
Perkenalan yang baru berlangsung beberapa jam lalu itu tidak membuat Arga maupun Sisil terlihat canggung. Bahkan keduanya terlihat saling bercanda dan melemparkan tawa. Arga yang biasanya tidak pernah dekat dengan wanita manapun, kini terlihat betah duduk dengan salah satu karyawan PT Widjaya grup. Entah ada magnet apa yang membuat Arga bisa cocok berbicara dengan Sisil. Bahkan pembicaraan mereka kini menjurus ke ranah pribadi.
"Kamu udah nikah Ga?"
Arga menggeleng "gimana mau nikah deket sama cewek aja gak pernah." ucapnya tanpa ada rasa malu sedikit pun.
Sisil tertawa melihat ekspresi Arga "gila kerja kamu Ga! Sampe lupa mikirin cewek!"
"Belum saatnya Sil,"
"Jadi saatnya kapan? Nunggu usia kamu kepala empat?"
"Gak setua itu juga Sil," kekehnya. Bagaimana bisa wanita yang berada di hadapannya ini mampu membuat Arga terus tersenyum sepanjang pesta berlangsung.
"Buruan keburu tua nanti malah gak laku," ledeknya yang membuat Arga merotasikan kedua bola matanya.
"Hei emang kamu sendiri udah nikah? Bisa-bisanya nyuruh orang buru-buru nikah?"
Sisil mengangkat sebelah tangannya, lalu dengan bangga memperlihatkan cincin yang berada di jari manisnya.
"Udah donk! Aku udah nikah empat bulan yang lalu." ucapnya dengan jemawa.
Ada sedikit rasa tak rela saat Sisil mengucapkan hal itu. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? tidak biasanya Arga terlihat peduli dengan seseorang, apalagi orang itu yang baru saja di kenalnya.
Arga mencibir "baru empat bulan juga bangga, kirain udah empat tahun."
"Biarin daripada kamu jomblo karatan." cibir Sisil.
Percakapan mereka terus berlangsung seolah-olah mereka itu teman lama yang sudah akrab, padahal yang sebenarnya mereka baru saja saling mengenal. Tanpa mereka berdua sadari, beberapa pasang mata yang duduk di meja yang tak jauh darinya terlihat memperhatikan interaksi mereka. Tristan sendiri sampai di buat heran melihat asisten pribadinya nampak akrab dengan seorang wanita. Padahal sehari-hari saat mereka bekerja Arga termasuk pria yang irit bicara terhadap lawan jenisnya.
"Ada apa dengan Arga sebenarnya?" gumam Tristan dalam hati.
"Sejak kapan Sisil dan Arga jadi sedekat itu?" ucap Azura yang juga tak kalah heran dengan Tristan.
"Biar aku panggil Arga agar dia bergabung bersama kita." Tristan lalu mengeluarkan ponselnya melakukan panggilan keluar pada Arga. Dia menyuruh Arga dan Sisil untuk bergabung di meja mereka.
πππ
Sisil sempat ragu saat Arga mengajaknya untuk bergabung di meja yang di tempati Tristan. Dia merasa tidak percaya diri di antara orang-orang penting yang memiliki pengaruh besar di perusahaan. Namun berkat bujukan Arga kini Sisil pun melangkah mengikuti Arga menuju meja yang di tempati Azura dan teman-temannya.
__ADS_1
"Gue cariin dari tadi Ga! ternyata lo lagi asyik sama cewek," goda Tristan saat Arga dan Sisil duduk di kursi yang masih kosong.
"Maaf tuan tadi saya lihat tuan sedang sibuk,"
"Lo gak ngasih selamat sama gue?"
"Selamat atas pertunangan anda tuan muda dan nona Azura,"
Sementara itu,
"Sil bisa kita bicara sebentar?" tanya Azura
Sisil pun mengangguk mengiyakan permintaan Azura. Lalu Azura mengajak Sisil menjauh dari teman-temannya.
"Aku minta maaf ya Sil, aku gak ada maksud buat bohongin kamu atau yang lainnya."
