Wedding Disaster

Wedding Disaster
Memutus kontrak kerja


__ADS_3

Sang raja siang berdiri tegak memancarkan sinar terang bagi penduduk bumi. Awan putih beriringan di atas langit biru menciptakan keindahan yang alami bagi siapa pun yang melihatnya. Pagi menjelang siang mobil BMW hitam terlihat keluar dari area perkantoran, menembus jalanan kota metropolitan yang selalu ramai oleh hiruk pikuk kendaraan bermotor.


Arga fokus memegang kemudi, sesekali dia menguap hingga matanya mengeluarkan air. Sang bos yang duduk di sampingnya terlihat heran dengan asisten kepercayaannya yang mengantuk di jam kerja.


"Gue perhatiin dari tadi lo nguap terus Ga, lo ngantuk?"


Arga tergagap mendengar pertanyaan dari bos mudanya.


"Sedikit tuan."


"Emang semalam lo habis ngapain? Bergadang?" tanya Tristan penuh selidik.


Pikiran Arga langsung berkelana saat semalam dia berada di rumah Sisil. Bagaimana Arga tidak mengantuk pagi ini, jika semalam dia dan Sisil bergadang hingga pukul 3 pagi. Sisil yang meminta Arga untuk menemaninya di rumah, langsung di sanggupi oleh Arga. Setelah puas mengobrol, keduanya pindah keruang keluarga untuk bermain game playstatsion. Arga tidak menyangka Sisil yang terlihat feminim dari luar ternyata mempunyai game yang kebanyakan di mainkan oleh laki-laki.


Karena keasyikan bermain game mereka sampai lupa waktu, Sisil tertidur di atas sofa sementara Arga tertidur di atas karpet tepat di depan playstation. Keduanya hanya tidur 3 jam, setelah itu mereka berdua berangkat menuju kantor.


"Arga!!"


Seruan dari Tristan membuat Arga tersadar dari lamunannya.


"Eh..i..iya tuan muda?"


"Gue tanya malah bengong, nabrak awas lo ya gue potong gaji lo!"


"Maaf tuan."


"Jadi semalam habis nganterin Sisil lo lanjut bergadang?"


Arga mengangguk, ingin menyudahi obrolan seputar bergadang. Jangan sampai bosnya tahu jika Arga semalam menginap dan bergadang di rumah Sisil, bisa-bisa Arga menjadi bahan olokan oleh Tristan.


"Ya sudah gue minta hari ini lo lebih fokus, ingat hari ini kita akan memberi pelajaran pada Denis."


"Baik tuan."


Mobil pun terus melaju di sepanjang jalan layang di pusat ibu kota. Terlihat gedung-gedung pencakar berdiri kokoh menjadi tempat perusahaan besar berada. Sampai akhirnya mobil yang di kendarai Arga berhenti di depan perusahaan Denis. Tristan terlebih dulu berjalan menuju ruangan Denis di ikuti Arga dari belakang.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya sekretaris Denis melihat kedatangan tiba-tiba dari kliennya itu.


"Saya ingin bertemu dengan Denis."


"Maaf pak, tapi beliau sedang ada tamu."


"Apa masih lama?"

__ADS_1


"Saya kurang tahu pak, silahkan bapak menunggu di ruang tunggu terlebih dulu. Setelah tamunya pergi akan saya sampaikan kedatangan pak Tristan pada pak Denis."


Tidak memperdulikan ucapan sekretaris Denis, Tristan menerobos masuk menuju ruangan Denis. Dan hal pertama yang Tristan lihat, Denis tengah memangku seorang wanita dan bermain-main dengannya. Bahkan baju bagian atas wanita tersebut sudah terbuka menampakan dua gundukan sintal di balik bra yang membungkusnya. Arga yang merasa masih polos, langsung membuang muka kearah lain tidak ingin melihat pemandangan langka di hadapannya.


Prok! Prok! Prok!


Tristan bertepuk tangan melihat pemandangan ekstrim yang tersaji di hadapannya "wah saya tidak menyangka ternyata anda orang yang seperti ini pak Denis!"


"Apa-apan ini?" Denis menggeram kesal melihat kedatangan Tristan yang tiba-tiba, bahkan Tristan memergokinya tengah mencumbu seorang wanita panggilan.


"Maaf pak, tapi pak Tristan menerobos masuk dan saya terlambat mencegahnya." ucap sekretaris Denis ketakutan.


"Keluar kamu dari sini!!" usir Denis pada sekretarisnya.


