Wedding Disaster

Wedding Disaster
Calon Penerus


__ADS_3

ARSHAKA berjalan dengan cepat ditemani oleh asistennya, ia sudah mengenakan setelan jas lengkap dan rapi karena akan ada meeting dadakan.


"Apa Pak Arshaka sudah mengingat semua nama dan jabatannya?" Tanya Henry menyamakan langkah kaki Arshaka, ia adalah asisten yang ditugaskan untuk menemani Arshaka mulai hari ini.


"Ingatkan aku jika salah menyebut nama mereka..." Arshaka memberikan kode agar Henry terus mendampinginya.


Hendry mengangguk sebelum keduanya memasuki ruang meeting.


Disana sudah ada beberapa orang yang berkumpul serta Rudi yang memimpin acara. Hari ini ia akan mengumumkan bahwa Arshaka akan menjadi calon CEO penerus dari perusahaannya, Rosehill Corp.


Rudi sudah mewanti-wanti Arshaka agar lebih berhati-hati dalam bertindak, karna mulai sekarang semua orang akan lebih memperhatikannya dan juga, Rudi tidak ingin berita tentang hilang ingatan Arshaka tersebar dan menjadi rumor di perusahaan.


Semua orang tahu bahwa Arshaka sempat di rawat karena sakit, namun mereka tidak tahu jika itu adalah hilang ingatan. Rudi tidak ingin client mereka ragu dan takut membuat karyawan khawatir karena kesehatan Arshaka yang sebenarnya belum sepenuhnya pulih.


...\~oOo\~...


"Aku baru pertama kali melihatnya..." ucap salah seorang pegawai wanita saat berpapasan dengan Arshaka di pantry.


"Dia yang bakal gantiin jadi CEO kita nanti!" Teman lainnya ikut nimbrung sembari mengambil potongan udang yang sudah digoreng matang.


Beberapa pasang mata memperhatikan calon penerus perusahaan mereka disana, beberapa diantaranya meremehkan apakah Arshaka sungguh bisa menjadi seorang CEO karena dilihat dari manapun, ia masih sangat muda, usianya masih 27 tahun. Namun, diantara lainnya melihat bahwa Arshaka adalah sosok berkharisma kuat yang tidak bisa ditolak kehadirannya.


"Sumpah, demi apa, dia ganteng banget!" ucap wanita itu lagi.


"Memang, tapi hati-hati dia udah ada bodyguard-nya, alias udah mau kawin!" celetuk teman di sampingnya fokus dengan makanan.


"Yaaah... pupus deh harapan buat modus dikit-dikit..." candanya disusul tawa. "Emangnya siapa calonnya?" lanjutnya masih penasaran.


"Anaknya dari yang punya perusahaan Greenland..." si serba tau informasi sudah hampir lelah memberitahu semua wanita disini bahwa CEO-nya sudah mau menikah.


Para wanita terdengar kecewa, namun sudah seperti yang mereka duga tentang kehidupan konglomerat pada umumnya. Anak pendiri perusahaan menikah dengan anak pendiri perusahaan lainnya, terdengar seperti cinta politik yang didasari oleh ekonomi untuk memperkuat kekayaan. Namun memang itulah yang terjadi.


Arshaka berjalan memilih menu untuk makan siang, sebelumnya Henry sudah memperingatkan Arshaka untuk makan diluar atau memesan makanan dari luar saja, atau minimal minta diantar makanan oleh OB, namun pria itu malah menolak.


"Pak yakin mau makan di pantry saja bareng pegawai lainnya?" Tanya Henry meyakinkan lagi.

__ADS_1


Arshaka mengangguk, "memangnya apa yang kalian khawatirkan?"


"Kelihatannya Anda malah mencuri perhatian mereka semua. Pak Rudi berpesan supaya Anda tidak terlalu mencolok untuk saat ini..."


Arshaka menghela napas mendengar entah kesekian kalinya aturan untuk hari ini, ia hanya ingin makan dengan tenang. "Lalu kamu menyuruhku untuk bersembunyi terus?"


Henry tersentak tidak tahu harus menjawab apa.


"Tenang saja, aku hanya akan makan setelah itu pergi dari sini..." Arshaka membawa nampan makanannya sendiri dan melarang Henry membantunya. Lagi-lagi, perhatian kecil Arshaka yang tidak disengaja justru membuat orang lain ingin terus memperhatikannya.


Arshaka teringat bahwa besok Minggu ia akan bertemu dengan Ayu, pikirannya sedikit melayang membayangkan kejadian kemarin malam. Saat ia nyaris membalas ciuman dari Salina, rasanya Arshaka malu terhadap dirinya sendiri.


Ia menyadari bahwa dirinya hanya mencintai Ayu seorang dan bukanlah Salina. Namun, ia juga menyakiti Ayu jika begini. Arshaka bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Pak?" Panggil Henry entah yang keberapa.


"Ya?" Arshaka terbangun dari lamunannya, ia masih mengunyah makannya.


"Pak Rudi meminta kita ke ruangannya sekarang..."


