Wedding Disaster

Wedding Disaster
Kondisi Azura


__ADS_3

Memberanikan diri memasuki ruangan sang istri, Tristan melangkah mendekati ranjang pasien. Tristan tersenyum melihat Azura yang begitu terlelap dalam tidurnya, dia lalu mendudukan dirinya dan menggenggam erat tangan Azura. Di kecupnya dengan penuh segenap perasaan, berharap saat Azura terbangun akan kembali mengingat dirinya bukanlah sang mantan.


Di tahannya segala rasa yang bergejolak di dada, ingin merenda kisah manis sebagai pengantin baru namun harus tertahan tatkala ujian itu datang melanda.


"Azura sayang kenapa harus dia yang kamu ingat, apa sedikit pun tidak ada namaku di dalam hatimu." luruh sudah air mata yang sedari tadi di tahan oleh Tristan, menangisi nasib yang kurang baik di saat sang istri lebih mengingat mantan tunangannya.


"Kamu tenang saja aku akan mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpa kita."


"Aku akan dengan sabar menunggu hingga kamu kembali mengingat diriku,"


Cup!!


Tristan mengecup kening Azura sedikit lebih lama, sementara Azura yang tengah terlelap sedikit terusik dan langsung membuka matanya. Dia begitu kaget saat ada seorang pria yang mencium keningnya, dia langsung terbangun dan mendorong tubuh Tristan dengan kasar.


"Kamu siapa??pergi dari sini!!" teriak Azura histeris. Dia langsung meraih bantal dan melemparkannya pada Tristan.


"Tenang sayang ini aku Tristan,"


"Aku gak kenal kamu, pergi dari sini!!!"


Mendengar suara ribut-ribut di dalam, mamah Theolla dan Diandra yang tengah menunggu di luar langsung masuk kedalam. Dia terkejut melihat Azura tengah mengamuk melempari Tristan dengan barang-barang yang berada di sekitarnya.


"Sayang tenang nak, ini mamah." mamah Theolla mencoba menenangkan Azura agar berhenti melempari Tristan.


"Suruh dia pergi mah, dia sudah berbuat kurang ajar terhadapku." Azura menatap sengit terhadap Tristan.


"Iya sayang," mamah Theolla menatap Tristan berharap Tristan mengerti dengan keadaan yang terjadi.


Tristan buru-buru keluar dengan hati yang terluka. Dia lalu duduk di kursi tunggu, dan hanya bisa menundukan kepalanya. Suara langkah kaki yang mendekat membuat Tristan mendongakan kepalanya, dia melihat Arga dan Sisil yang sudah berdiri di hadapannya.


"Selamat sore tuan muda," sapa Arga.


"Selamat sore pak," Sisil bergantian menyapa Tristan.


"Kalian mau menengok Azura?"


Arga dan Sisil mengangguk bersamaan.


"Saya turut prihatin pak atas musibah yang menimpa bapak dan ibu Azura."


"Ya..kalian masuklah!! Tapi kondisi Azura sekarang mengalami amnesia sebagian, dia hanya mengingat kejadian di masa lalu dan bisa jadi dia juga melupakan kalian karena dia pun tidak mengingat saya sebagai suaminya."


Arga dan Sisil cukup terkejut dengan penuturan Tristan. Mereka tidak menyangka akibat dari kecelakaan itu akan berimbas pada kondisi psikis Azura.


Perlahan Arga dan Sisil masuk keruang perawatan Azura. Disana terlihat mamah Theolla yang tengah menenangkan Azura.

__ADS_1


"Selamat sore bu,"


"Ah kalian kemarilah!!" mamah Theolla melambai menyuruh Arga dan Sisil mendekat.


"Bagaimana kondisi bu Azura??"


"Seperti yang kalian lihat keadaannya sudah baik-baik saja, hanya saja emosinya masih kurang stabil."


"Kami turut prihatin bu mendengar kondisi nona Azura."


"Terima kasih ya kalian sudah mau datang menjenguk Azura."


Azura lalu menatap Arga dan Sisil bergantian, tapi dirinya tidak sama sekali mengingat kedua orang ini.


"Mereka ini siapa mah? Apa aku mengenal mereka juga?"


"Tentu saja sayang, Sisil ini asisten kamu di kantor."


"Asisten apa sih mah? Aku kan kerja hanya jadi karyawan biasa."


