keras di kepalanya, sepertinya dia hanya mengingat kejadian di masa lalu dan melupakan kejadian di masa sekarang." ucap Dokter Pras menjelaskan.
Papah Jupiter dan Tristan tersentak kaget mendengar penjelasan dokter Pras mengenai kondisi Azura saat ini. Tristan lah yang paling terpukul karena itu berarti Azura tidak akan mengingat dirinya sebagai suami Azura.
"Apa bisa di sembuhkan dok?" tanya papah Jupiter.
"Bisa asal rutin melakukan terapi dan jangan membuat pasien untuk berpikir terlalu keras, biarkan secara perlahan pasien mengingat kejadian di masa sekarang."
"Berapa lama penyakit ini bisa di sembuhkan dok?" kali ini Tristan yang angkat suara.
"Dalam jangka waktu 4-6 bulan pasien bisa sembuh asal rutin melakukan pengobatan."
__ADS_1
Tristan hanya menghela nafas panjang mendengar penuturan dari dokter Pras. Selama itukah Azura akan melupakannya, padahal saat ini adalah masa-masa terindah dalam hidupnya sebagai pengantin baru. Apakah kebahagiaannya sebagai pengantin baru harus sirna begitu saja? Sungguh kejam takdir mempermainkan dirinya seperti ini, Tristan hanya berharap ada keajaiban yang akan membuat Azura kembali pada dirinya.
"Sabar Tristan, papah yakin perlahan Azura akan mengingat dirimu sebagai suaminya." papah Jupiter menepuk bahu Tristan mencoba untuk menghiburnya, meskipun tidak akan mudah.
Tristan menggeleng lemah "tidak pah, yang Azura ingat saat sadar bukan aku tapi Denis pria di masa lalunya." ada rasa nyeri yang begitu menikam saat Azura mencari Denis bukanlah dirinya.
Setelah berbicara panjang lebar papah Jupiter dan Tristan keluar dari ruangan dokter Pras. Tristan kembali keruang perawatannya, karena masih harus beristirahat. Sementara papah Jupiter kembali keruang perawatan Azura. Disana Azura terlihat sedang di suapi oleh mamah Theolla.
"Bagaimana pah?" tanya mamah Theolla penasaran.
"Nanti kita bicarakan di luar ya mah,"
"Diandra tolong suapi Azura dulu ya!!"
"Baik mah," Diandra yang kebetulan berada di situ bersama Alvero melangkah maju mendekati ranjang Azura.
Setelah mamah Theolla dan papah Jupiter pergi kini tinggalah Alvero, Diandra dan Azura. Alvero duduk di samping kiri sementara Diandra di samping kanan.
"Di sejak kapan kamu jadi dekat sama Alvero?" tanya Azura menatap Diandra dan Alvero bergantian.
Sementara Alvero dan Diandra hanya saling pandang bingung menjelaskan jika mereka kini sudah menikah.
"Ah iya aku tahu..kalian kan sudah dekat semenjak kecil, kita berempat sama Kenzo kan suka main bareng."
"Udah Ra gak usah banyak berpikir habisin dulu makananmu, baru minum obat." ujar Diandra.
"Iya dek biar kamu cepet sembuh."
"Al..Di..aku boleh minta tolong gak?"
"Apa itu dek?"
"Tolong hubungi kak Denis agar mau datang kesini, kenapa dia belum datang juga untuk menjengukku?"
bersambung...
πππ
Ujian cinta Azura dan Tristan mulai datang...maafkan authorππ
__ADS_1
...*Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπdukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih***ππ**...