
Angin malam berhembus menyibak tirai gorden di sebuah kamar yang bernuansa pastel. Si pemilik kamar masih berkutat di depan meja rias menggunakan beberapa peralatan make up yang lama tidak tersentuh, karena dia lebih senang tampil apa adanya dengan wajah natural tanpa sentuhan make up yang berlebih. Percakapan dengan papah Jupiter tiba-tiba saja melintas dalam pikirannya saat makan siang berlangsung.
"Malam ini papah ingin lihat anak gadis papah yang cantik jelita ini tampil berbeda."
"Aku risih pah, aku lebih senang tampil seperti ini." seperti biasa Azura menolak keinginan papah Jupiter yang menyuruhnya tampil berbeda.
"Tapi sayang malam ini penobatan kamu sebagai direktur, dan papah pun akan kenalkan kamu ke seluruh karyawan papah jika kamu adalah putri papah satu-satunya sekaligus kembaran Alvero."
Tidak ingin mengecewakan sang papah akhirnya Azura berani tampil beda di acara pesta perpisahan pak Teguh. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Azura malam ini, tatanan rambut yang di buat sedikit berbeda pun menambah nilai plus sehingga menambah kadar kecantikannya.
"Perpect.." gumam Azura saat melihat tampilan dirinya di depan cermin. Namun senyum di bibirnya langsung hilang begitu dia mengingat jika malam ini adalah malam yang penting bagi keluarganya tapi tidak bagi Azura. Karena bagaimana pun Azura lebih nyaman saat orang-orang tidak mengetahui identitas aslinya. Apa jadinya jika mereka semakin membenci Azura karena selama ini sudah menutupi identitasnya sebagai putri dari pemilik perusahaan.
Ceklek!
Pintu kamar Azura terbuka masuklah mamah Theolla yang sudah berdandan rapi, dia tersenyum melihat anak gadisnya yang tampil cantik malam.
"Anak mamah cantik banget sih sayang, mamah pangling loh ngeliatnya." mama Theolla menghampiri Azura lalu duduk di tepi ranjang memperhatikan Azura yang masih menata sedikit rambutnya.
"Masa sih mah? tapi kok aku takut ya.."
"Takut kenapa sayang?"
"Takut orang-orang gak bisa nerima aku sebagai direktur keuangan yang baru, karena selama ini aku sudah membohongi mereka dan berpura-pura jadi karyawan biasa."
Mamah Theolla tersenyum mendengar ucapan Azura "Percaya sama mamah semua pasti akan baik-baik saja, ayo siap-siap semua orang sudah nungguin kamu di bawah ada Tristan juga loh."
"Kenapa bisa ada Tristan mah?" beberapa hari ini Azura memang tidak bertemu dengan Tristan, terakhir kali mereka bertemu saat di Cafe bersama Sisil dan Tristan mengantarnya pulang.
"Papah yang ngundang Tristan untuk datang, dia kan calon menantu keluarga kita sayang."
"Ya udah ayo mah aku udah siap kok!" Azura meraih tas kecil yang di simpan di atas nakas dan berjalan mengikuti mamah Theolla.
Tristan yang tengah ngobrol bersama papah Jupiter dan Alvero di buat terpana saat Azura datang menghampiri mereka bertiga. Matanya tidak henti menatap Azura dari atas hingga bawah karena ini pertama kalinya Tristan melihat tampilan Azura yang begitu anggun.
__ADS_1
"Cantik," gumamnya tanpa sadar. Azura yang di tatap intens oleh Tristan merasa salah tingkah dan buru-buru untuk duduk di sofa yang berbeda. Kini semua orang menatap Tristan yang belum juga mengalihkan pandangannya dari Azura.
"Eheemm.." suara deheman dari papah Jupiter membuat Tristan tersadar dan tersenyum kikuk.
"Sepertinya malam ini ada yang terpesona dengan kecantikan anak papah," goda papah Jupiter.
"Betul pah sampai lupa kedip tuh orang." tambah Alvero yang membuat papah Jupiter dan mamah Theolla tertawa. Sementara Azura hanya menunduk dan tersipu malu.
"Buruan di nikahin pah, kasian anak orang kelamaan jomblo." Alvero lagi-lagi menggoda Tristan dan Azura.
