
AYU sudah mengemasi beberapa barangnya, setelah makan siang nanti ia akan meninggalkan kafe Farhan. Sangat menyenangkan rasanya berada disini, bertemu dengan teman lamanya dan sehabat barunya, Rina.
"Padahal kamu udah janji loh, Yu!" Gumam Rina manyun memegangi jemari Ayu, ia tidak tega jika harus berpisah dengan Ayu.
"Mau gimana lagi, Rin. Aku nggak punya pilihan lain..."
Farhan merasa iba juga dengan Ayu, "apa tidak ada pilihan lain, Yu? Kamu kan bisa menunggu beberapa tahun lagi, toh kamu masih muda..." ia berusaha agar Ayu dapat mengulur waktu, setidaknya sampai Farhan berani mengungkapkan perasaannya.
Ayu menggeleng. "Benar kata Mbak Maya, nggak seharusnya aku menentangnya," kemudian ia menertawai dirinya sendiri, "sekalinya ingin melakukan sesuatu sesuai sama keinginan hati malah repot begini kan jadinya..."
Farhan menjadi empati, ia ingin sekali bilang kepada Ayu bahwa ia bisa menggantikan pernikahan itu. Farhan yang benar-benar tulus suka kepadanya sedari dulu. Namun, disisi lain Farhan memiliki rasa idealis yang sangat tinggi, ia masih belum siap menikah jika itu yang dicari oleh Ayu.
Ia hanya bisa berharap Ayu akan bahagia di kehidupannya nanti, bersama dengan suaminya.
Masih ada waktu beberapa jam lagi hingga Ayu dijemput oleh travel yang sudah ia pesan 2 hari lalu.
Tiba-tiba seorang pria yang ia kenal muncul, dia adalah Anthony. Berjalan dengan angkuh menghampiri counter tempat mereka bertiga sedang bercengkrama.
"Halo, Ayu! Sudah lama ya kita nggak ketemu?" Sapanya usai tiba di depan.
Farhan melihat Ayu dan Rina, mengangkat alisnya seperti bertanya-tanya siapa pria di hadapannya ini karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu.
Rina mencoba menjelaskan, "dia si bodoh yang kuceritakan tempo hari, Mas. Si biang masalah!"
Farhan kemudian mengangguk paham, lalu ia berpamitan setelah memperkenalkan diri. Ada panggilan dari client mendadak, jadi Farhan harus pergi.
"Ayu, kamu nanti hati-hati ya di jalan..." ucap Farhan tak lupa memberikan sebuah tas bingkisan pada Ayu.
"Ini apa, Han?"
"Oleh-oleh buat Ibumu, katakan ini dariku..."
Ayu kemudian tersenyum, merasa tersentuh padahal Farhan tidak perlu repot-repot begini, "makasih ya, aku bakal kesini lagi nanti kalau ada waktu..."
"Semoga kamu bahagia nanti, Yu! Sampaikan salamku juga untuk calon suamimu..."
__ADS_1
Ayu mengangguk meski tidak ada semangat untuk menanggapi kalimat tersebut.
Farhan kemudian pergi, kini Anthony mengangkat sebelah alisnya penasaran, "kamu mau pergi kemana?"
"Apa sih orang ini kepo banget?!" Gerutu Rina kesal melihat wajah Anthony, "lagian kamu ngapain kesini, mau cari masalah lagi?"
Anthony tertawa tanpa alasan, "aku hanya ingin tau kabar Ayu, apa makan malam kalian waktu itu menyenangkan?"
Ayu diam tidak ingin menanggapi, ia masih ingin membantu Rina dengan menata beberapa gelas di tempatnya. Ayu mengabaikan keberadaan Anthony dan tidak ingin menganggapnya ada.
"Sukurin, dicuekin!" Ledek Rina senang.
Anthony hanya bisa nyengir merasa diremehkan oleh Rina, meskipun gadis itu mengusirnya berkali-kali, entah kenapa Anthony tetap saja berada disitu seperti tidak ada kerjaan lain. Ia bersandar di meja counter sembari bergumam seperti orang gila.
"Jadi, Ayu mau pulang kampung?" Tanyanya yang kesekian kali.
Rina sudah lelah mendengarnya tidak juga capek berdiri disana sambil bertanya tanpa henti seperti radio rusak, padahal Ayu sudah mengabaikannya. "Kalau iya kenapa?!" Rina tidak tahan untuk tidak menjawabnya.
"Wah! Jadi, maksud temanmu tadi, salamkan pada calon suamimu, kamu mau menikah?"
