
Azura menghentikan langkah kakinya ketika dia melihat Tristan keluar dari lift bersama dengan Arga. Azura yang hendak kembali ke ruangannya memilih bersembunyi di balik tembok yang tidak jauh dari lift. Dia mengintip sekilas, Tristan dan Arga ternyata menuju ruangannya dan tengah berbicara dengan Sisil.
Sudah tiga hari ini sejak kejadian di rumah Tristan, Azura memilih menghindar dan tidak ingin bertemu dengan Tristan. Berulang kali Tristan berusaha menemuinya tapi Azura selalu berhasil menghindarinya seperti sekarang ini.
"Bu..." sebuah tepukan di pundaknya membuat Azura berjengit kaget.
"Ya ampun Nita! Kamu bikin kaget aja."
"Ibu ngapain ngintip kayak gitu?" tanya Nita penasaran.
"Ssst...pelankan suaramu Nit!" Azura membungkam mulut Nita, karena volume suaranya begitu keras. Dia takut Tristan akan mengetahui persembunyiannya.
"Ada apaan sih bu?" Nita penasaran dan ikut-ikutan mengintip seperti Azura.
"Itu kan pak Tristan tunangan ibu, kenapa ibu malah sembunyi?"
"Bukan urusanmu! Kamu ada perlu apa kesini?"
Nita melupakan tujuannya mendatangi lantai para petinggi perusahaan, karena sedari tadi asyik mengintip bersama Azura.
"Ini bu laporan yang tadi di minta, aku sudah mengoreksinya. Ibu bisa cek kembali jika ada kesalahan." Nita lalu menyerahkan laporan itu ke tangan Azura.
"Ya sudah nanti saya periksa!" Azura kembali mengintip tapi Tristan belum beranjak dari sana, dia terlihat duduk di sebuah kursi tunggu.
"Kenapa dia belum pergi juga?"
"Mungkin dia nungguin ibu kembali." ucap suara di belakangnya.
"Ya ampuun Nita...kenapa kamu masih disini? Cepat kembali bekerja!" Azura tidak habis pikir karena Nita malah mengikutinya untuk bersembunyi.
"Hehe...iya bu maaf!" Nita buru-buru pergi dan masuk kembali ke dalam lift.
Sepuluh menit sudah berlalu tapi Tristan dan Arga masih terlihat duduk di sebuah kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan Azura.
"Apa Azura masih lama Sil?" tanya Tristan pada akhirnya karena sudah bosan menunggu.
"Saya kurang tahu pak, tadi ibu bilang hanya keluar sebentar."
"Ya sudah jika dia kembali bilang saya mencarinya ya! Dan saya tunggu di ruangan Alvero!"
"Baik pak!"
__ADS_1
Tristan lalu berjalan mendahului Arga menuju ruangan Alvero yang masih di lantai yang sama. Sementara Arga dia memilih menyapa Sisil terlebih dahulu sebelum menyusul Tristan.
"Sil nanti pulang bareng aku aja!"
"Loh kamu kan datang bareng pak Tristan, Ga?"
"Kita bawa mobil masing-masing, kamu hubungi aku ya jika udah mau pulang."
Sisil tersenyum menyetujui ajakan Arga. Selanjutnya Arga menyusul Tristan menuju ruangan Alvero.
Sementara itu Azura langsung keluar dari persembunyiannya saat Tristan dan Arga sudah tidak terlihat.
"Bu tadi pak Tristan..."
Azura memberi kode pada Sisil agar diam dan tidak melanjutkan ucapannya. Dia buru-buru masuk dan membereskan barangnya. Setelah itu Azura keluar dan menghampiri Sisil di meja kerjanya.
"Tolong kamu handle pekerjaanku Sil aku ada urusan! Setelah selesai kamu bisa pulang!"
Azura menyerahkan beberapa laporan di atas meja Sisil lalu pergi dengan terburu-buru. Sisil yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, dia tahu kini Azura tengah menghindar dari Tristan. Entah ada masalah apa antara bos dan tunangannya itu.
Sementara itu di ruangan Alvero, Tristan menyandarkan tubuhnya diatas sofa. Ruangan itu kosong karena sang pemilik ruangan ini masih berbulan madu di Raja Ampat. Karena sudah sering bolak-balik ke perusahaan ini, dan memiliki hubungan yang dekat dengan pemilik perusahaan jadi tidak sulit bagi Tristan untuk menumpang istirahat di ruangan sahabatnya.