"Aku mengerti Ra, hmmm...maksudku bu Azura." Sisil meralat ucapannya karena bagaimana pun Azura sekarang atasannya di kantor.
"Panggil Azura aja seperti biasanya! di antara kita berdua gak ada yang berubah kamu tetap sahabat aku Sil."
"Itu gak mungkin bu, sekarang ibu atasan aku di kantor."
"Baiklah, aku tunggu penjelasan kamu Ra! bagaimana pun aku penasaran kenapa kamu bisa menyamar untuk bekerja di perusahaan papah kamu sendiri."
Azura mengangguk dia lalu memeluk Sisil dengan erat "iya Sisil kapan-kapan aku ceritain ke kamu, ya udah kita kesana lagi." ajak Azura untuk kembali bergabung bersama teman-temannya
"Aku langsung pulang aja Ra, gak enak juga di sana ada pak Alvero."
"Serius?"
Sisil mengangguk. Karena bagaimana pun dia akan terlihat canggung jika kelamaan berada di antara orang-orang itu.
"Lalu gimana sama Arga?" goda Azura.
Sisil menautkan dahinya begitu Azura menyebut nama Arga dengan wajah menggoda, tapi Sisil tidak akan terpengaruh sama sekali.
"Arga kan lagi sama bosnya, ya udah aku balik ya!" Sisil melambaikan tangannya pada Azura dan buru-buru melangkah keluar.
"Hati-hati Sil! kamu hutang penjelasan sama aku!" teriak Azura sebelum Sisil benar-benar keluar dari ballroom.
__ADS_1
Sisil mengacungkan ibu jarinya, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan pesta.
πππ
Pesta telah usai, yang ada kini hanya jiwa yang lelah setelah mengikuti acara hingga berakhir tengah malam. Silau cahaya dari luar jendela kamar tidak menyurutkan seorang gadis terbangun dari alam mimpinya. Bahkan suara kicauan burung pun dia anggap sebagai melodi indah yang menemani tidur nyenyaknya.
Beruntung hari ini adalah weekend sehingga Azura bisa menghabiskan waktu dengan seharian bergelung di bawah selimut. Rasa lelah dan ngantuk yang mendera membuat Azura enggan membuka matanya meskipun hari sudah beranjak siang. Mamah Theolla yang masuk membawa sarapan untuk Azura hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya, karena tidak biasanya Azura terlambat bangun.
"Sayang bangun nak, sarapan dulu!" mamah Theolla mengelus rambut Azura membangunkannya secara halus.
"Masih ngantuk mah," ucap Azura dengan suara serak khas bangun tidur.
"Katanya hari ini kamu janji mau nganterin mamah pergi ke butik."
"Sore aja ya mah," tawar Azura tanpa membuka kedua matanya.
"Gak bisa sayang harus siang ini, kamu juga harus mencoba baju yang akan kamu pakai nanti saat pernikahan Alvero."
Azura pun langsung membuka matanya dan beringsut duduk, pernikahan Alvero yang tinggal dua minggu lagi membuat mamah Theolla sibuk mempersiapkan segala sesuatanya. Meskipun ada WO yang mengatur persiapannya tetap saja mamah Theolla sesekali harus memantaunya.
"Baju untuk keluarga kita katanya hari ini sudah siap, jadi kita harus mencobanya terlebih dulu sayang."
"Iya mah, aku mandi dulu!"
"Jangan kelamaan Tristan sedang menuju kemari untuk menjemput kita!"
"Dia ikut juga mah?" tanya Azura heran.
"Ya, Tristan kan sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kita masa kamu lupa sayang."
Azura menatap cincin yang terpasang di jari manisnya, bagaimana bisa dia melupakan satu hal yaitu pertunangannya dengan Tristan semalam.
"Ku pikir semalam itu hanya mimpi." gumam Azura sambil melenggang ke kamar mandi.
bersambung...
πππ
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favoritπdukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasihππ...
__ADS_1