Wedding Disaster

Wedding Disaster
Candle Light Dinner


__ADS_3

Senja yang memerah di ufuk barat perlahan mulai pudar dan menghilang dengan sendirinya pertanda malam mulai menyapa. Angin berhembus kencang meniupkan dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan ibu kota. Suara bising dari kendaraan bermotor seakan menjadi irama akan kesunyian yang tercipta di antara dua anak manusia yang larut dengan pikirannya masing-masing.


Dua jam sudah Tristan membawa mobilnya di tengah kepadatan jalanan kota metropolitan. Azura tidak banyak bicara, dia memilih diam dan pasrah saja kemana Tristan akan membawanya kali ini. Bahkan kini Azura sudah memejamkan matanya karena rasa lelah dan rasa kesal pada Tristan yang memaksanya untuk ikut.


Tristan tetap fokus pada kemudinya dan sesekali menatap wajah cantik Azura yang masih terlelap dalam tidurnya. Sampai akhirnya mobil memasuki kawasan sebuah restoran mewah yang berada di area perbukitan yang menghijau. Hawa sejuk yang menusuk kulit di tambah suasana yang tenang jauh dari keramaian menjadi pilihan Tristan membawa Azura untuk Dinner kali ini.


Usapan lembut Tristan di pipi Azura sukses membuat Azura terbangun, dia masih menekuk wajahnya padahal Tristan sudah tersenyum manis menambah kadar ketampanannya.


"Kita udah nyampe, ayo turun sayang!" ajak Tristan penuh kelembutan.


"Ini dimana sih?" ketus Azura.


"Nanti kamu akan tahu sayang," masih mencoba tersenyum berharap Azura akan tersentuh dengan usahanya kali ini.


Azura mengikuti Tristan turun dari mobilnya, dia menatap sekeliling namun tempat itu sangat asing bagi dirinya. Tapi Azura bisa memastikan jika ini adalah restoran mewah, yang berada di area perbukitan. Bahkan kini hawa dingin terasa menerpa tubuhnya yang hanya terbalut pakaian kerjanya.


"Dingin ya?" tiba-tiba Tristan meraih tangan Azura, menggenggamnya memberi kehangatan. Azura tidak menolak kini dia membiarkan Tristan menggenggam tangannya.


"Kita mau ngapain kesini?"


"Dinner sayang, anggaplah ini semua sebagai permohonan maafku ke kamu."


Azura tidak banyak bertanya lagi, dia hanya mengikuti Tristan memasuki restoran tersebut. Hingga sampailah mereka berada di rooftop restoran itu dengan pencahayaan yang redup. Azura menutup mulutnya begitu lampu menyala disana terlihat para waiters menyambut mereka berdua layaknya tamu agung, bahkan salah satu dari mereka menyerahkan sebuket bunga mawar pada Azura.


Tristan menuntun Azura mendekati meja yang sudah di desain seromantis mungkin. Bahkan kini dari rooftop tersebut terlihat lampu-lampu yang menyala dari pemukiman penduduk disana. Azura di buat terpana melihat pemandangan dari atas puncak ini. Hawa dingin seketika lenyap begitu saja berganti suasana yang romantis.



"Selamat menikmati hidangannya, semoga tuan dan nona akan menyukai makanan terbaik dari restoran ini." ucap manager restoran itu yang di ketahui bernama Gunawan. Dia mengenal Tristan sebagai cucu dari pemilik restoran mewah ini. Makanya saat tahu Tristan akan datang untuk dinner romantis, pak Gunawan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.


"Terimakasih pak Gun atas penyambutan ini, kalian semua bisa pergi." titah Tristan. Setelah para waiters selesai menyajikan hidangannya, mereka lalu pamit undur diri. Di sana hanya tersisa mereka berdua dan para pemain biola yang mulai menjalankan tugasnya.

__ADS_1


Alunan musik mulai terdengar, menambah kesan romantis untuk acara dinner kali ini.


"Kamu apa-apan Tan, kamu ngajakin aku candle light dinner sementara aku mengenakan baju kerjaku. Ini sungguh memalukan!" Azura terus menggerutu padahal hatinya senang luar biasa.


"Tapi kamu suka kan sayang?" Tristan meraih tangan Azura mengecupnya penuh perasaan.


"Ya suka, tapi aku salah kostum Tan."


"Tidak masalah sayang, habisnya kamu ngambek terus aku bingung kalau ngajakin langsung takut kamu gak mau, ya sudah ini biar jadi kejutan aja buat kamu."


"Huh menyebalkan.." cebik Azura.


"Kamu udah gak marah kan sayang?"


