Wedding Disaster

Wedding Disaster
Memori masa kecil


__ADS_3

Azura tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan punya Tristan "ya kita bisa berteman lagi Tan seperti dulu."


"Hanya teman Ra?" tanya Tristan heran, padahal dia sudah berharap lebih jika Azura akan menyetujui perjodohan itu.


Azura mengangguk "iya, dulu kita kan juga teman."


Tristan mengusap wajahnya dengan kasar, menatap Azura berharap Azura akan mengerti keinginannya "lalu bagaimana dengan perjodohan kita?"


"Maaf Tristan aku belum bisa memutuskan sekarang, kita baru saja bertemu setelah sekian lama. Aku perlu membiasakan diri dulu dengan keadaan ini."


"Apa kamu akan menolak aku Ra?"


"Aku gak tahu Tan, tolong pahami dulu keadaan ini semua terlalu tiba-tiba menurutku. Aku butuh waktu untuk menyetujui atau tidaknya perjodohan kita."


"Baiklah aku gak akan maksa kamu Ra, tapi perlu kamu ingat satu hal, dulu saat kita kecil aku selalu berharap kamu akan jadi temanku hingga kita menua nanti."


"Aku tidak lupa Tristan,"


Bayangan saat masa kecil Azura dan Tristan lalu berputar kembali seperti memori yang tak akan usang oleh waktu. Kepingan-kepingan itu kembali terbentuk seperti sebuah puzzle yang melukiskan kisah dua anak manusia yang saling menyayangi pada masa itu.


"Zura..Zura...!" Tristan kecil memanggil Azura meraba bangku sebelahnya yang tiba-tiba kosong. Belum ada jawaban dari Azura, sehingga Tristan memutuskan untuk mencarinya sekitar area taman.


Mengandalkan tongkat di tangannya Tristan mulai melangkah mencari keberadaan gadis kecil yang selalu setia menemaninya. Baru beberapa meter Tristan melangkah suara cempreng seorang gadis kecil menghentikan langkah Tristan.


"Kamu ngapain kabur Tristan?" terdengar suara Azura yang sedikit ngos-ngosan karena berlari mencari Tristan.


"Zura..ini kamu kan?" Tristan langsung meraba seluruh wajah Azura, berharap tidak salah mengenalinya.


"Iya ini aku, kamu mau kemana? aku bisa di omelin pak Damar jika kamu hilang." cebik Azura kecil.


"Tentu saja aku mencari kamu Zura, kenapa pergi tiba-tiba aku kan khawatir sama kamu."


"Sudahlah ayo kita duduk lagi."


Azura memapah Tristan untuk kembali duduk di sebuah bangku taman.


"Nih..tadi aku beli ini buat kita berdua." Azura menyodorkan sesuatu pada tangan Tristan.


"Ini apa?" Tristan mulai meraba sesuatu yang di berikan Azura. Tangannya tiba-tiba saja lengket dia juga merasakan sesuatu yang ringan seperti kapas.

__ADS_1


"Itu permen kapas, makanlah rasanya enak kok." ucap Azura yang lebih dulu melahap permen kapas miliknya.


Tristan yang baru tahu ada permen kapas nampak ragu untuk memakannya, dari namanya saja sudah aneh gimana rasanya itulah pikir Tristan.


"Kok malah bengong? sini biar aku suapin." Azura menyodorkan permen kapas tersebut kedepan mulut Tristan, dengan senang hati Tristan menerima suapan dari Azura. Jika dilihat dari jauh kedua anak kecil itu layaknya pasangan yang tengah berbahagia.


"Enak kan?"


"Iya enak jika kamu yang suapin." goda Tristan


"Huh..mau kamu itu mah, nih makan sendiri!" Azura mengembalikan permen kapas itu ke tangan Tristan. Azura cemberut dengan tangan bersidekap di dada, meski Tristan tidak bisa melihat tapi dia tahu Azura kini tengah merajuk.


"Jangan cemberut nanti cantiknya ilang Zura,"


"Siapa yang cemberut?" Azura sedikit berkilah padahal kenyataannya iya.


"Kalau bohong hidungnya nanti panjang seperti pinokio," goda Tristan lagi.


"Tristaaaannn...!" teriak Azura sambil memukuli Tristan. Namun yang di pukuli tetap tenang malah terkesan menikmatinya. Sampai akhirnya Azura berhenti sendiri.


"Zura apa kita masih bisa seperti ini setelah berjauhan nanti?" tanya Tristan dengan mimik muka yang terlihat sedih. Karena beberapa hari lagi Tristan harus berangkat ke Jerman untuk pengobatan mata.


"Selamanya? apa itu artinya sampai kita menua nanti akan selalu berteman seperti orang dewasa yang tinggal dalam satu atap?"


Azura tiba-tiba tertawa keras mendengar ucapan Tristan "omonganmu seperti orang dewasa Tristan, aku geli mendengarnya."


"Aku serius Zura," Tristan meraih tangan Azura membuat Azura menghentikan tawanya.


"Baiklah lepaskan dulu tanganku!" Tristan langsung melepaskan tangan Azura dan menunggu Azura berbicara.


"Oke kita bisa berteman sampai menua nanti, tapi kamu harus tepati janjimu dulu setelah kamu bisa melihat kembalilah ke Indonesia, karena ada aku yang menunggumu di sini!"


Tristan mengangguk pasti, dia menyodorkan jari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh Azura.


"Aku pasti tepati janjiku Zura!"


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Semilir angin malam menyadarkan Azura dan Tristan dari lamunan panjangnya, tanpa mereka sadari sudah terlalu lama mereka berdua berada di taman belakang. Baik Azura maupun Tristan keduanya masih terlihat canggung, apalagi jika mereka mengingat kembali memori masa kecil yang sangat indah untuk selalu di kenang.

__ADS_1


"Ra, sepertinya udah larut malam aku pamit pulang ya!"


Azura mengangguk "Iya Tan, ayo aku anter kamu kedepan."


Mereka berdua jalan beriringan hingga sampai di dekat mobil Tristan.


"Salam buat Om Jupiter dan Tante Theolla ya Ra?"


"Baik nanti aku sampaikan."


"Aku pamit ya!"


"Iya Tristan, hati-hati di jalan!"


Tristan tersenyum sambil mengacak rambut Azura, setelah itu Tristan memasuki mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Azura.


Setelah mobil Tristan hilang dari pandangannya, Azura berbalik hendak masuk kedalam rumah namun alangkah terkejutnya dia mendapati Alvero yang berdiri di belakangnya dengan tersenyum usil.


"Ciiee yang udah baikan," goda Alvero.


"Apa sih Al." Azura melewati Alvero berlalu masuk kedalam rumahnya. Dia buru-buru menyembunyikan rona merahnya karena malu ketahuan Alvero.


"Gak usah malu deh lo kayak ma siapa aja."


"Siapa yang malu?" Azura berhenti di undakan anak tangga pertama menatap jengah pada Alvero yang terus saja menggodanya. Seterusnya Azura kembali menaiki anak tangga hingga sampai di depan kamarnya dengan Alvero yang terus membuntutinya.


"Gue udah lihat semuanya, saat kalian di taman belakang kalian pelukan mesra sekali." goda Alvero dengan menaik turunkan alisnya.


"Jadi kamu ngintip Al?" sentak Azura tak suka.


"Dikit sih..hehe."


Brak!


Suara pintu kamar yang di tutup keras membuat Alvero mengusap hidungnya, niat hati mengekori Azura masuk kedalam kamarnya ini malah terkena bantingan pintu.


bersambung..


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_2