"Dan kamu juga!" Denis menyentak tangan wanita yang masih bergelayut manja pada dirinya, agar keluar mengikuti sekretarisnya. Meskipun kesal, akhirnya si wanita itu pun berlalu dari hadapan Denis.


Kini tinggalah Denis, Tristan dan Arga yang berada di ruangan itu. Denis menatap tajam kearah Tristan yang tertawa mengejek kearahnya.


"Sekarang cepat katakan apa maksud kedatangan anda ke perusahaan saya?" tanya Denis tanpa mempersilahkan kliennya itu untuk duduk terlebih dahulu.


"Arga.." Tristan meminta Arga untuk menyerahkan berkas yang Arga bawa.


Tristan lalu mengambil berkas dari tangan Arga dan melemparkannya kehadapan Denis.


Denis tersentak kaget dengan keputusan Tristan, dia tidak menyangka jika kelakuannya ternyata berimbas pada perusahaan yang Denis pimpin.


"Anda tidak bisa seenaknya memutus kerjasama kita pak Tristan!! pak Pramudya lah orang yang berhak memutuskannya."


"Anda lupa pak Denis jika pak Pramudya adalah Opa saya, dan beliau sudah menyerahkan urusan perusahaan pada saya. Apapun yang menjadi keputusan saya, Opa pasti menyetujuinya!!"


Denis terdiam mendengar ucapan Tristan, jika perusahaan Tristan menarik kerjasamanya maka perusahaannya akan merugi besar. Dia tidak ingin kehilangan proyek emas ini begitu saja.


"Saya akan mengganti kerugiannya sebesar 20% jadi tidak sepenuhnya perusahaan anda rugi besar, setelah ini kita bukan partner bisnis lagi dan saya harap anda berhenti mengganggu tunangan saya!!" ucap Tristan memperingati.


"Ayo Ga kita pergi dari sini, urusan kita sudah selesai!"


Setelah Tristan dan Arga berlalu pergi, Denis mengamuk membuang apa saja yang berada di atas meja.


"Awas saja Tristan tunggu pembalasan dariku!! akan aku pastiin jika Azura akan kembali padaku!!" ucapnya dengan tangan yang mengepal erat.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Tristan dan Arga hampir saja masuk kedalam mobil ketika seorang wanita berteriak dan memanggil nama Tristan. Sontak Tristan berbalik dan melihat Karina yang berjalan terengah-engah.

__ADS_1


"Bener kan aku gak salah lihat, ternyata ini kamu Tristan." ucap Karina berseri-seri. Dia langsung bergelayut pada lengan Tristan, namun Tristan buru-buru melepaskannya.


"Sorry Rin...jangan seperti ini tidak enak di lihat orang."


Karina cemberut dengan tangan bersidekap di depan dadanya "kamu banyak berubah sekarang Tris,"


"Kamu tidak mau kan di hajar lagi oleh Azura, jika ketauan kamu nempel terus sama aku."


Karina lalu teringat perkelahiannya dengan Azura beberapa waktu yang lalu dan itu sukses membuat Karina bergidik ngeri "Hiihh dasar..tunanganmu itu ternyata wanita bar-bar." cebiknya kesal.


"Ya sudah aku mau kembali ke kantor!"


"E..eh...tunggu Tris! aku mau ingetin jangan lupa datang ke acara pesta ulang tahun butik aku ya!"


"Maaf Rin...aku gak janji ya, aku gak mau jika Azura salah paham lagi sama aku."


"Azura lagi...Azura lagi..." dengusnya kesal.


Tristan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Karina "udah paham kan! aku balik ya kasihan asisten aku sudah nunggu di mobil."


"Hey tunggu!"


Tristan hanya menghela nafas kasar dan harus banyak bersabar menghadapi wanita seperti Karina "Apalagi sih Karina?"


"Kamu kok bisa ada di perusahaan om aku, habis ketemu siapa?"


"Denis."


"What?? kalian saling kenal? Denis itu sepupu aku loh Tris."


"Awalnya iya. Sekarang udah nggak." ucap Tristan cuek.


"Maksudnya?" Karina semakin penasaran dengan ucapan Tristan.


"Aku baru saja memutus kontrak kerjasama dengan perusahaan sepupu kamu!!"


Karina membelalakan matanya mendengar ucapan Tristan, setelahnya dia tidak lagi mencegah Tristan memasuki mobilnya dan Karina hanya menatap bayangan mobil Tristan yang semakin menjauh dari pandangannya.


bersambung...


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...

__ADS_1


__ADS_2