
Hari mulai beranjak siang, namun sang surya masih belum terlihat menampakan dirinya tertutup awan hitam yang kini menghiasi langit. Mendung bergelayut manja menampakan rintik air hujan yang kini membasahi bumi. Membawa hawa sejuk di tengah gersangnya tanah ibu kota.
Membawa payung di tangannya seorang wanita muda terlihat turun dari mobil yang di tumpanginya. Dia berdiri menatap bangunan besar yang berada di hadapannya, mengeluarkan secarik kertas memastikan jika alamat yang dia tuju sudah benar.
"Pak...permisi pak!" si wanita berteriak memanggil satpam yang sedang berjaga di posnya. Satpam yang di ketahui bernama Rahmat itu tergopoh-gopoh membuka gerbang untuk melihat siapa yang datang bertamu di tengah hujan tengah melanda.
"Iya non ada yang bisa saya bantu?"
"Benar ini rumahnya Tristan pak?"
"Iya benar, non siapa ya ada keperluan apa terhadap tuan muda?"
"Saya teman kuliahnya pak? Bisa saya bertemu dengannya?"
Pak Rahmat lalu membuka gerbang lebih lebar mempersilahkan si wanita masuk membawa mobilnya. Setelah mobil terparkir sempurna si wanita melenggang menuju pintu rumah. Di tekannya bel berulang kali menunggu tuan rumah datang membukakan pintu.
Seorang wanita paruh baya yang di ketahui asisten rumah tangga di rumah besar itu datang membuka pintu. Dia mengernyit heran melihat tamu seorang wanita muda yang baru pertama di temuinya.
"Saya mau ketemu Tristan, apa Tristannya ada bi?"
"Dengan non siapa ya?"
"Saya Karina bi, teman kuliah Tristan."
"Mari silahkan masuk! Bibi panggilkan dulu tuan muda Tristan."
Karina melangkah memasuki ruang tamu rumah Tristan, dia berdecak kagum melihat seisi rumah Tristan yang terdapat barang antik nan mewah.
"Wah..aku gak nyangka ternyata dia sekaya ini." gumam Karina matanya terlihat menyusuri seisi ruangan. Dia mengagumi setiap perabotan yang berada di dalam rumah Tristan, di mulai dari guci antik, pas bunga antik dan hiasan lainnya yang terpajang. Mendengar suara derap langkah kaki Karina buru-buru menuju sofa dan duduk dengan manis.
Tristan datang mengenakan baju santainya, dia semakin terlihat tampan dengan celana pendek dan atasan T-shirt warna abu muda. Tristan cukup terkejut begitu mengetahui Karina sampai datang menemuinya kerumah.
"Maaf ya Tris, aku ganggu hari libur kamu." ucap Karina basa-basi. Tristan hanya menganggukan kepala menanggapi ucapannya.
"Kamu kok bisa tahu aku tinggal disini Rin?"
"Aku menanyakan alamat rumah kamu sama Kenzo, kebetulan waktu itu dia datang ke butik aku."
"Ckck...dasar Kenzo." umpat Tristan dalam hati.
__ADS_1
"Kamu tinggal sendiri Tris di rumah besar ini?"
"Ah tidak, aku tinggal berdua bersama Opa dan para asisten rumah tangga."
"Lalu dimana sekarang Opa kamu?"
"Tadi pagi dia pergi katanya ada keperluan."
"Oh gitu..orangtua dan adik kamu masih tinggal di Jerman Tris?" karena sedikit banyaknya Karina tahu dan kenal keluarga Tristan yang berada di Jerman.
"Iya, mereka masih tinggal disana aku pulang hanya untuk menemani Opa. Sebenarnya ada perlu apa kamu datang kesini Rin?" karena tidak baik bagi Tristan jika harus berduaan dengan Karina tanpa sepengetahuan Azura.
Karina lalu mengeluarkan sebuah surat undangan dari dalam tasnya "ini aku mau kamu hadir di acara ulang tahun butik aku Tris."
"Baiklah kalau tidak ada halangan aku pasti datang kok. Apa aku bisa mengajak tunanganku?"
"Silahkan! kalau Azura mau kamu bisa mengajaknya juga." padahal dalam hati Karina dia tidak ingin Tristan mengajak Azura.
"Padahal kamu gak perlu repot-repot untuk mengantarkan undangan ini kerumah, kamu bisa hubungi aku lewat telepon mungkin."
