Wedding Disaster

Wedding Disaster
Hubungan Tanpa Status


__ADS_3

BIBIR mereka bersentuhan, sangat lembut. Ayu berusaha menyingkirkan segala macam pikiran kotornya, ia masih teringat sangat jelas kejadian semalam. Arshaka, ia membuat Ayu tersipu lagi bahkan saat mereka tidak sedang bersama.


Rina muncul memperhatikan Ayu yang sedang cengar-cengir sendiri menatap angin, "Ayu! Kamu ngapain sih dari tadi ngelamun, itu airnya tumpah!" Peringat Rina saat melihat Ayu tanpa sadar menumpahkan air keluar dari cangkirnya.


"Astaga!" Gadis itu buru-buru mengambil celemek untuk membersihkannya. Sepertinya dia sudah mulai gila.


Disela-sela lamunannya tadi yang menyenangkan, sejenak terbesit pikiran yang baru disadarinya. Jika Ayu dan Arshaka kini menjalin hubungan, bukankah itu artinya dia telah merebut Arshaka dari Salina. Apakah dia bisa disebut sebagai pelakor sekarang. Oh tidak! Ayu merasa dirinya sangat egois saat ini.


Tentu saja ini bukanlah seperti yang Ayu kenal, dirinya selama ini merasa selalu mengalah, apapun yang orang tua dan Maya inginkan selalu ia turuti. Ia akan melakukan apapun demi menyenangkan orang lain, tidak peduli jika dirinya sendiri yang malah tersakiti.


Namun kini, semenjak kejadian di Desa saat Maya membohonginya, itulah puncak ketidak percayaan Ayu dan merasa ingin sesekali saja untuk egois. Ia ingin menyenangkan dirinya sendiri juga. Ia ingin jalan dengan pilihannya sendiri.


Setelah Ayu membersihkan mejanya yang kotor akibat tumpahan tadi, ia menghampiri Rina dengan khawatir.


"Katakan apa maumu, Yu!" Ujar Rina tiba-tiba saat Ayu mendekatinya perlahan. Dengan gelagatnya yang begitu sudah jelas terlihat bahwa Ayu sedang ada maunya.


"Sebenarnya, aku mau tanya tentang sesuatu..."


"Apa?" Tanya Rina mengambil ponsel dari sakunya, hari ini kafe sedikit lebih sepi dari biasanya jadi mereka bisa bercengkrama lebih mudah.


"Itu... aku mau tanya, ini tentang temanku,"


Rina menoleh memperhatikan Ayu dengan tampang tidak percaya, ia mengangkat alisnya mencoba memastikan.


"Iya, ini temanku! Temanku..." Ulang Ayu kesal.


"Iya-iyaa... Jadi, kenapa TEMAN-mu itu?" Rina melengos pada ponselnya lagi.


"Begini, jadi temanku ini bertemu dengan seorang pria yang gagal menikah, lalu mereka saling suka, suatu saat temanku berniat untuk mengejar cinta si pria tapi dia tidak tahu bahwa ternyata pria ini jadi melangsungkan pertunangan..."


"Lalu?" Rina sembari berdehem mengerti, meskipun matanya tertuju pada ponselnya namun Rina sangat memperhatikan temannya itu.


"Lalu... mereka bertemu lagi dan si pria menjelaskan bahwa itu hanya seperti pertunangan kontrak dan... dan... mereka akhirnya menyatakan cintanya." Ayu menarik napas untuk memulai ceritanya kembali, "sekarang, temanku ini bertanya, apakah hubungan mereka ini bisa berlanjut? Lalu, apa temanku ini bisa disebut sebagai pelakor?"


"Hemm..." Rina kini mengantongi ponselnya kembali, "menarik juga ceritamu."

__ADS_1


"Ini soal temanku."


"Iya temanmu iya..." Rina kini menyilangkan kedua tangannya dan berdiri di hadapan Ayu, "bukankah itu sudah jelas?"


"Apa?"


"Temanmu itu bisa disebut sebagai pelakor dan jika aku jadi dia, aku akan segera memutuskannya. Apa temanmu itu bodoh? Kelihatan sekali kalau dia cuman mau dijadikan simpanan..."


Ayu melongo tidak menyangka jawaban Rina akan demikian. Ia seketika menjadi khawatir, "benarkah?"


Rina mengangguk yakin, "temanmu itu terlalu polos, coba saja suruh pria itu untuk memilih sekarang, aku yakin 100% dia tidak akan memilih TEMAN-mu itu..."


Ayu kini mengerutkan dahi, bisa jadi benar perkataan Rina barusan.


"Dengar ya, Ayu!" Rina kini menatap Ayu dengan serius, "lain kali, kamu harus lebih tegas menghadapi pria semacam itu. Jangan berikan mereka jawaban yang abu-abu, jika mau A ya A, jika maunya B ya B, dengan sikapmu yang menerima dia begitu saja, hanya akan membuatnya semakin leluasa dalam memperlakukan wanita..." akhir kata Rina menepuk-nepuk bahu Ayu.


