Wedding Disaster

Wedding Disaster
Mengejar Cinta Ayu


__ADS_3

ARSHAKA sudah mencari Ayu di kafe tempatnya bekerja, namun rupanya ia terlambat.


Awalnya Rina enggan memberitahu tentang kabar Ayu, namun Arshaka terus memaksa dan mau tidak mau akhirnya Rina menceritakan apa yang terjadi.


Tentang Ayu yang akan menerima lamarannya dengan Bima, gadis itu mengatakan bahwa ia tidak ingin membantah permintaan Maya lagi. Ayu merasa, bagaimanapun ia mencoba keluar dari zona nyamannya, selalu akan ada yang menariknya untuk kembali.


Rina juga bercerita tentang Ayu yang sebenarnya masih menyimpan perasaan kepada Arshaka, namun ia tidak bisa menjalani hubungan yang beda kasta, terlebih lagi Arshaka sudah memiliki tunangan.


Arshaka bergegas pergi ke desa, ia ingin menemui Ayu. Ingatannya kini sudah pulih, Arshaka sudah sepenuhnya sadar dan ia masih tetap mencintai Ayu.


...\~oOo\~...


“Keputusan yang bagus, Yu!” Ucap Maya melihat adiknya bangga, Ayu sudah siap dengan gaun pernikahannya.


Kali ini ia mengenakan gaun berbeda dari terakhir kali yang ia pakai.


“Kamu udah yakin, Yu?” Tanya Andini Ibu Ayu, seketika nampak khawatir, mereka tidak tahu apa yang dilalui Ayu sebelumnya.


Yang mereka tau hanya, Ayu yang tiba-tiba menghubungi Ibu dan bilang akan pulang. Kemudian saat Maya mengomelinya tentang pernikahannya lagi dengan Bima, tau-tau Ayu setuju begitu saja.


Tentu saja membuat Ibunya bingung, namun Ayu hanya menjelaskan bahwa ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya ingin membantu keluarganya.


“Iya, Bu. Jangan khawatir…” balas Ayu namun tanpa senyuman.


“Acaranya akan dimulai 15 menit lagi!” Maya nampak buru-buru, ia merapikan kembali bajunya.


“Iya, mbak…” Ayu berjalan pelan keluar dari ruang ganti.


Diluar sana, Ayu sudah bisa melihat banyak mata memandang, ada altar tempat dia dan Bima nantinya akan mengucapkan janji suci.


Jantung Ayu tidak siap, ia sangat ketakutan, bukan karna ia senang namun justru sebaliknya.


“Pengantin wanita!” Maya menarik tangan Ayu, ia kini memegangi lengan Ayu mengajaknya untuk berjalan bersama menyambut calon suaminya.


Di depan sudah terlihat Bima dengan jas warna hitam yang rapi. Jika Arshaka berusia 27 tahun, sedangkan Bima sudah berusia 29 tahun, mereka tidak beda jauh.


Ayu mempersiapkan batinnya, acara sudah dimulai.


Apa dia benar-benar akan menikah sekarang?


Suara musik mulai mengalun pelan, mengiringi Ayu dan Bima yang saling mendekat, langkah demi langkah Ayu pijakkan, begitu juga dengan Bima yang sedang tersenyum senang.


Bima mengulurkan tangannya, mereka saling menggenggam dan kini berjalan bersama.


Di depan sana, sebelum mereka mengucapkan janji sucinya, terlihat seseorang datang dengan keringatnya yang bercucuran.


Pria dengan langkah yang lebar dan sorot mata hanya tertuju pada Ayu seorang.


Arshaka! Itu Arshaka! Apa Ayu tidak salah lihat?!

__ADS_1


“Tolong penjaga!” Teriak salah satu warga panik karena melihat seorang pria berjalan menghampiri sang pengantin dengan percaya diri.


“Ada apa ini?”


“Nggak tau itu ada orang tiba-tiba nerobos masuk…”


Semua orang gaduh, Ayu sendiri masih tercengang dengan apa yang dilihatnya ini apakah nyata?


Arshaka berdiri di depan Bima dan Ayu, ia melihat tangan Ayu yang bergandengan dengan pria di hadapannya itu.


Dengan cepat Arshaka merebut tangan mungil itu dan menyingkirkan telapak tangan Bima menjauh.


Arshaka menarik Ayu tanpa mengatakan sepatah katapun, lalu langkah mereka semakin berirama hingga keduanya lari menjauhi gedung pernikahan.


Mereka berlari bersama, Arshaka menggenggam erat tangan Ayu. Ingin membawanya cepat-cepat pergi.


Apa yang harus Ayu rasakan? Sedih? Senang? Kesal? Bingung? Marah? Semua jadi satu. Namun yang jelas perasaan yang benar-benar terasa sekarang adalah, bersyukur.


Arshaka membawa Ayu berlari semakin jauh, ia memasuki hutan entah kemana kaki mereka melangkah.