"Sudah-sudah jangan di godain terus kasian Tristan, kita berangkat sekarang nanti acaranya keburu di mulai." ajak papah Jupiter.
"Kamu bareng Tristan ya sayang, mamah sama papah dan Al..."
"Aku jemput Diandra dulu mah, pah."
"Baiklah sampai ketemu di sana ya!"
๐๐๐
Suasana hening tercipta saat Azura berada satu mobil dengan Tristan. Berulang kali Tristan melirik Azura yang nampak fokus menatap kearah luar jendela.
"Kamu cantik malam ini Ra, aku suka dengan penampilanmu yang sekarang."
"Makasih." ucapnya datar.
"Ada apa Ra? apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
"Aku hanya tidak percaya diri harus tampil di depan seluruh karyawan dengan identitasku yang asli."
"Apa kamu lebih nyaman menjadi karyawan biasa daripada harus naik jabatan?"
"Sejujurnya iya, tapi mau gimana lagi kalau papah yang minta aku mana bisa nolak."
__ADS_1
"Kamu tenang saja gak perlu khawatir aku akan terus ada di sampingmu sepanjang acara berlangsung."
"Makasih Tristan," Azura mengulas senyum, itu semakin menambah kadar kecantikannya dan membuat hati Tristan menghangat.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit mereka tiba di sebuah hotel tempat di langsungkannya acara pesta. Papah Jupiter sengaja membuat acara ini begitu meriah, selain untuk perpisahan pak Teguh dan pengangkatan Azura sebagai direktur baru, tanpa sepengetahuan Azura dan Tristan sebenarnya kedua keluarga besar itu merencanakan acara pertunangan mereka juga di tempat yang sama di hadapan seluruh karyawannya.
Begitu turun dari mobil Tristan langsung mengenggam tangan Azura untuk memasuki ballroom hotel, tak ada penolakan sedikitpun dari Azura karena secara tidak langsung Azura sudah mulai menerima Tristan di dalam hatinya.
Hal pertama yang di dengar adalah suara musik klasik yang mengalun lembut dari atas panggung. Kini tatapan semua orang tertuju pada sepasang sejoli yang tampak serasi berjalan melewati beberapa kerumunan. Ada yang sedang menikmati makanan dan minuman ada juga yang fokus terhadap artis ibu kota yang tengah bernyanyi di atas panggung.
"Heii sssstttt....itu yang jalan sama pak Tristan siapa ya?" terdengar suara bisik-bisik dari empat orang wanita yang tengah berdiri menikmati beberapa hidangan pesta.
"Wajahnya kok terlihat gak asing ya, kek pernah ketemu gitu tapi dimana?"
"Halah..palingan ceweknya, orang setampan dan sekeren dia gak mungkin gak punya cewek."
"Yah...aku patah hati donk."
Nita, Citra, Reva dan Nadin matanya tidak henti menatap Tristan yang menggandeng seorang wanita. Azura yang mendengar kasak-kusuk dari karyawan lain terus menunduk hingga mereka sampai di meja bundar yang di tempati keluarganya. Disana sudah ada mamah dan papahnya, Alvero dan Diandra, Kenzo dan Agnes serta Opa Pramudya dan pak Damar orang kepercayaannya. Bahkan kakek dan neneknya yang datang jauh-jauh dari Bogor pun terlihat hadir disana.
"Nah ini dia yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga." seru papah Jupiter. Azura dan Tristan langsung menyalimi kakek dan neneknya yang datang dari Bogor lalu pada Opa Pramudya dan Pak Damar.
"Loh opa datang kesini juga?" tanya Tristan heran, dia lalu mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Azura.
"Iya donk..yang tua juga ingin merasakan acara pesta seperti yang muda, betul begitu Andre?"
Kakeknya Azura mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya. Selanjutnya mereka terlibat obrolan ringan sebelum masuk acara inti.
"Ini kan hanya pesta perpisahan pak Teguh, kenapa banyak sekali tamu papah yang hadir bahkan kakek dan nenek pun jauh-jauh datang kesini." di tengah kegugupannya Azura terus bertanya-tanya dalam hati melihat keanehan ini.
bersambung...
๐๐๐
image source : google
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...