
ENTAH sudah berapa lama ponsel Arshaka berdering sedari tadi.
Arshaka segera mengangkatnya untuk kali ini, "Halo!"
"Apa-apaan berita di TV itu?!" Seru Anthony dari seberang sana, ia terdengar sangat marah sekaligus kecewa.
"Dengar, kita kemarin sudah membuat kesepakatan dan aku sudah membujuk Papa, tapi kamu tau sendiri bagaimana sifat orang itu..."
"Kamu tau kan konsekuensinya?" Ancamnya dengan nada sangat kesal.
"Apa kamu mengancamku?"
"Hanya itu yang kupunya sekarang."
"Maka kuperingatkan untuk tutup mulutmu! Aku akan membicarakannya lagi nanti..." kata Arshaka ikut kesal, "aku akan memikirkan cara yang terbaik untuk kita."
Anthony tertawa, "terbaik untuk kita? Masih sama saja seperti dulu, lucu sekali. Sayangnya sudah terlambat!" kemudian ia mematikan panggilannya.
...\~oOo\~...
"Ayu?" Panggil Rina saat keduanya sedang berbaring di kasur kamar kost Ayu.
Hari ini mereka mengambil cuti bersama untuk menenangkan pikiran. Rina menginap di tempat Ayu semalam, mereka lebih banyak mengobrol dan jalan-jalan ke tempat yang belum pernah Ayu datangi sebelumnya.
"Kenapa?" Sahut Ayu menatap Rina yang fokus dengan ponselnya.
"Yang kemarin itu pacar kamu kan?"
"Pacar apanya, dia bukan pacarku..." jawab Ayu mendegus.
"Ya intinya, dia cowok yang kamu ceritain waktu itu kan? Lihat! Bukannya ini dia ya?" Ucap Rina menunjukkan ponselnya pada Ayu.
Terdapat sebuah artikel disana, mengatakan bahwa perusahaan Rosehill Corp telah memilih CEO baru mereka yang sangat muda bernama Arshaka Kalingga. Dia adalah Arshaka yang mereka kenal.
Ayu sempat tidak percaya dan mencari-cari sumber lain, melihat video dan berita lainnya, namun yang ia dapatkan sama.
Ia baru menyadari bahwa sosok yang sempat dikencaninya selama ini adalah seorang CEO muda dari perusahaan entertainment terbesar.
__ADS_1
Ayu nyaris menjatuhkan ponsel Rina, ia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Jangan bilang kamu baru tau kalo dia orang kaya?"
Ayu masih terperanjat, "aku... aku tahu dia berasal dari kelurga yang mampu dalam hal finansial, tapi aku tidak menyangka dia ternyata orang yang sangat berpengaruh..."
"Dan sangat kaya raya!" Imbuh Rina mendecakkan lidah. "Nggak ada harapan, Yu!" Lanjutnya.
"Apa maksud Anthony kemarin mengatakan untuk sadar posisi adalah ini? Inikah yang ia maksud?"
"Yu, saranku sih, jangan berani-berani berhadapan sama orang kaya gitu. Kita ini cuman remahan kacang, jangan bandingin sama mereka yang punya segalanya..."
Ayu seketika meneteskan air mata, baru kali ini rasanya ia merasa sangat konyol. Ia malu kepada dirinya sendiri, rasa tidak percaya dirinya mulai menyelimuti.
Jika Arshaka hanya orang biasa, bagi Ayu itu saja sudah cukup. Justru dengan tau fakta bahwa Arshaka adalah orang kaya yang sangat berpengaruh membuatnya merasa sangat minder.
"Jadi, kamu mau gimana, Yu?" Tanya Rina penasaran.
"Aku nggak tau, Rin, aku nggak tau harus gimana..." Ayu semakin menangis, karna menyadari bahwa hubungan mereka sedari awal memang tidak mungkin.
Rina memang bukanlah penasihat cinta yang baik, namun melihat Ayu seperti ini ia merasa iba dan memilih untuk diam saja daripada membuatnya semakin insecure terhadap diri sendiri. Ia menepuk-nepuk punggung Ayu, mereka kini sudah duduk bersebelahan, diam hanya menunggu hingga Ayu merasa lebih tenang.
