Wedding Disaster

Wedding Disaster
Perang dingin


__ADS_3

Sementara itu di perusahaan Tristan, pria muda berusia 27 tahun itu tak henti menebar senyum pada setiap karyawan yang di laluinya. Tristan yang biasanya bersikap dingin mendadak ramah dan menyapa para karyawannya. Sontak perubahan Tristan membuat karyawannya terheran-heran, apa gerangan yang membuat bosnya itu sebahagia ini. Apa mungkin bosnya baru mendapatkan lotre? Ah... Itu tidak mungkin, bisa saja bosnya sedang jatuh cinta karena setahu mereka bos mudanya ini masih lajang.


"Tuan muda apa tidak cape dari tadi terus menebar senyum?" pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Arga yang sedari pagi selalu mendampingi Tristan.


Bukannya marah Tristan malah tertawa lebar mendengar penuturan sang asisten pribadi.


"Nanti saat lo jatuh cinta pasti akan sebahagia ini Ga,"


"Sepertinya itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi tuan." ucapnya datar.


"Apa lo mau melajang seumur hidup lo Ga? Percaya sama gue jatuh cinta itu sangat menyenangkan dan lo harus buru-buru buat nyari pendamping hidup mulai sekarang."


"Belum terpikirkan tuan, saya masih fokus untuk membahagiakan keluarga saya."


"Ya..ya..kau memang anak yang berbakti Ga. Tapi gue ingetin ya jangan sampe lo jadi bujang tua karena terlalu fokus sama keluarga, pikirin masa depan lo juga."


"Baik tuan, pesan dari tuan muda akan saya ingat selalu."


"Bagus! Jadi jam berapa kita berangkat meeting?"


"Satu jam lagi tuan, saya permisi akan mempersiapkan berkas-berkasnya dulu." Arga pun berlalu dari ruangan Tristan.


Setelah kepergian Arga, pikiran Tristan kembali berkelana pada saat kejadian di mobil. Dia tersenyum bahagia karena Azura tidak menolak ciumannya, bahkan Azura sudah berani membalasnya. Tidak ada yang bisa mengungkapkan kebahagiaan Tristan kali ini selain memikirkan wajah Azura yang malu-malu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Satu jam kemudian Tristan dan Arga sudah tiba di restoran tempat diadakannya meeting bersama dengan pemilik Adhitama grup yang tak lain perusahaan milik keluarga Denis. Denis dan sekretarisnya menyambut kedatangan Tristan dan mempersilahkannya duduk. Meskipun Denis terlihat tidak menyukai Tristan karena Azura, tapi karena pekerjaan Denis tetap memasang tampang ramah pada klien pentingnya itu.


"Maaf menunggu lama pak Denis," ucap Tristan basa-basi.

__ADS_1


"Tidak sama sekali pak Tristan kita juga baru sampai beberapa menit yang lalu."


"Langsung kita mulai saja ya meetingnya, Ga keluarin berkasnya!"


Selanjutnya empat orang itu terlibat dalam pembicaraan yang serius, perusahaan Tristan yang punya peran penting bagi perusahaan Denis tentu saja terlihat lebih mendominasi dalam meeting kali ini. Bahkan jika Tristan mencabut modalnya, maka perusahaan Denis akan merugi besar.


Setelah selesai meeting mereka memutuskan untuk sekalian makan siang. Terlihat beberapa hidangan yang mengugah selera sudah tersaji di atas meja.


"Jadi kapan anda akan menikahi Azura?" satu pertanyaan lolos dari mulut Denis di tengah makan siang mereka.


"Secepatnya pak Denis, karena saya takut jika terlalu lama Azura akan terus di kejar-kejar oleh mantan pacarnya." sindir Tristan, membuat raut wajah Denis berubah menjadi kesal.


"Yah lebih cepat memang lebih baik, karena sesuatu yang baik itu harus di segerakan." ucapnya padahal dalam hati Denis berharap pernikahan Azura dan Tristan tidak pernah terjadi.


"Pak Denis tenang saja, jika saya menikah nanti saya tidak akan lupa untuk mengundang pak Denis, karena bagaimana pun dulu anda dan calon istri saya pernah punya hubungan, meskipun pada akhirnya anda yang meninggalkan calon istri saya." dengan santainya Tristan mengatakan hal itu dan membuat Denis mengepalkan tangannya.


Arga dan sekretaris Denis hanya terdiam dan fokus dengan makan siangnya meskipun obrolan bosnya mulai terdengar memanas. Perang dingin diantara kedua pemimpin itu tak ayal memperebutkan satu orang wanita. Tapi mereka bisa apa tidak berani menyela atau mengeluarkan suara mengingat hawa panas mulai terasa di tengah-tengah acara makan siang mereka.


"Secepatnya pak undangan itu akan saya berikan langsung pada pak Denis," ucap Tristan santai sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Denis hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Tristan.


"Jadi kapan pak Denis akan mencarikan ibu baru untuk Chery?" pertanyaan dari Tristan membuat Denis mendengus kesal.


"Saya belum terpikirkan untuk hal itu, karena saya masih berharap bisa kembali pada mantan pacar saya." imbuh Denis tanpa ada rasa malu sedikitpun. Padahal dari awal Tristan sudah menegaskan agar Denis berhenti mengganggu Azura.


"Pasti menjadi single parent itu tidak menyenangkan yah, saya doakan semoga pak Denis bisa secepatnya mendapatkan ibu baru untuk Chery dan tidak mengganggu calon istri saya lagi." ucap Tristan dia lalu beranjak dari duduknya dan menyudahi makan siangnya.


"Kita pergi sekarang Ga!" Tristan berbalik tanpa pamit pada Denis.

__ADS_1


"Maaf kita permisi dulu pak Denis!" Arga lalu buru-buru menyusul Tristan yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Denis menggebrak meja dengan perasaan kesal "sial!!"


"Awas saja, gue pasti bisa merebut Azura dari kamu Tristan!"


Sekretaris Denis yang sedari tadi hanya menyimak bisa mengerti kemana arah pembicaraan bos dan kliennya.


"Jadi calon istrinya pak Tristan itu mantannya bapak? Terus bapak berniat untuk merebutnya, pantas saja beliau marah pak."


"Diam kamu jika masih ingin kerja sama saya!" Denis menghunuskan tatapan tajam pada wanita muda yang duduk di sampingnya. Sekretaris Denis buru-buru menundukan kepalanya karena takut dengan ancaman sang bos.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tristan memasuki mobilnya dengan perasaan kesal, bisa-bisanya Denis berniat merebut Azura kembali padahal sudah jelas dulu dia meninggalkan Azura.


"Dasar brengs*ek!" umpatnya kesal. Bertepatan dengan itu Arga masuk mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Anda baik-baik saja tuan?" Arga mulai melajukan mobilnya perlahan lalu keluar dari parkiran restoran.


"Apa gue batalkan saja kerjasama dengan perusahaan Denis, bisa-bisanya dia ingin merebut Azura dari gue."


"Tuan tidak perlu meladeni pak Denis, biarkan saja dia mau berkata apa yang penting nona Azura sudah memilih anda tuan. Jika tuan ingin membatalkan kerjasama ini tentu saja harus dengan persetujuan tuan besar, karena bagaimana pun tuan besar lah yang ingin menanamkan modalnya di perusahaan Adhitama, mengingat pak Adhi sendiri adalah rekan dari tuan besar."


"Lo benar Ga, gue gak semudah itu bisa membatalkan kontrak kerja dengan dia karena Opa."


bersambung...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπŸ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasihπŸ™πŸ˜...


__ADS_2