
"Bunda apa itu artinya jatuh cinta?" pertanyaan yang keluar dari mulut seorang anak berusia 7 tahun itu membuat Azura tersenyum. Dia tidak menyangka pertanyaan seputar jatuh cinta akan keluar dari bibir putra sulungnya.
"Abang Kavi tahu darimana jatuh cinta itu?"
"Dari sinetron yang suka bunda lihat."
Azura tergelak mendengar pengakuan Kavi tentang sinteron yang suka di tontonnya.
"Begini ya sayang, jatuh cinta itu hanya boleh di lakukan orang dewasa."
"Seperti ayah dan bunda?"
"Betul sayang, kelak saat kamu dewasa pasti akan mengerti apa itu jatuh cinta."
Kavi mengangguk-ngangguk tanda mengerti apa yang di jelaskan oleh sang bunda. Obrolan kedua anak dan ibu itu terpangkas saat suara gaduh datang dari luar, ternyata Tristan yang datang bersama kedua anak kembarnya yang baru saja selesai olahraga pagi.
"Bundaaaa....abaaangg!!"
"Kakak, adek jangan lari-lari nanti kalian jatuh." peringat Azura melihat anak kembarnya yang berlari saat menghampiri dirinya.
Jadi saat Kavi berusia dua tahun, lahirlah anak kedua Azura dan Tristan yaitu sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang di beri nama Kiana Naraya Putri dan Kiano Narendra putra.
Kiana terlebih dulu tiba dan memeluk sang bunda, sementara Kiano lebih memilih duduk di samping abang Kavi.
"Gimana lari paginya, seru gak sayang?"
"Seru donk bun, tadi kita juga ketemu sama Om Arga dan mba Gendis."
"Oh ya lalu dimana mereka sekarang?"
"Arga sama Gendis udah pulang bun, tadinya mau mampir tapi Sisil nyuruh mereka cepat pulang. Ya biasalah Sisil minta Arga membawa sesuatu yang aneh-aneh lagi."
"Jadi acara ngidam Sisil belum kelar yah?"
Tristan mengangkat bahunya. Padahal kehamilan anak kedua Sisil sudah memasuki bulan ketujuh, tapi Sisil masih sering merepotkan Arga dengan acara ngidamnya yang aneh-aneh.
"Oh iya bang, tadi mba Gendis titip salam buat abang." ucapan yang terlontar dari mulut Kiana membuat Kavi mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Titip salam apa?" tanya Kavi tak suka.
"Salam rindu katanya."
Azura dan Tristan tertawa lebar melihat putra sulungnya yang merenggut karena tak suka. Kavi berlalu begitu saja, memilih masuk kedalam kamarnya daripada menanggapi obrolan Kiana.
"Dasar Gendis, dia tahu hal seperti itu darimana yah? Mereka baru anak kelas satu SD masa udah bilang rindu segala."
"Ayah juga gak tahu bun, coba nanti ayah bicarakan ini sama Arga."
"Kakak, adek ayo kalian berdua masuk kamar dan mandi, setelah itu kita sarapan bersama!!."
Kiana dan Kiano mengangguk, lalu masuk kedalam kamarnya.
๐๐๐
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday happy birthday Kiana dan Kiano."
Lagu ulang tahun terdengar nyaring di nyanyikan oleh teman-teman Kiana dan Kiano. Di sebuah hotel berbintang Azura dan Tristan tengah merayakan ulang tahun anak kembarnya yang ke lima.
"Gak nyangka yah waktu cepat berlalu, anak-anak kita sudah tumbuh besar dan menggemaskan." ucap Azura melihat ketiga putra dan putrinya yang berbaur bersama teman-temannya.
"Iya Ra..aku pun gak menyangka di karuniai putra dan putri yang sangat lucu." Agnes menatap kearah Shanum yang tengah bermain bersama si kembar Kiana dan Kiano, sementara si kecil Gibran berada dalam gendongan Kenzo.
"Lihatlah putra kembarku Rayyan dan Reyhan mereka sangat tampan seperti papahnya." puji Diandra saat si kembar terlihat akrab bersama sepupunya abang Kavi.
Sementara Sisil hanya menggelengkan kepala melihat Gendis yang terus saja makan, memilih berbagai macam hidangan di temani oleh Arga.
"Sil anakmu jago makan ternyata."
"Iya Nes, selera makannya memang bagus gak heran jika tubuhnya segemuk itu."
Para mamah muda itu terus saja bercerita mengenai perkembangan anak-anaknya yang semakin bertambah besar. Sementara Tristan, Alvero, Kenzo dan Arga pun tak mau kalah mereka berempat membicarakan mengenai pekerjaan dan juga bisnis.
๐๐๐
"Kavi tunggu...Kavi...Kavi!!!" suara teriakan seorang gadis kecil bertubuh gemuk terdengar menggema di lorong sebuah sekolah dasar. Namun Kavi langsung berlari masuk kedalam kelasnya tanpa memperdulikan si gadis kecil yang berlari susah payah karena bobot di tubuhnya.
__ADS_1
BRUKK!!!
Gendis yang kehilangan keseimbangan akhirnya terjatuh membuat para siswa sekolah dasar yang lainnya menertawakan Gendis.
"Hahahaha...Gendis gendut...Gendis gendut!!"
"Makanya orang gendut jangan lari-lari, jatuh kan tuh....hahaha." suara ejekan terdengar dari siswa kelas 4, bukannya membantu Gendis mereka malah menertawakannya.
Dengan bibir cemberut Gendis mengelus-elus lututnya yang terasa perih, dia tidak memperdulikan ucapan kakak kelasnya yang terus saja mencemooh mengatainya Gendis gendut.
Sebuah uluran tangan membuat Gendis mendongakan kepalanya, matanya langsung bersinar melihat siapa si dewa penolongnya.
"Bangunlah!! apa kamu tidak malu terus di tertawakan seperti itu."
Dengan senang hati Gendis menerima uluran tangan dari Kavi, meskipun Kavi terkesan tak menyukai Gendis karena gadis bertubuh gemuk itu selalu saja mengganggunya, tapi Kavi merasa kasihan melihat anak dari sahabat ayah dan bundanya di ganggu seperti itu.
"Makasih Kavi, kebaikanmu akan selalu aku ingat selamanya."
"Gak usah lebay." ucapnya datar. Kavi berlalu masuk kedalam kelasnya di susul Gendis yang mengikuti dari belakang karena mereka berada dalam kelas yang sama.
The End.
๐๐๐
Q : Apa gak ada bonus chapternya gitu thor?
A : Kagak ada..udah segitu aja.
Q : Terus sekuelnya ada gak tuh? kisah anak-anak mereka kenapa gak di buat novel baru?
A : Belum tahu masih dalam tahap perencanaan, di tunggu aja...mungkin tahun depan baru rilis.
Q : Kelamaan thor keburu jamuran nunggunya๐ช๐ช
A : Sabar napa...sabar๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1