Wedding Disaster

Wedding Disaster
Balada cinta sang asisten


__ADS_3

Keheningan tercipta saat Arga dan Sisil berada di dalam mobil yang sama. Tak ada yang berniat untuk memulai obrolan terlebih dahulu padahal sudah sepuluh menit berlalu. Arga fokus menatap kedepan membawa mobilnya menuju kediaman Sisil. Sementara Sisil dia hanya sesekali menatap Arga, yang hanya memamerkan sedikit saja senyumannya.


"Ga.."


"Sil.."


Kedua orang itu nampak canggung satu sama lain, saat mereka dengan serempak mengeluarkan suaranya.


"Kamu saja duluan!" ucap Arga akhirnya.


"Itu..sudut bibir kamu robek Ga, biar aku obati terlebih dulu."


"Gak usah Sil, nanti aku obati pas udah nyampe apartemen. Lengan kamu juga lecet kan, nanti di obati juga ya!"


Sisil hanya mengangguk dan tersenyum simpul, tak berselang lama mobil Arga sudah tiba di depan rumah Sisil. Karena merasa tidak tega melihat luka di wajah Arga, Sisil berusaha membujuk Arga agar mau turun dan di obati terlebih dulu.


"Baiklah jika kamu memaksa, aku gak akan nolak Sil."


Keduanya lalu masuk kedalam rumah Sisil yang terlihat sederhana, ini pertama kalinya bagi Arga menginjakan kakinya di rumah Sisil. Rumah yang menjadi bagian dari harta gono gininya saat menikah dengan suami Sisil terdahulu. Mantan suami Sisil memberikan rumah itu sebagai kompensasi karena menduakan Sisil di saat status mereka masih menikah.


"Kamu tinggal sendiri disini Sil?" tanya Arga saat mendudukan diri di atas kursi yang berbahan dasar kayu jati.


"Ya semenjak mas Reza menggugat aku, dia langsung keluar dari rumah ini dan menyerahkan sertifikat rumah untuk aku. Dia bilang ini bagian dari harta gono gini."


"Orangtua kamu dimana Sil?"


"Mereka tinggal di daerah Bekasi, sebulan sekali aku pasti pulang untuk mengunjungi mereka."


Arga mengangguk-ngangguk mendengar cerita Sisil.


"Ya sudah tunggu sebentar aku buatkan minum dan mengambil dulu kotak obatnya!"


Sisil lalu beranjak menuju dapur dan membuat dua cangkir kopi untuk Arga dan untuk dirinya. Setelah kopi tersaji dengan telaten Sisil mulai mengobati luka Arga yang robek di bagian sudut bibirnya.


"Awww..." Arga meringis saat Sisil mengoleskan obat lukanya.


"Perih ya...maaf tunggu bentar ya Ga!" Sisil memajukan wajahnya meniup luka Arga untuk menghilangkan rasa perih, Arga hanya terpaku memandang wajah Sisil yang begitu dekat di hadapannya. Jantungnya berdebar lebih cepat, saat tiupan halus itu menerpa kulit wajahnya. Apalagi saat Arga memandangi bibir Sisil yang nampak ranum seperti buah Chery. Ada rasa penasaran dan ingin mencicipi walau hanya sedetik.

__ADS_1


"Sudah Ga,"


Arga masih termenung dan Sisil mengibas-ngibas kan tangannya.


"Ga, Arga...!!"


Sadar dari lamunannya Arga mengerjap kaget "eh iya Sil, makasih ya..sini sekarang giliran kamu!"


"Gak usah ini cuma lecet dikit.."


"Tapi sama saja luka," Arga menarik tangan Sisil agar mendekat kearahnya. Arga mulai menggulung kemeja Sisil keatas dan terlebih dulu membersihkan lukanya. Sedikit perhatian dari Arga membuat hati Sisil tersentuh, selama ini dia tidak pernah mendapatkan perhatian itu dari mantan suaminya dulu.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Malam semakin larut namun Arga dan Sisil masih terlihat mengobrol dan sesekali tertawa. Keakraban yang terjalin begitu saja membuat keduanya tidak merasa canggung sama sekali.


"Masa sih udah setua ini kamu belum pernah pacaran sama sekali?" tawa Sisil langsung meledak mengetahui rahasia besar Arga yang ternyata jomblowan abadi.


