
"Tristan itu su...." ucapan mamah Theolla langsung terhenti saat papah Jupiter membekap mulutnya.
"Su apa mah, pah?" Azura menatap kedua orangtuanya bergantian.
Namun mamah Theolla dan papah Jupiter hanya saling berpandangan, mereka hampir saja mengatakan sesuatu yang belum saatnya mereka katakan, Itulah saran dari dokter yang menangani Azura saat ini.
"Katakan mah, pah..Tristan itu sebenarnya su apa?"
"Tristan itu su..suka sama kamu sayang," akhirnya mamah Theolla menemukan jawaban atas kekeliruannya tadi saat kelepasan bicara.
"Diih...suka apa sih gak jelas banget, aku udah tunangan sama kak Denis. Lagian dia datangnya sangat terlambat, kemana aja dari dulu saat aku setia nungguin dia."
Azura tentu saja masih mengingat bagaimana dia dulu selalu menunggu Tristan hingga bertahun-tahun. Namun orang yang dia tunggu tak kunjung kembali, dan itu membuat Azura sangat kecewa pada Tristan.
"Bilang sama dia ya pah, aku gak perduli jika dia datang sekarang, Karena semua udah terlambat!!" Azura lalu beranjak dari duduknya memilih keluar dan berdiri di atas balkon.
"Mamah bilang juga apa, bukan ide yang baik kita ngasih tahu soal Tristan teman masa kecilnya ke Azura, yang ada Azura semakin kecewa sama Tristan."
"Ya daripada kita ngasih tahu langsung jika Tristan suaminya, dia pasti bakal shock. Pelan-pelan aja mah, papah yakin nanti Azura pasti sembuh."
"Ya udah deh terserah papah,"
Papah Jupiter tersenyum lalu merangkul bahu mamah Theolla "kita balik ke kamar yu mah, papah udah gak sabar nih."
Mamah Theolla mendelik menatap papah Jupiter "gak sabar apa sih pah?"
"Gak sabar pengen di kelonin." bisik papah Jupiter lirih di telinga mamah Theolla.
"Hush!! Inget umur!!" mamah Theolla langsung mencubit perut papah Jupiter dengan keras.
Keduanya lalu beranjak dan keluar dari kamar Azura.
๐๐๐
Mentari pagi mulai menyapa memberi kehangatan bagi seluruh penduduk bumi. Jiwa-jiwa yang terlelap perlahan mulai membuka matanya menyambut sang surya yang sudah bertahta di atas cakrawala. Suara deru kendaraan bermotor mulai terdengar bising memadati setiap jalan protokol di ibu kota untuk mengais rejeki demi keluarga tercinta.
Sementara itu di sebuah rumah Azura masih terlihat sarapan bersama mamah dan papahnya. Namun ada yang sedikit berbeda pagi ini, Tristan berada satu meja bersama Azura. Pagi-pagi sekali dia mendatangi kediaman sang mertua demi untuk bertemu istri tercinta. Seperti biasa Azura masih saja bersikap dingin dan ketus terhadap Tristan. Namun Tristan tidak mengambil hati dan tetap bersabar menunggu Azura sembuh dan kembali mengingat dirinya.
"Kamu gak ke kantor Tristan?" tanya papah Jupiter di sela-sela suapannya.
__ADS_1
"Ke kantor kok pah, nanti agak siangan."
"Oh ya bagus kamu bisa temani Azura dulu di sini, kebetulan pagi ini mamah sama papah ada urusan di luar."
Azura menghentikan suapannya dan menatap Tristan dengan tajam "aku gak perlu di temani sama dia pah!!"
"Azura gak boleh gitu sayang, ingat apa kata mamah dan papah semalam." sela mamah Theolla.
Di tengah obrolan mereka tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar, mamah Theolla hampir saja beranjak untuk membuka pintu namun di cegah oleh Azura.
"Biar aku saja mah, mamah lanjutkan saja sarapannya!!" Azura beranjak dan berlalu menuju pintu utama.
Saat pintu terbuka, seorang pria dengan setelan jas yang rapih tengah membelakangi Azura.