"Dikit sih," kekeh Azura, padahal setelah tahu Tristan menyiapkan semua kejutan ini rasa kesal Azura yang berhari-hari mendadak hilang.


"Udah donk marahnya masa kamu gak percaya sama tunanganmu sendiri, jelas-jelas Karina yang udah narik tangan aku sayang."


"Ini kalau kamu ngomong terus kapan kita mulai makannya, aku udah laper Tan!"


Azura dan Tristan mulai menikmati aneka jenis makanan Western food yang tersaji di atas meja di antaranya ada Grilled Salmon, Beef Fettuccine Carbonarra dan Mushroom Risotto. Selain itu untuk hidangan penutup tersaji juga Lava Cake dan Panna Cotta. Restoran yang di bangun di areal perbukitan ini merupakan salah satu aset milik Opa Pramudya selain perusahaan Real estatenya. Letaknya yang strategis berada di kota wisata yang terletak di puncak Cisarua, Bogor. Banyak turis yang datang untuk menikmati aneka makanan yang beragam dari mulai masakan Nusantara hingga masakan Korea danWestern food. Opa Pramudya tentu saja memperkerjakan para Chef berpengalaman untuk meracik semua bahan makanannya.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


"Jadi ini Restoran milik Opa Pram?" tanya Azura di sela makan malamnya.


Tristan mengangguk dan tersenyum "iya selain di sini ada cabang lain juga yang terletak di Bandung, Jogjakarta, Malang dan Bali."


"Wah ternyata Opa orang yang hebat ya, selain sukses di bidang Real Estate beliau juga seorang pengusaha kuliner, pantas saja kakek ku bisa kenal sama Opa mereka ternyata bergelut di bidang yang sama."


"Aku sebenarnya ingin berdiri sendiri untuk memulai usahaku, tapi semua bisnis Opa jika bukan aku siapa lagi yang akan melanjutkan."

__ADS_1


"Cucu Opa yang lain apa tidak ada selain kamu Tan?" tanya Azura penasaran.


"Opa hanya memiliki satu anak yaitu papihku, tapi beliau sudah punya usaha yang sukses di Jerman. Sementara untuk cucu hanya aku dan Clarisa adik aku. Tapi dia tidak tertarik sama bisnis Ra, Clarisa sedang sekolah fashion di Paris. Anak itu manjanya minta ampun, apapun keinginannya harus di turuti dan dia menolak mentah-mentah untuk belajar bisnis." tutur Tristan menjelaskan. Tiba-tiba saja Tristan teringat dengan keluarganya yang jauh di negara sana.


"Kamu kangen sama mereka Tan?" Azura meraih tangan Tristan saat dia melihat Tristan termenung setelah menceritakan keluarganya.


Tristan mengangguk mengusap cairan bening yang tiba-tiba saja keluar "tentu saja siapa pun pasti akan merindukan keluarganya ketika mereka terpisah jarak dalam waktu yang lama."


"Aku tahu Tan, kamu tenang aja ada aku disini ada Opa juga, keluargaku sekarang menjadi keluargamu juga jadi kamu tidak perlu kesepian."


"Iya makasih ya sayang, aku beruntung bisa memiliki kamu di hidup aku." Tristan mendekat kearah Azura lalu mencium kening gadis pujaannya.


Tristan melihat jam di pergelangan tangannya "ternyata sudah lebih satu jam kita berada disini, apa kamu mau balik sekarang?"


"Aku sih terserah kamu,"


"Jangan-jangan kamu masih betah ya sayang? gak mau balik sekarang?" goda Tristan.


"Apa sih kan tadi kamu yang maksa," gerutu Azura.


Bersamaan dengan itu, cuaca malam yang tadinya cerah tiba-tiba saja muncul rintik hujan turun membasahi bumi. Azura dan Tristan buru-buru turun dari atas rooftop menuju ruangan manager di restoran itu.


"Sepertinya hujan bertambah besar tuan muda, apakah anda berniat untuk bermalam di sini?" tanya pak Gunawan akhirnya. Karena setelah menunggu hampir setengah jam hujan tidak kunjung berhenti.


"Ah tidak pak, kita akan langsung pulang ke Jakarta."


"Tapi jika hujan besar seperti ini akan berbahaya tuan jika melakukan perjalanan jauh, membutuhkan waktu dua jam untuk tiba ke Jakarta. Apalagi tuan akan melewati daerah yang rawan longsor. Sebaiknya untuk malam ini tuan dan nona muda menginap saja di Villa pribadi milik tuan besar, tempatnya tidak terlalu jauh dari restoran ini." saran pak Gunawan.


Azura dan Tristan hanya saling berpandangan dan sama-sama mengedikan bahunya.


bersambung...

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_2