Henry mengangguk memastikan dia sudah berusaha membuat Arshaka nyaman. "Tapi Pak Rudi tetap menyuruh kita segera kesana."


"Baik kita kesana," Henry nyaris kaget karena tumben sekali Arshaka langsung menurut tidak keras kepala seperti biasanya, namun, "setelah saya selesai makan..." lanjutnya membuat pundak Henry turun kembali.


...\~oOo\~...


Di dalam ruangan Rudi, mereka semua duduk dengan serius kecuali Henry yang berdiri di dekat Arshaka dan bersiap untuk mencatat sesuatu di ipad-nya.


"Presentasi kamu tadi lumayan bagus..." ucap Rudi membuka obrolan.


Arshaka menyilangkan tangannya, menunggu Rudi segera menjelaskan apa tujuannya memanggilnya segera kesini.


"Beberapa hari kedepan akan lebih banyak orang yang memperhatikanmu, jadi tolong jaga sikapmu, Arshaka!" Rudi menatap mata putranya itu dengan serius, "Aku tidak ingin melihatmu terlalu banyak berada diantara karyawan lainnya, semakin sedikit yang mereka ketahui tentang dirimu, semakin baik..."


"Apa maksud Papa?"

__ADS_1


"Jangan panggil Papa saat kita di perusahaan!" Perintahnya sekali lagi, semua orang memang tahu hubungan mereka adalah orang tua dan anak, namun Rudi tetap ingin menjaga hubungannya tetap profesional.


"Jadi, apa maksud Bapak menyembunyikanku?" ralatnya.


"Hanya untuk sementara, setidaknya sampai kondisimu membaik." Rudi kini mengambil cangkir teh panasnya, "saat ini banyak orang yang akan mengincarmu, merebut posisimu dan akan melakukan apapun..." ia menyeruput seduhan pertama.


"Memang apa salahnya dengan kondisiku?"


"Kondisi perusahaan kita sekarang sedang genting, mungkin kamu lupa, tapi jika tidak ada investasi dari Greenland mungkin kita sudah bangkrut sejak kemarin..." Rudi meletakkan kembali cangkirnya, "di kondisi seperti ini, akan ada banyak orang yang berusaha memonopoli jabatannya, berusaha untuk memimpin dengan dalih akan menyelamatkan perusahaan namun terkadang yang mereka lakukan hanya berkorupsi. Kamu tidak ingin hal itu terjadi kan?"


Sejenak Arshaka berpikir.


"Sedikit saja kelemahanmu, bisa menjadi kekuatan bagi mereka."


Arshaka mengangguk kini mengerti, memang banyak hal yang masih ia lupakan namun seiring waktu dengan dibantunya oleh Henry, Arshaka berusaha untuk mengingat semua detail terkecil yang ia lewatkan.


"Jaga sikapmu, aku tidak mau kamu mengecewakan perusahaan atau aku sebagai Papa-mu!"


Setelah obrolan singkat namun juga berat itu, Arshaka keluar ruangan bersama dengan Henry. Lalu, apa yang akan dia lakukan besok? Dia harus bertemu dengan Ayu namun disisi lain ia paham betul dengan apa yang dikatakan Rudi barusan.


Saat mereka jalan, seketika seseorang menghadangnya. Seorang pria tinggi dengan rambut lebih panjang berdiri disana, sorot matanya sangat tajam dan dia tersenyum sinis ke arah Arshaka. "Boleh bicara sebentar?" Tanya-nya percaya diri.


Arshaka melewatkan ini, dia tidak ingat siapa orang di hadapannya. Lalu dengan sigap Henry mendekat kearah Arshaka dan berbisik sesuatu disana, "dia namanya Anthony, anak dari Pak Willy mantan wakil Presdir 5 tahun yang lalu, sekarang dia menjabat di bagian kepala marketing..."


Arshaka kembali menegakkan badannya, setuju jika ada yang ingin Anthony bicarakan. Namun Anthony memberikan isyarat agar Henry pergi menjauh, ia hanya ingin berbicara empat mata dengan Arshaka. "Kamu bisa tinggalkan kami sebentar yaa..." Meskipun sedikit keberatan Henry tetap menurut.


"Apa ada yang bisa kubantu?" Tanya Arshaka formal.


Anthony tertawa menepuk bahu Arshaka, "Ah, jadi kamu beneran lupa sama siapa aku?" Ia kembali tertawa.


Arshaka berusaha mengingat namun tak ia dapatkan apapun dalam memorinya.


"Aku mendengar pembicaraan kalian di dalam," Anthony kembali tertawa namun kini lebih sinis dari sebelumnya, "bukankah ini menarik sekali?" ia menyimpulkan ujung bibirnya ke atas.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


Anthony kemudian mendekat ke telinga Arshaka, "lebih baik kamu menyerah sekarang jika tidak ingin menghancurkan hidupmu..." ancam Anthony kemudian berjalan pergi namun sebelum itu ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Arshaka, "apa kamu masih tidak ingat siapa aku?"


__ADS_2