Wedding Disaster

Wedding Disaster
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Di sebuah bangku taman seorang wanita menangis tersedu-sedu di bawah sinar rembulan berpayungi langit malam. Sang pria yang duduk di sebelahnya hanya bisa mengelus punggungnya mencoba menenangkannya. Tak ada kata yang terucap hanya suara isak tangisnya pertanda dia tengah di rundung pilu.


Sakit bagai di tusuk belati.


Kata itu yang tepat menggambarkan perasaannya kali ini, hanya lewat air mata dia meluapkan segala hal yang baru saja menimpa pernikahannya yang baru seumur jagung.


Apa menikah sesakit ini? Dimana cerita orang-orang yang mengatakan jika menikah akan merasakan surga dunia? Kenapa pernikahannya kini hanya menjadi bencana bagi hidupnya, secuil pun dia tidak pernah merasa bahagia.


"Apa salahku Ga? Bahkan selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang baik baginya, menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku menjalankan pernikahan ini bukan untuk main-main tapi untuk mendapatkan ridho illahi."


"Berarti dia bukan pria yang baik buat kamu Sil, beruntung kamu mengetahuinya sekarang. Kamu harus percaya akan ada kebahagiaan setelah ini. Dan kamu harus percaya di luar sana masih banyak pria baik yang kelak akan menjadi imam kamu."


Sisil merenung mendengar kata-kata Arga. Itu artinya akan ada cahaya yang menerangi kegelapan. Akan ada pelangi setelah hujan dan akan ada kebahagiaan setelah kesedihan.


"Aku mau pisah dengannya Ga! Pernikahan ini dari awal memang bukan keinginan kami, orangtua kami lah yang sudah memaksa bahkan mas Reza sedikitpun tidak pernah memberikan hatinya untukku. Dan aku sakit hati setelah tahu dia mengkhianati pernikahan ini."


"Semua keputusan ada di tanganmu Sil, jika perceraian adalah jalan yang terbaik bagi pernikahan kalian maka lakukanlah! Aku sebagai teman hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu."


Sisil mengulas senyum "makasih ya Ga, mendengar kata-kata kamu aku jadi lebih tenang."


"Jadi udahan nih nangisnya?" goda Arga.


Sisil mengangguk sedikit tertawa "kalau di pikir-pikir buat apa juga aku nangisin pria seperti dia,"


"Nah gitu donk...kamu harus bangkit buktikan sama dia jika kamu bukan cewek yang lemah dan cengeng."


"Tapi tetep aja Ga aku gak terima dia selingkuh di belakang aku, harusnya dia menolak dari awal jika tidak menginginkan pernikahan ini bukan malah berbuat seperti ini."


"Apa selama ini kamu mencintai suami kamu?" tanya Arga hati-hati.


Mencintai. Bahkan Sisil pun tidak bisa menjabarkan perasaannya sama Reza selama empat bulan pernikahan mereka. Rasa nyaman mungkin ada apa itu bisa di sebut sebagai cinta?


"Hampir Ga. Hampir saja aku mulai mencintai mas Reza karena berada di dekatnya aku merasa nyaman, tapi setelah ada kejadian ini aku pikir orang seperti dia tidak layak aku cintai. Dan tekadku sudah bulat aku ingin berpisah dengannya meskipun dari pihak keluarga menentang."

__ADS_1


"Aku mendukungmu Sil! Aku orang pertama yang akan membantu kamu."


"Karena aku pikir kamu tidak layak untuk di sakiti, aku yang akan menjagamu setelah ini karena kamu wanita yang begitu spesial di hatiku." ucap Arga dalam hati.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pagi mulai menyapa sang mentari mulai memancarkan sinarnya memberi kehidupan bagi penduduk bumi. Roda kehidupan terus berputar mengitari alam semesta memberi warna bagi setiap insan. Hari sudah berganti hari begitupun dengan minggu ke minggu tak terasa pernikahan Alvero dan Diandra hanya tinggal menghitung hari.


Seluruh keluarga Wijaya kini tengah di sibukan dengan persiapan pernikahan Alvero yang akan di gelar di sebuah hotel berbintang. Semua undangan sudah tersebar dan segala persiapan sudah mendekati sempurna. Alvero sendiri sudah mengambil cutinya selama dua minggu kedepan. Jadilah kini Azura yang menghandle sebagian pekerjaan Alvero di perusahaan. Untung saja Azura mempunyai asisten yang cekatan dan pintar seperti Sisil.