"Maaf cari siapa ya?"
Si pria tersebut berbalik dan menyerahkan sebuket bunga mawar pada Azura.
"Kak Deniisss!!" Azura teriak histeris dan langsung memeluk tubuh Denis.
"Morning princessku.." Denis tersenyum senang mendapat pelukan selamat datang dari Azura.
"Darimana aja kak? Kenapa baru datang nemuin aku?" tanya Azura sambil mencium aroma wangi dari bunga mawar merah.
"Maaf ya aku banyak pekerjaan akhir-akhir ini dan harus bolak-balik keluar kota."
"Jadi pekerjaan lebih penting daripada aku?" Azura memasang wajah cemberut tidak terima dengan alasan Denis.
Denis tersenyum senang, dia tidak menyangka Azura akan kembali seperti dulu bersikap manis dan manja terhadapnya, sama seperti saat mereka masih bertunangan.
"Jadi kamu beneran lupa ingatan Azura, baguslah kalau gitu aku bisa memanfaatkan keadaan ini agar kamu kembali menjadi milikku." ucap Denis dalam hati dengan seringai di bibirnya.
"Kak...kok malah bengong sih?" Azura mengibaskan tangannya di hadapan Denis.
Denis mengerjap dan tersenyum semanis mungkin"Ah iya..maaf."
"Siapa yang datang sayang?" mamah Theolla terpaku saat melihat Denis berdiri di hadapan Azura.
"Selamat pagi tante!!"
__ADS_1
Mamah Theolla hanya menganggukan kepalanya dan kembali masuk kedalam rumah tanpa membalas sapaan dari Denis.
"Siapa yang datang mah?"
"Denis." jawab mamah Theolla singkat.
"Ternyata dia datang lebih cepat dari yang papah kira, Tristan bisakan kamu mengawasi mereka berdua? papah tidak ingin jika Denis mempengaruhi pikiran Azura."
"Tentu saja pah, aku pastikan Denis tidak akan macam-macam sama Azura."
Pagi mulai beranjak siang, sesuai rencananya papah Jupiter dan mamah Theolla sudah pergi setengah jam yang lalu karena ada urusan di luar sana. Sementara suara tawa terdengar renyah dari arah ruang tamu, Azura dan Denis terlihat sedang berbicara sambil sesekali bercanda. Tristan hanya bisa mengawasi mereka dari arah ruang keluarga, meski hatinya terluka melihat kedekatan Azura dan Denis tapi dia harus menahan itu demi kesembuhan sang istri.
"Azura masuklah ke kamar!! kamu harus segera beristirahat!! ingat kata dokter kamu tidak boleh terlalu lelah." Tristan lalu duduk menghampiri Azura dan Denis yang masih betah mengobrol.
"Heh!!memang kamu siapa nyuruh-nyuruh aku segala?" ketus Azura.
"Mamah sama papah kamu sudah mempercayakan aku untuk menjaga kamu, jadi menurutlah!! kamu baru saja sembuh dan tidak seharusnya menerima tamu terlalu lama."
"Denis ini bukan tamu sembarangan, dia tunangan aku!!" sengit Azura.
"Sudah Ra, benar apa yang di katakan dia kamu istirahat dan kembalilah ke kamar!!"
"Tapi kamu janji besok akan datang lagi?" suara Azura terdengar manja dan merajuk terhadap Denis.
"Iya princess aku janji.."
Setelah itu Azura pergi meninggalkan Tristan dan Denis yang duduk berhadapan dengan mata saling menatap tajam.
"Tunggu apa lagi, silahkan anda keluar pak Denis!!"
Denis tersenyum sinis dan beranjak dari duduknya "tentu saja saya akan pergi, tapi besok saya akan datang lagi kemari untuk menemui istri anda!!"
"Jangan harap ada pertemuan kedua, karena saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi!!"
"Kita lihat saja nanti..." Denis menepuk bahu Tristan dan berlalu begitu saja. Tristan hanya bisa mengepalkan tangannya melihat kepergian Denis.
bersambung...
๐๐๐
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...