Wedding Disaster

Wedding Disaster
Curahan hati Sisil


__ADS_3

Nita dan Citra mengepalkan tangannya begitu melihat Azura dan Sisil masuk ke dalam lift saat jam pulang kantor berakhir. Keduanya hanya bisa menatap dari jauh saat semua karyawan lain satu persatu meninggalkan kantor sementara mereka harus berjibaku dengan peralatan seperti sapu dan lap pel.


Setelah mendapat surat peringatan langsung dari direktur, mereka pun di hukum untuk membersihkan satu lantai divisi keuangan menggantikan tugas cleaning service. Jadilah sore hari ini mereka berdua mendadak menjadi upik abu.


"Sial! Bisa-bisanya mereka berdua hanya mendapat teguran saja sementara kita mendapat SP 1 plus membersihkan satu lantai divisi keuangan." gerutu Nita penuh kemarahan.


"Pak Teguh memang gak adil terutama sama si Cupu itu, terlihat banget dia pilih kasih jelas-jelas kita gak salah malah mereka yang bebas dari hukuman." ucap Citra yang masih memegang sapu di tanganya.


"Sekarang mereka boleh tertawa, tapi lihat saja gue akan kasih pelajaran sama mereka berdua, terutama si Azura biar semua orang di sini tahu jika dia bukan wanita baik-baik."


"Tampangnya doang yang polos, padahal simpanan banyak pria tuh." tambah Citra.


"Sudahlah ayo kita kerjakan hukumannya biar cepet pulang dari sini!" ajak Nita. Dan kedua orang itu mulai melakukan tugas mereka walaupun dengan terpaksa.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Sementara itu Azura dan Sisil memutuskan untuk mampir terlebih dulu di cafe yang tak jauh dari kantornya sebelum mereka pulang kerumah. Azura memesan segelas cappucino sementara Sisil memesan orange juice dan beberapa camilan.


"Suami kamu gak jemput Sil?" tanya Azura karena biasanya Sisil tidak pernah pulang dengan ojek online.


"Suamiku lagi tugas ke luar kota Ra makanya aku pulang mau naek ojek online." jawab Sisil sambil mengunyah camilannya.


"Yah kesepian donk." kekeh Azura.


"Udah biasa Ra, tiap bulan pasti ada jadwal Mas Reza tugas ke luar kota."


"Emangnya suami kamu kerja dimana Sil?"


"Di perusahaan property sebagai manajer pemasaran."


"Gaji manajer kan lumayan Sil, ngapain juga kamu masih kerja?"


"Nyari kesibukan Ra, sebelum di kasih momongan aku masih pengen kerja."


"Iya juga sih, Emm...gimana awal-awal kamu menjalani pernikahan ini?"


"Awalnya canggung Ra, aku kan sama Mas Reza gak pacaran dulu kita di jodohin, tapi setelah empat bulan pernikahan kami aku sedikit demi sedikit sudah bisa memahami suamiku, yah walaupun dia kadang masih bersikap dingin sama aku."


"Aku salut sama kamu mau nerima perjodohan itu dan menjalaninya bersama-sama."


"Ya..meskipun tak ada cinta dalam pernikahan kami, tapi aku percaya suatu saat nanti Mas Reza pasti akan membuka hatinya untuk aku."

__ADS_1


"Aku pikir sekarang kalian sudah saling cinta, mengingat betapa perhatiannya Mas Reza suka antar jemput kamu."


Sisil tersenyum simpul mendengar ucapan Azura "itu hanya bentuk tanggung jawab dia sebagai seorang suami Ra gak lebih, asal kamu tahu sampai detik ini Mas Reza belum pernah menyentuh aku dan aku masih virgin Ra." ucapnya setengah berbisik di akhir kalimat.


Azura membulatkan matanya mendengar ucapan Sisil "serius kamu masih virgin?"


Sisil mengangguk sambil menyesap minumannya.


"Gila! Gila! Suami kamu tahan juga ya, aku pikir selama ini kamu sudah merasakan apa itu surga dunia." ucap Azura polos.