Seperti siang ini mereka baru saja menghadiri meeting di sebuah restoran terkenal dengan investor asing. Azura yang mulai menunjukan kualitasnya dalam berbisnis di percaya papah Jupiter untuk menghadiri meeting tersebut. Alhasil kerja kerasnya selama ini mulai membuahkan hasil.


Azura yang awalnya merasa tidak mampu kini menjadi kebanggaan papah Jupiter. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, seperti itulah Azura merupakan gambaran mamah Theolla semasa muda.


"Gimana kelanjutan hubungan kamu sama Arga?" Sisil yang tengah menyantap makan siangnya langsung tersedak mendengar pertanyaan Azura.


"Maksud ibu?" buru-buru Sisil meraih gelas dan menegak minumannya


"Ibu bisa aja, sidang perceraianku sama mas Reza aja belum di mulai bagaimana bisa aku berhubungan dengan pria lain. Selain itu aku pun harus menunggu masa idahku selesai, aku gak mau nantinya jadi gunjingan orang."


Azura tertawa mendengar penuturan Sisil, dua minggu yang lalu saat Sisil memutuskan untuk berpisah dengan suaminya, ternyata suaminya lah yang terlebih dahulu melayangkan gugatan cerai terhadap Sisil.


"Jadi kamu udah sewa pengacara buat mengurus perceraian kamu?"


"Sudah bu.. aku memakai jasa bu Wreny Saragih dari James and Co, dia pengacara yang handal yang sudah memenangkan banyak kasus. Aku yakin beliau bisa membantu aku untuk mendapatkan hak aku selama jadi istrinya mas Reza." terang Sisil.


"Baguslah kalau begitu aku doakan semuanya berjalan lancar, kamu bisa cepat terbebas dari pria itu."


"Amin..makasih bu atas doanya selama ini." Sisil sangat beruntung karena memiliki atasan sebaik Azura.


Selanjutnya kedua wanita itu kembali melanjutkan makan siang mereka, sambil sesekali membahas pekerjaan. Di tengah acara makan siangnya tiba-tiba mereka kedatangan seorang pria yang langsung duduk mengambil tempat kosong.


"Boleh aku bergabung dengan kalian?" sapanya dengan ramah. Karena tanpa menunggu persetujuan dari Azura nyatanya si Pria sudah duduk dengan nyaman.

__ADS_1


"Kamu??" Azura kehilangan kata-kata ketika sudah berhadapan dengan Denis yang memasang wajah tak berdosa. Bagaimana bisa Denis kembali muncul di hadapannya seolah tidak takut dengan ancaman sang papah waktu itu.


"Apa kabar kamu Ra? sudah lama ya kita tidak bertemu." tanya Denis dengan santai. Namun Azura tidak menjawabnya malah menatap Denis penuh curiga.


"Kamu ngikutin aku Denis?" selidik Azura. Tidak mungkin pertemuannya ini merupakan ketidaksengajaan.


"Buat apa aku ngikutin kamu seperti gak ada kerjaan saja, kebetulan aku juga habis meeting di restoran ini dan gak sengaja melihat kamu disini juga."


"Kamu bohong!"


"Terserah kamu percaya atau tidak, yang pasti ini hari keberuntunganku bisa bertemu kamu disini."


Azura mulai jengah melihat wajah Denis buru-buru dia beranjak dari duduknya dan mengajak Sisil pergi. Namun tangan Denis lebih dulu mencekal lengan Azura.


"Kamu gak akan kemana-mana Azura!" sebuah seringai muncul dari bibir Denis.


"Lepasin!" sentak Azura.


Namun cekalan Denis semakin erat dan membuat Azura meringis kesakitan.


"Anda jangan kurang aja ya pak! saya bisa teriak karena anda sudah mengganggu kami!" Sisil turun tangan dan mengancam Denis.


"Saya tidak takut dengan ancaman anda nona manis,"


Azura tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Denis "Mau kamu apa Denis?"


"Aku mau bicara empat mata sama kamu sayang,"


bersambung


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like. vote, koment dan masukin daftar favoritπŸ’ž dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasihπŸ™πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2