"Ya karena kamu lagi sakit sayang, makanya tidak bisa mengingat kejadian di masa sekarang."


Sisil tersenyum menatap Azura, meskipun kini Azura tidak mengingatnya tapi Sisil harus tetap menghormati Azura sebagai atasannya.


"Apa kabar bu? Maaf saya baru datang menjenguk ibu."


"Gak papa bu."


"Dia siapa? Pacar kamu ya?" pandangan Azura beralih pada Arga yang berdiri di sampingnya.


Arga hanya mengangguk dan tersenyum pada Azura, dia tidak mengatakan jika sebenarnya Arga asisten dari suami Azura.


Setelah Arga dan Sisil pamit pulang, kini giliran Kenzo dan Agnes yang datang menjenguk.


"Kalian kok datangnya bisa barengan sih? Sejak kapan kalian jadi dekat?" tanya Azura saat melihat Kenzo dan Agnes bersamaan.


"Udah Ra..gak usah pikirin itu yang penting kamu sembuh dulu, kasihan noh Tristan yang kamu cuekin."


"Tristan siapa aku gak kenal dia."


"Tristan itu su.. " ucapan Agnes terpangkas saat Kenzo menutup mulutnya. Lalu dengan isyarat matanya Kenzo menyuruh Agnes agar tidak membahas mengenai Tristan demi menjaga emosionalnya.


"Kamu tahu gak Nes kak Denis udah melamar aku, jadi bentar lagi aku bakal nikah sama dia." ucap Azura berseri-seri.


"Oh yah..selamat kalau gitu."

__ADS_1


"Kamu jangan berangkat ke Jepang dulu, nanti hadir di nikahan aku ya."


"Iya Azura aku pasti hadir di nikahan kamu."


"Cuma aku lagi bingung nih Nes, kak Denis kok susah banget ya di hubungi. Tolong donk kalau kamu ketemu dia suruh datang kesini, masa aku sakit dia gak nengokin."


Agnes dan Kenzo hanya saling berpandangan.


"Udah Ra jangan bahas Denis dulu sekarang fokus sama kesembuhan kamu." tutur Kenzo.


"Nih orang pada kenapa sih tadi papah, Alvero, sekarang kamu yang ngelarang aku buat bahas Denis. Orang dia calon suamiku ya terserah aku lah mau bahas dia juga." ucap Azura sengit.


"Bukan gitu maksudku Ra.."


"Udahlah kamu gak asyik Ken..pergi sana!!"


Dan akhirnya Kenzo keluar meninggalkan Azura dan Agnes berdua.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Papah Jupiter, Alvero, Tristan dan Kenzo kini tengah minum kopi bersama di cafetaria yang berada di rumah sakit.


"Menurutku kita beritahukan saja yang sesungguhnya pada Azura, jika Denis hanyalah masa lalu dia dan Tristan lah suaminya." ucap Alvero mencoba mengeluarkan pendapatnya.


"Papah juga maunya gitu, cuman saran dari dokter Azura di larang untuk terlalu keras mengingat hal-hal di masa sekarang demi pemulihannya. Biarkan semua berjalan dengan sendirinya hingga Azura akan mengingat siapa Tristan."


Tristan menghirup aroma wangi dari biji kopi dan menyesapnya sedikit demi sedikit "aku tidak keberatan pah biarkan saat ini Azura mengingat Denis, aku akan sabar menunggu hingga Azura sembuh."


"Keren lo bro!! Gue kalau jadi lo udah kagak sanggup." ujar Kenzo sambil menepuk punggung milik Tristan.


"Demi kesembuhan Azura apapun akan gue lakukan, termasuk mempertemukan Azura dengan Denis."


"Kalau itu gue gak setuju!!" sanggah Alvero yang sudah terlalu membenci Denis.


"Tapi Azura terus mencari Denis, dokter pun menyarankan agar Azura di pertemukan dengan Denis terlebih dulu demi membantu pemulihannya."


"Yang di katakan Tristan benar nak, secepatnya kita memang harus mempertemukan Azura dan Denis karena dari kemarin Azura terus-terusan mencari Denis."


"Tapi nanti dia besar kepala pah.."


"Kita akan mengawasinya saat Azura dan Denis bertemu, jangan sampai Denis memanfaatkan situasi yang ada."


bersambung...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


...*Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπŸ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih***πŸ™πŸ˜**...


__ADS_2