"Ck... Orang ini!!!" Rina kemudian segera keluar dari meja counter dan menarik tangan Anthony memaksanya untuk keluar dari kafe segera.
Namun entah kenapa rasanya Anthony sangat tertarik dengan wanita ini, ia menyangkal bahwa dirinya suka dengan Rina, tentu saja tidak! Mungkin ia hanya suka karna menganggap Rina adalah mainannya. Iya, mainan, Anthony hanya akan menganggapnya sebatas itu.
Rina melemparkan tubuh Anthony, mereka kini berada di gang luar kafe.
"Kenapa membawaku kesini?" Tanya Anthony percaya diri, "oh! Atau kamu mau sesuatu?" Ia mendekati tubuh Rina hingga punggung gadis itu menempel ke tembok, wajahnya harus menunduk untuk bisa menggoda Rina.
Rina menelan ludahnya, kemudian dengan cepat menyentil dahi Anthony.
"Aw!" Pekik Anthony memegangi dahinya.
"Dengar ya, orang aneh!" Rina mendongak melihat wajah Anthony dengan serius, setidaknya ini adalah upayanya demi melindungi Ayu.
"Orang aneh?"
__ADS_1
"Terserah! Dengar baik-baik, jangan pernah mengucap kata pernikahan atau suami atau apalah yang berhubungan dengan itu di depan Ayu! Dia lagi sensitif, aku nggak mau dia sedih..."
"Memangnya kenapa?" Tanya Anthony kini sangat penasaran.
"Bukan urusanmu!" Rina hendak pergi namun tangan Anthony sudah menggenggamnya lebih dulu, melarangnya untuk meninggalkan pria itu.
"Beri tahu aku! Atau aku akan..." Anthony mencengkeram tangan Rina dan memaksanya untuk mendekat, ia kembali menunduk dan mendekatkan wajahnya kepada Rina. "Menciummu."
Dada Rina terasa sesak, ia jijik melihat pria di hadapannya ini. "Kamu sudah mendengarnya sendiri tadi, kenapa harus kujelaskan lagi?"
"Jadi benar dia akan menikah?"
"Bukan menikah, lebih tepatnya dia dijodohkan... Puas? Lepaskan tanganku!" Anthony melepaskan tangan Rina dan buru-buru pergi, ia merasa ada berita bagus untuk disampaikan kepada seseorang.
...\~oOo\~...
"Apa maksudmu?" Tanya Arshaka saat menemui Anthony di atap gedung, seperti biasa, Anthony selalu mengajaknya kemari saat ingin membicarakan sesuatu. Selain itu, tempat ini memiliki kenangan tersendiri untuknya.
"Ayu akan menikah, katanya siang nanti dia mau pulang..." ucapnya dengan ringan sembari menghisap batang rokoknya yang menyala. "Aku mengatakan ini karena ingin melihatmu menderita secara langsung."
"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?"
"Ya, itu terserah kamu. Nggak ada ruginya juga untukku..."
Arshaka masih memikirkan kemungkinannya, mempertimbangkan apakah perkataan Anthony barusan jujur atau hanya cara untuk mempermainkannya lagi.
"Kamu tau kan aku sangat membencimu," ucap Anthony tiba-tiba membuat Arshaka menoleh ke arahnya memperhatikan, pria ini masih sama saja sejak dulu. "Aku sangat ingin membuatmu menderita," Anthony menertawakan dirinya sendiri.
"Kamu tau dari mana?"
"Tentang Ayu? Aku baru saja dari kafenya, temannya bilang dia akan dijodohkan di kampungnya."
Arshaka kini percaya, jika Anthony mengatakan bahwa Ayu akan dijodohkan di kampung halamannya, mungkin saja ini benar, karna Arshaka sendiri tahu tentang cerita Ayu yang berusaha dijodohkan oleh kakaknya Maya.
Lalu Arshaka berlari meninggalkan Anthony disana, ia tidak boleh terlambat, kini gantian dia yang harus mengejar Ayu. Dia tidak ingin terus bersembunyi dan merasa semua baik-baik saja. Hidupnya sepenuhnya adalah miliknya, bukan milik orang tuanya atau orang lain.
__ADS_1
"Harusnya aku tidak memberitahunya agar dia lebih menderita," gumam Anthony kepada dirinya sendiri, "kenapa sih aku harus peduli kepadanya?"
Anthony membuang putung rokoknya, menginjak dengan sepatunya hingga api disana padam. Berusaha mengingatkan kepada dirinya sendiri bahwa ia sangat membenci Arshaka dan akan selalu membencinya.