Rina menatap Ayu lagi, tidak ingin perkataannya menyakiti hati Ayu namun ia ingin mengatakan pendapatnya dengan jujur. "Mungkin kalau aku jadi kamu, aku akan menyerah saja, Yu. Terlihat baik-baik saja jika dilihat dari dekat, tapi coba kamu pikirkan kedepannya, tentang keluarganya, jabatannya, orang-orang yang memperhatikannya, semua akan memperhatikanmu juga. Jadi, aku memilih untuk mundur jika ada diposisimu."
Ayu memainkan ujung kain bajunya, masih dalam isakan tangis yang tidak bersuara.
"Tapi, semua jawaban itu ada di dalam hatimu sendiri, Yu. Bukan aku yang menjalani, kamu. Aku bisa aja ngomong tentang hal yang pengen kamu denger misal, kejar dia Yu! Jangan menyerah, kejar cintamu! Aku bisa, tapi... aku juga pengen kamu memikirkan hal yang lebih rasional dan realistis. Kalau kalian berbeda."
"Aku mengerti, Rin." Ayu kemudian memulai tangisannya kembali. Ia memeluk Rina, membutuhkan seseorang untuk menenangkannya, bersyukur hari ini mereka tidak masuk kerja.
Rina pun dengan senang hati mengelus punggung Ayu agar membuatnya merasa lebih tenang.
"Tapi, Yu..." ucap Rina dengan lembut.
Ayu memperhatikan.
"Walaupun begini, kamu jangan pergi yaa... tetaplah di Jakarta, tetaplah bekerja disini sama aku..."
__ADS_1
Ayu sedikit terhibur dengan Rina yang ikut sedih, membuatnya ingin tertawa melihatnya.
"Baru kali ini aku punya sehabat kaya kamu, yang baik dan nerima aku yang kaya gini..."
Ayu tertawa merasa itu sangat lucu, "jadi, kamu nganggep aku sehabat sekarang?"
"Kenapa ketawa?!" Seru Rina kesal dan segera berbaring kembali pura-pura tidak mengerti perkataan Ayu dan berlagak tidak peduli.
"Rinaa!!!" Seru Ayu dengan keras sembari ikut berbaring memeluk sehabatnya itu.
"Aduh! Lepasin ih, geli! Jangan deket-deket!" Ucap Rina mendorong-dorong tubuh Ayu agar tidak menempel padanya.
"Nggak mau, aku pengen peluk sehabatku! Hiks... aku lagi sedih gini kamu jangan kasar dong!" Goda Ayu kini merasa terhibur.
"Najis, bodo amat! Nangis dah sana nangis!" Mereka tertawa bersama, kini hanya itu yang bisa Ayu lakukan. Berusaha melupakan Arshaka, berusaha menghilangkan harapannya karena rasa tidak percaya diri yang terus mendatangi setiap kali ia melihat sosok Arshaka yang sebenarnya.
...\~oOo\~...
Arshaka berjalan dari pintu utama, kini semua orang mulai memperhatikannya. Bukan hanya karena dia CEO baru di perusahaannya, namun juga karena pesonanya sebagai pria.
Semua mata memandang ke arahnya, terutama para wanita lajang. Meskipun mereka tahu Arshaka sudah bertunangan dengan anak pemilik perusahaan sebelah, bagi mereka sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan untuk tebar pesona dengan pria itu.
Tentu saja hal itu hanya berlaku untuk beberapa wanita saja, hanya beberapa yang merasa dirinya pantas untuk bersanding di samping Arshaka.
"Pak Arsha! Ada sesuatu yang harus Anda lihat!" Henry si asisten yang ditugaskan untuk mendampingi Arshaka datang dengan buru-buru, wajahnya nampak sangat cemas.
"Ada apa?"
"Kita tidak bisa membicarakannya disini, mari ke ruangan Bapak..." ia mempersilahkan Arshaka berjalan di depan.
Arshaka segera mempercepat langkah kakinya, ia berjalan ke ruangannya dan memastikan semua sudah aman.
Henry lalu menunjukkan sebuah pesan, dari Anthony.
"Saya tidak tahu apa-apa, Pak, dan tiba-tiba mendapat pesan ini!"
Arshaka memperhatikan isi pesan tersebut.
__ADS_1
["Katakan kepada atasanmu, aku menunggunya menyelesaikan masalah ini sampai besok malam, jika tidak mau aku mengungkapkan segala rahasianya. Tentang kondisi kesehatannya maupun hal lain yang bisa menghancurkan hidup seseorang mungkin?"]