"Aku gak ada waktu buat pacaran Sil, masa kecil aku di panti asuhan, setelah itu ada orang yang mengadopsi aku saat beranjak remaja. Dari sana aku hanya fokus untuk belajar agar tidak mengecewakan orangtua angkatku yang sudah membiayai sekolahku hingga lulus kuliah."


Sisil terenyuh juga mendengar cerita Arga, kehidupannya sangat berat berbeda dengan dirinya yang memiliki orangtua lengkap.


"Mereka tinggal di kampung Sil, aku di Jakarta hanya sebatang kara." ucap Arga dengan mimik muka sedih yang di buat-buat.


"Cup...cup...kasihannya duuhh..." goda Sisil sambil tertawa lebar.


"Aku sebenarnya lagi bingung Sil,"


"Loh bingung kenapa? Coba cerita kali aja aku bisa bantu!"


"Kedua orangtuaku memintaku untuk segera menikah, cuman aku bingung calon saja tidak punya mau nikah sama siapa kali."


"Coba aja kamu kencan buta, siapa tahu dapet jodoh dari sana."


"Hmmm gak tertarik Sil, kamu mau gak yang jadi calon aku?" tanya Arga tiba-tiba.


Sisil langsung menahan tawanya mendengar ucapan Arga "pppft..." Sisil berpikir jika Arga hanya bercanda.

__ADS_1


"Emang ada yang lucu Sil?" raut wajah Arga berubah menjadi serius karena Sisil seperti menganggapnya candaan.


"Hah? Aku pikir kamu hanya becanda Ga, aku ini seorang janda mana pantas bersanding dengan kamu yang masih perjaka tulen."


"Aku tidak peduli dengan status kamu Sil, yang penting aku merasa nyaman saat bersama kamu. Maaf jika ini terlalu mendadak."


"Huh gak romantis banget," cebik Sisil dengan tangan bersidekap di dada.


Arga yang melihatnya merasa gemas melihat tingkah Sisil yang berpura-pura ngambek.


"Aku tunggu jawabannya?" bisik Arga di telinga Sisil.


Muka Sisil langsung bersemu merah mendengar bisikan Arga, suaranya terdengar sexy di telinga Sisil membuat jantung Sisil berdebar tak karuan.


"Aku bisa mendengar suara detak jantung kamu Sil, jantung kita sama-sama berdebar dengan kencang." Arga membalikan tubuh Sisil agar berhadapan dengannya, Sisil tidak menolak dan hanya menunduk malu-malu. Arga berpikir jika ini adalah waktu yang tepat untuk dia mengungkapkan perasaannya.


"Aku cinta sama kamu Sil," mendengar pengakuan Arga kedua bola mata Sisil membulat sempurna. Dia tidak menyangka secepat ini Arga akan mengungkapkan perasaannya.


"Apa?"


"Aku serius dengan ucapanku Sil, dan aku tidak butuh penolakan!"


Ucapan Arga seperti sihir bagi Sisil sehingga dia hanya diam terpaku saat Arga menarik tengkuk Sisil dan melabuhkan bibirnya di atas bibir Sisil yang ranum. Merasa tak ada penolakan dari Sisil Arga mulai memperdalam ciumannya, naluri kelelakiannya mulai muncul dia memberi sedikit gigitan agar Sisil membuka mulutnya. Dan benar saja Sisil mulai membalas ciuman Arga, keduanya kini saling memagut, saling bertukar saliva dan berbelit lidah. Bahkan Arga melupakan rasa sakit yang berada di sudut bibirnya karena sensasi dari ciuman ini.


Arga dan Sisil saling melempar senyum saat ciuman mereka terlepas, keduanya menunduk malu-malu dengan menetralkan detak jantung mereka.


"Bibir kamu.." Sisil mengusap sudut bibir Arga yang robek dan kembali terluka.


"Gak papa, setelah ini pasti akan sembuh." Arga mengulas senyum dan membelai rambut Sisil.


"Ya udah aku balik ya Sil, udah malem juga takutnya kamu mau istirahat." Arga beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Sisil menarik lengan Arga.


"Temani aku malam ini!" pinta Sisil penuh harap.


"APA?" seketika itu jantung Arga berdebar dengan cepat.


bersambung...

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_2