"Gak sama sekali merepotkan kok, kebetulan aku lagi gak sibuk hari ini. Pekerjaan di butik ada karyawan aku yang menghandlenya."
Karena di rasa sudah tidak ada keperluan lagi, Karina memutuskan untuk pamit undur diri. Namun baru dirinya melangkah menuju pintu dia memegang kepalanya dan pingsan tiba-tiba dalam dekapan Tristan. Karena Tristan berdiri di belakangnya hendak mengantar Karina keluar.
๐๐๐
Azura dengan semangat memasukan makanannya kedalam wadah yang akan dia bawa ke rumah Tristan. Setelah tadi pagi Opa Pram datang untuk mengajak papah Jupiter kerumah kakeknya yang di Bogor, Opa Pram menyuruh Azura untuk menemani Tristan di rumahnya. Dia sengaja menunggu hujan sedikit reda untuk berkunjung ke rumah Tristan.
"Yang mau ketemu calon suami. semangat banget ya sampe masak segala." entah datang darimana tiba-tiba mamah Theolla menghampiri Azura di dapur dan menggodanya.
"Apa sih mah? biasa aja kok." Azura menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Kamu seperti mau piknik sayang pake bawa makanan segala."
"Ishh...mamah ini kayak gak pernah muda aja sih,!"
"Mamah becanda sayang, ya udah buruan berangkat nanti keburu siang dan Tristan kelaperan." mamah Theolla terus menggoda Azura yang tengah bersiap mendatangi rumah calon menantunya.
"Orang masih hujan kok mah,"
__ADS_1
"Ya kan kamu naek mobil, bukan jalan kaki sayang."
Azura lalu memutuskan untuk segera berangkat dan memberi kejutan pada Tristan.
Sementara di rumah Tristan, Karina yang pingsan beberapa menit lalu kini sudah terlihat siuman tapi masih terlihat lemas. Entah dia pingsan sungguhan atau berpura-pura untuk menarik perhatian Tristan.
"Aku ambilkan obat dulu buat kamu Rin!" Tristan beranjak dari duduknya namun dengan cepat Karina menahan tangan Tristan.
"Gak perlu Tris, kamu cukup temani aku disini!"
"Tapi kamu terlihat lemas, biar aku ambilkan makanan dulu ya Rin!"
Karina menggeleng, dia tersenyum melihat Tristan yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Mungkinkah benih-benih cinta itu masih ada yang tersisa untuk dirinya.
"Kamu gak berubah ya Tris, masih tetap sama seperti dulu. Jika aku sakit kamu selalu perhatian seperti ini."
Tristan menggeleng dan menarik tangannya yang di genggam Karina "kita udah berbeda Rin semenjak kamu pergi begitu saja saat hari pelulusan itu."
"Aku minta maaf Tris, sungguh aku menyesal karena menggantungkan hubungan kita waktu itu."
"Sudahlah tidak ada yang perlu di sesali, semua sudah berlalu aku sekarang udah bahagia bersama Azura."
"Apa kamu sungguh mencintainya?"
"Ya dia teman masa kecilku dulu, kami berjanji akan selalu bersama hingga menua nanti." Tristan tiba-tiba tersenyum mengingat wajah Azura, kenapa dirinya begitu merindukan gadis itu padahal semalam mereka baru saja bersama.
"Tapi aku juga masih mencintai kamu Tristan!" ungkapan Karina membuat Tristan membelalakan matanya. Dia tidak menyangka Karina bisa berbicara seperti itu.
"Jangan bercanda Rin!"
"Apa aku terlihat bercanda Tris? aku sungguh serius dengan ucapanku, semenjak pertemuan kita dibutik waktu itu, aku menyadari aku masih menyimpan perasaan sama kamu. Dan aku pikir kita masih bisa bersama seperti dulu."
Tristan menggeleng tidak membenarkan ucapan Karina "sudah terlambat Karina! hubungan kita sudah berakhir sejak saat itu!"
Merasa jengah dengan ucapan Karina, Tristan beranjak dari duduknya. Namun entah ada kekuatan darimana, tiba-tiba saja Karina menarik lengan Tristan, dan membuatnya terjatuh di atas tubuh Karina yang masih dalam posisi berbaring di atas sofa.
"Tristan!!" pekik seseorang dari arah pintu.
bersambung...
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...