"Begitu ya..." Ayu menunduk mencoba memahami kalimat Rina barusan dan sedetik kemudian menyadari sesuatu, "Hei! Itu bukan tentang aku, tentang tem...an...ku?" ucapnya semakin melemah kini memilih untuk menyerah.


Rina terbahak melihat tingkah Ayu yang salting barusan, "tidak masalah jika kamu mau bercerita denganku, aku bukan perempuan yang bermulut besar. Tenang saja..."


"Enggak." Ucap Rina cepat kemudian melepaskan tangannya dan berjalan menjauh, "selamat dataang! Silahkan pesan sebelah sini ya..."


...\~oOo\~...


Ayu masih teringat betul perkataan Rina tadi siang, ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya menunggu sebuah pesan balasan datang.


Sebelumnya gadis itu mengajak Arshaka untuk bertemu dan membicarakan sesuatu, namun sudah lebih dari setengah jam ia hanya duduk menunggu. Tidak ada satupun pesan dari Arshaka ia terima.


Namun tanpa menunggu lagi, ternyata Arshaka sudah ada di belakangnya mengagetkan Ayu. "Hei?" Sapanya memeluk Ayu dari belakang.


Ayu dengan cepat melepaskan diri dari tubuh Arshaka, ia ingat nasihat Rina bahwa ia harus bersikap tegas terhadap pria.


"Kamu kenapa?" Tanya Arshaka kebingungan, kini tak ia lihat senyum disana yang biasa ia temui saat berjumpa dengan Ayu. Pria itu berusaha menggenggam tangan Ayu namun gadis itu  segera menghindar. "Apa aku ada salah?"


Ayu terdiam, tipikal. Bukan takut untuk memulai, Ayu hanya bingung dengan apa yang harus dia sampaikan.

__ADS_1


"Katakan padaku, ada apa, Ayu?" Suara Arshaka melembut, masih berusaha untuk menggenggam tangan Ayu namun Ayu terus menghindar.


"Arshaka?"


"Iya, Ayu?"


Kini Ayu mendongak untuk menatap mata Arshaka, "aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain..."


"Apa maksudmu?"


"Kamu dan Salina, kalian sudah bertunangan. Tidak seharusnya kita seperti ini, tidak seharusnya kamu membuatku merasa menjadi wanita yang paling buruk..." Ayu sedih, namun ia tak akan menangis di depan Arshaka.


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita yang buruk, Ayu. Aku mencintaimu..." Arshaka ingin mengelus kepala Ayu, namun tangan Ayu segera menepisnya dengan cepat.


"Aku tidak ingin berada diantara kalian!"


"Kumohon Ayu, jangan berkata seperti itu..."


"Maka putuskan dengan siapa kamu ingin hidup bersama!"


Arshaka terperangah mendengar ucapan Ayu barusan, ia sungguh tidak menduga Ayu akan mengatakan kalimat tersebut dan lagi, ia tidak bisa memutuskan dengan cepat. Ia butuh waktu, mengingat kondisinya yang masih belum pulih total.


Ayu masih menunggu namun Arshaka terus mengulur waktu.


"Baiklah!" Ucap Ayu sangat kesal, seharusnya jika Arshaka benar-benar mencintainya ia bisa menjawab pertanyaan itu dengan sangat mudah, bahkan mungkin tidak perlu pikir panjang untuk menjawabnya. Namun ini sudah lebih dari 10 detik dan Arshaka belum juga memberikan jawaban.


Ayu ingin menangis sekarang, ia melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat itu namun tangan Arshaka menyusulnya, ia memeluk tubuh Ayu dengan sangat erat. "Maaf, aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi, kumohon tunggulah aku menyelesaikan urusanku..."


"Apa sesulit itu untuk menjawab?"


Arshaka menggeleng sedih dan kesal terhadap dirinya sendiri, "aku memilihmu, Ayu..."


"Mungkin ini akan terdengar egois, Ka, tapi, apa kamu bisa meninggalkan Salina untukku?"


Lagi-lagi, Arshaka tidak bisa menjawabnya dengan cepat. "Aku bisa, tapi tidak sekarang..."

__ADS_1


"Baik, aku anggap itu jawabanmu!" Ayu menghempaskan tangan Arshaka dan berjalan menjauh, sebelum itu, ia menghentikan langkahnya dan berkata, "bahkan kamu tidak membalas pesanku dan malah tiba-tiba kesini, aku menunggumu Arshaka! Setidaknya, beri aku kabar agar aku tidak khawatir!" Ayu melepaskan segala keresahannya dan berlanjut pergi meninggalkan Arshaka sendirian disana.


__ADS_2