Ceklek!
"Apa mau saya ambilkan minum tuan?"
"Tidak perlu Ga!" ucap Tristan sambil memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Apa menurutmu Azura masih di kantor atau tidak?"
"Mudah-mudahan non Azura cepat kembali ke kantor."
"Sampai kapan dia menghindar dari gue Ga?" ucapnya frustasi. Tristan menyugar rambutnya ke belakang dan menengadah menatap keatas.
Satu pesan masuk dari Sisil membuat Arga langsung membuka ponselnya.
"Tuan..nona Azura sudah keluar dari kantor lima menit yang lalu." mendengar ucapan Arga, Tristan langsung berdiri dan menyambar jasnya dengan cepat.
"Shiitt!! Dia lolos lagi!" dengan langkah terburu-buru Tristan keluar berharap masih bisa mengejar Azura.
๐๐๐
__ADS_1
Tristan setengah berlari saat keluar dari lift menuju lobi kantor, dia mendesah berat saat orang yang di carinya tidak terlihat di mana pun. Tak kehabisan akal, Tristan pun menghampiri security yang tengah berjaga di depan pintu masuk.
"Ada yang bisa saya bantu pak Tristan?"
"Apa bapak melihat Azura keluar dari sini?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Oh bu Azura...baru saja beliau pergi dengan taxi, itu tuh pak masih terlihat!" tunjuknya pada sebuah taxi berwarna biru yang terlihat baru meninggalkan area perkantoran. Tanpa menunggu lama Tristan menaiki mobilnya dan mengejar taxi yang membawa Azura.
Sementara itu di dalam mobil, Azura nampak sibuk dengan benda pipih di tangannya. Dia tidak menyadari ada mobil lain yang mengikutinya dari belakang.
"Maaf bu, sepertinya mobil hitam itu mengikuti kita terus dari tadi!" ucap supir taxi yang sudah menyadarinya sejak tadi, Azura sontak menoleh kebelakang dan dia cukup kaget saat mengetahui mobil Tristan lah yang sudah mengikutinya.
"Ambil jalan pintas saja pak!"
"Baik bu,"
Mobil taxi terus melaju berbelok kearah jalan yang tidak terlalu ramai, bukan Tristan namanya jika dia tidak bisa mengikuti kemana arah mobil taxi tersebut. Bahkan dia menyembunyikan klaksonnya agar taxi itu berhenti, sampai akhirnya mobil Tristan berhasil menyalip dan membuat taxi itu berhenti mendadak.
Tristan buru-buru keluar dan menghampiri mobil itu, dia menggedor kaca mobil penumpang dan menyuruh Azura keluar.
"Azura...sayang...kita harus bicara!" Tristan terus menggedor kaca mobil sampai Azura mau keluar. Dengan terpaksa Azura pun keluar daripada Tristan membuat keributan.
Tristan tersenyum melihat Azura yang mau turun dari mobil, buru-buru dia mengambil uang pecahan seratus ribu di dompetnya dan menyuruh supir taxi itu pergi.
"Mau kamu apa sih Tan? kenapa menghadang jalanku seperti ini?" ketus Azura dengan tangan bersidekap di dada.
"Mau sampai kapan kamu menghindar dari aku sayang?" ucap Tristan penuh kelembutan. Dia meraih tangan Azura dan mengecupnya penuh kerinduan. Namun buru-buru Azura melepas genggaman tangannya.
"Lebih baik aku menghindar, daripada aku sakit hati saat mengingat kamu sama Karina." Azura menjauh dan membelakangi Tristan.
"Kamu gak percaya sama aku Ra?"
Azura terdiam tidak menanggapi ucapan Tristan. Tiba-tiba Tristan merangkul bahu Azura dan mengajaknya masuk kedalam mobil, karena hari sudah mulai sore dan cuaca pun terlihat mendung, pertanda hujan akan turun kebumi.
Tristan melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang sore itu ramai akan kendaraan beroda empat dan beroda dua. Azura tidak banyak bicara, dia memilih diam dan pasrah saja saat Tristan membawanya pergi.
"Kamu mau bawa aku kemana Tristan? ini kan bukan jalan menuju rumahku?" tanya Azura sengit.
"Aku ada kejutan buat kamu sayang, kamu lihat aja nanti ya!" ucap Tristan tersenyum penuh arti.
bersambung...
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...