Sangat jauh hingga keduanya menemukan sebuah sungai dengan air terjun kecil yang mengalir disana.


Arshaka dan Ayu terengah-engah kecapekan. Mereka sekilas saling memandang kemudian tertawa bersama.


Arshaka berusaha mengatur napasnya, ia yang paling lelah disini karena perjalanan dari kota ke desa sangat jauh dan ia masih harus membawa seorang pengantin lari dari pestanya.


Tanpa menjawab Ayu tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa tertawa?”


“Apa-apaan ini?” Ayu merasa ini lucu saja.


“Aku mendapat kabar bahwa kamu akan menikah di kampung halaman, jadi aku langsung kemari…”


“Jadi, kamu kesini untuk membawaku lari di hari pernikahanku?”


Arhaka mengangguk, napasnya mulai stabil sekarang.


Ayu tak kuat menahan tawanya, membuat Arshaka ikut tertawa juga. Kemudian, mereka duduk di salah satu batu besar disana. Menghadap ke arah air terjun kecil, sangat damai disini rasanya.


Hanya ada mereka berdua, suara gemericik air dan deru angin.


“Aku sudah mengingat semuanya, Ayu…” ucap Arshaka mulai menjelaskan.


“Sungguh?”


“Iya, aku ingat tentang siapa diriku, apa yang terjadi di hidupku dan apa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini…lalu yang terpenting, aku tetap mencintaimu.”


Ayu melemparkan batu kerikil kecil yang ia dapat disana. “Jangan berkata seperti itu…”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Kamu lupa apa yang terjadi saat makan malam bersama dengan keluargamu kemarin?”


Arshaka terdiam.


“Aku takut jika merusak hidupmu, Arshaka…”


Lalu pria itu menatap mata indah Ayu, “hidupku akan rusak, jika kamu pergi dariku.” Arshaka menggenggam tangan Ayu dengan erat. “Tetaplah bersamaku.”


“Tidak semudah itu…” ayu mengalihkan pandangan, ia tidak mau melihat mata Arshaka. Jika melihat mata pria itu, Ayu hanya akan selalu luluh.


“Aku tau, Ayu… Kumohon, beri aku kesempatan untuk bisa mendapatkan kepercayaanmu. Beri aku waktu…” pinta Arshaka.


Ayu sedikit memikirkan namun pada akhirnya ia mengangguk setuju.


Arshaka memeluk tubuh Ayu dengan erat, ia tidak akan melepaskan gadis yang disayanginya ini lagi. Tidak akan.


“Kamu cantik sekali hari ini dengan gaun pengantinmu. Tapi aku tidak rela jika itu untuk orang lain…”


Ayu tersipu malu mendengarnya lalu tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Arshaka.


“Kenapa?”


Ayu mengambil cincin yang ia bawa, cincin pernikahan yang seharusnya ia sematkan dijari manis milik Bima. Ia menyipitkan matanya melihat jauh ke depan, kemudian dengan ancang-ancang yang cukup, Ayu melemparkan cincin itu sejauh mungkin.


“Kamu membuangnya?” Tanya Arshaka kaget.


Ayu mengangguk, “itu janjiku untukmu… aku sudah gagal menikah 2 kali, bukankah itu lucu?” Ucapnya ringan lalu tertawa.


Arshaka sangat senang bahwa Ayu bisa menerimanya dan memberi kesempatan sekali lagi untuk membuktikan bahwa Arshaka bisa memperjuangkannya.


Pria itu kemudian ikut melepaskan cincin pertunangannya dengan Salina. Ia membuang jauh-jauh benda tersebut. Sedikit membuat Ayu kaget karna Arshaka tidak perlu melakukannya juga.


“Aku juga sudah gagal 2 kali.”


Ayu tidak kuat menahan tawanya, begitupun Arshaka.


Lalu pria itu seperti mencari-cari sesuatu.


Ia mengambil sebuah batang ranting kecil dan merangkainya menjadi lingkaran dengan ornamen bunga. Ia membuat sebuah cincin yang cantik.


“Ayu…” ia menunduk di depan Ayu, “aku tau ini cuman ranting, tapi anggap saja kita sedang latihan untuk pernikahan yang selanjutnya, agar berhasil. Dan aku harap itu bersamamu, will you marry me?”


“Yess, I will!” Jawab Ayu tanpa berpikir panjang, ia memberikan tangannya dan dengan segera Arshaka sematkan cincin rantingnya pada jari manis Ayu.


Pria itu menggendong tubuh Ayu dengan senang, mereka tertawa bersama. Sesekali Ayu menyipratkan air ke tubuh Arshaka, begitu juga Arshaka yang tidak mau kalah hingga tanpa sengaja kaki Ayu terpeleset dan jatuh diatas tubuh Arshaka.


Mereka sangat basah. Tubuhnya masuk ke dalam sungai, namun tawa mereka justru lebih sering terdengar.

__ADS_1


__ADS_2