Sisil langsung tertawa lebar melihat ekspresi Azura "jangan-jangan kamu lagi yang udah gak sabar pengen ngerasain surga dunia?" goda Sisil.


"Apa sih aku masih polos tahu Sil, pacar aja gak ada."


"Iya-iya masih polos tapi yang deketin banyak kan termasuk pak Tristan bos muda yang di kagumi banyak cewek."


Azura hanya memutar kedua bola matanya begitu Sisil menyebut nama Tristan.


"Kok bisa kamu sama Mas Reza belum pernah melakukan hal itu? Ku pikir dua orang yang sudah menikah itu pasti akan melakukannya meskipun hanya ***** bukan cinta?"


Azura tiba-tiba bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri, dia memikirkan hubungannya akan seperti apa jika sudah menikah dengan Tristan. Karena bagaimana pun mereka juga di jodohkan sama seperti Sisil.


"Lalu selama ini kalian ngapain aja?" tanya Azura kepo.


"Hanya sebatas tidur biasa, cium tangan, cium kening, pelukan udah gitu aja."


"Ini..." Azura menunjukan bibirnya dengan senyum menggoda.


"Pernah sekali Azura dan itu pun karena Mas Reza lagi mabuk dan tiba-tiba...ya seperti itu lah." ucap Sisil malu-malu.


"Hahaha...aku yakin nih bentar lagi di antara kalian muncul benih-benih cinta, apa jangan-jangan sekarang kamu sudah cinta sama suami kamu?"


"Aku belum bisa mendeskripsikan perasaanku ke Mas Reza, ntah ini Cinta atau hanya perasaan nyaman saja."


Saat kedua orang itu tengah asyik berbincang tanpa di sangka-sangka Tristan dan Arga datang menghampiri Azura.


"Loh kamu di sini juga Ra?"


Azura langsung memberi kode pada Tristan agar dia tidak sok kenal di depan Sisil, karena bagaimana pun Sisil belum mengetahui identitas asli Azura. Tapi sepertinya Tristan tidak memperdulikan Azura dan malah ikut bergabung di meja yang sama.


"Kita boleh gabung di sini kan?" tanya Tristan basa-basi padahal Tristan sudah duduk nyaman sebelum di persilahkan.

__ADS_1


Azura mendengus kesal dan tidak memperdulikan keberadaan Tristan. Dia hanya fokus dengan camilan di depannya. Sementara Arga buru-buru memesan minuman melihat bosnya sudah mendapat tempat duduk.


"Silahkan pak!" Sisil yang berinisiatif menjawab melihat Azura yang acuh pada Tristan.


"Kamu teman satu divisi Azura ya?"


"Betul pak dan pak Tristan siapanya Azura?"


Azura menoleh dengan cepat kearah Tristan dia melotot di balik kacamata tebalnya agar Tristan tidak membocorkan identitasnya. Tristan hanya tersenyum melihat kepanikan di wajah Azura.


"Hmmm..saya..saya teman masa kecilnya Azura."


Azura menghela nafasnya begitu Tristan mengakuinya sebagai teman kecil bukan sebagai calon istrinya.


"Kamu kenapa gak pernah bilang jika pak Tristan ini teman kecil kamu Ra?"


"Buat apa gak penting juga kan!" ucapnya acuh sambil menyesap kopinya yang tinggal setengah.


"Balik sekarang yuk Sil!" ajak Azura.


"Biar aku antar Ra!" Tristan langsung menawarkan tumpangan.


"Gak usah kamu kan baru nyampe, minuman kamu aja masih utuh."


"Gak papa,"


"Aku pulang bareng Sisil!"


"Yah sekalian temanmu aku anterin juga, ayo Ga!!"


Tristan langsung berdiri di ikuti oleh Arga yang setia mengikuti kemana pun bosnya pergi. Azura pun hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Tristan daripada harus berdebat dengannya di depan Sisil.


bersambung...


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Visual Sisil...



...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...

__ADS_1


__ADS_2