
SUARA langkah kaki Ayu terdengar tergesa-gesa. Ia segera mencari dimana keberadaan Maya.
“Mbak Maya?!” Panggilnya tidak tahan menahan rasa kesalnya.
“Aduh! Apaan sih, Yu?!” Maya muncul dari balik kamarnya mengusap-usap telinganya merasa terganggu dengan suara adiknya itu.
Ayu kini berdiri di depannya meminta penjelasan, “jadi, mbak Maya punya hutang sama mas Bima selama ini?”
Maya terlihat terkejut sejenak namun segera ia gantikan dengan wajah tenang, seperti sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.
“Ada apa ini?” Sahut Ibu baru sampai di rumah, namun tiba-tiba ia mendengar anaknya berdebat perkara hutang.
“Apa Ibu juga tau selama ini mbak Maya punya hutang sama keluarganya mas Bima?”
“Hutang apa, Maya? Jelaskan sama Ibu!”
Maya menghembuskan napas dengan berat, memberi lirikan tidak suka kepada Ayu karena ikut campur dengan urusannya.
“Hanya hutang biasa, Bu, antar teman…” ujar Maya masih mencoba menganggapnya tidak serius.
“Mas Bima bilang ini alasan mbak ngotot mau nikahin aku sama mas Bima, karena keluarga mas Bima tau dan nyuruh anaknya segera nikah sama aku…”
“Sejauh mana sih anak itu cerita sama kamu?!” Gerutu Maya marah kepada semua orang.
“Uang yang mbak Maya pinjem sebenernya buat apa?!”
“Bukan urusan kamu ya, Yu!!!” Lalu Maya bergegas mengambil jaketnya yang dilipat di atas nakas dan buru-buru melangkah pergi.
Namun sebelum itu terjadi, tangan Ibu sudah menahannya.
Sedetik Maya melihat mata Ibunya tidak suka namun kemudian ia pasrah dan menjelaskan, “uangnya dipake pacarku buat bangun bisnisnya…” ucap Maya akhirnya menyerah.
Ayu meringis tidak percaya, “mbak itu orang asing loh!”
“Kamu jangan kurang ajar ya, Yu, sama pacar mbak! Dia orang yang bisa dipercaya, bukan orang asing! Mbak kenal banget sama dia!” Maya sangat kesal dengan ucapan Ayu barusan. Ia merasa, tentu saja pacarnya tidak akan mengkhianatinya.
Andini yang berdiri disana kaget mendengar ucapan putrinya barusan. Padahal dia sendiri belum pernah bertemu dengan pacar Maya, dalam keadaan seperti ini bagaimana bisa Maya justru berkorban sedemikian rupa demi pacarnya, mengorbankan Ayu, adiknya sendiri.
Tubuh Andini rasanya tidak kuat mendengar kalimat barusan, ia seketika terjatuh lemas. Baru saja pulang dari menjenguk Ayahnya yang masih kritis di rumah sakit, sudah disuguhi berita seperti ini.
“Ibu nggak apa-apa?” Tanya Ayu khawatir membantu Andini untuk berdiri.
“Ibu perlu istirahat sebentar…” Andini sendiri bahkan tidak punya tenaga hanya untuk memarahi anaknya itu, “dan Maya, bawa pacarmu kesini besok!”
“Besok?!” Sahut Maya dengan nada tinggi, lagi-lagi membuat Andini harus mengatur napasnya agar tidak berdetak terlalu cepat.
“Ibu mau bicara dengannya…”
__ADS_1
“Nggak bisa, Bu! Dia lagi ada bisnis keluar kota!”
“Lalu kapan kamu akan mengenalkannya pada Ibu?”
Maya memikirkan sebuah hari, namun seketika ia teringat sesuatu, “saat pernikahannya Ayu, aku akan membawanya saat itu…”
Ayu nyaris saja ingin membunuh orang di hadapannya ini jika bukan kakaknya sendiri. Untuk saat ini mungkin Ayu akan pasrah, namun dia berjanji kepada dirinya sendiri jika nanti Maya dan pacarnya berulah di hari pernikahannya. Ayu tidak akan pernah memaafkan Maya.
“Baiklah…” Ibu pun merasakan hal yang sama dengan Ayu. Memangnya harus bagaimana lagi, pacarnya juga sedang di luar kota, setidaknya Ayu dan Ibunya kini memiliki harapan untuk bisa bertemu dengan pacar Maya.
“Lalu, Ayu… bukankah kamu harus kembali ke Jakarta?” Tanya Ibu kini perlahan duduk di atas sofa.
Ayu mengangguk, “iya, seharusnya aku berangkat dari tadi, tapi gara-gara manusia satu ini aku harus menunda jam keberangkatanku.”
“Ayu…” panggil Ibu pelan namun tegas, bagaimanapun juga sikap Maya, Ibu selalu membelanya, ia ingin Ayu selalu sopan kepada kakaknya apapun yang terjadi.
...\~oOo\~...
Bus menuju Jakarta sudah sampai, setibanya Ayu di Jakarta ia segera menghubungi orang tuanya dan tentu saja Arshaka juga.
Ayu belum bisa menceritakan apa yang terjadi di rumah, ia masih belum siap jika Arshaka akan mendengarnya. Membayangkan bagaimana responnya saja sudah membuat bulu kuduk Ayu berdiri.
“Ayu!!!” Teriak Rina saat menjemput Ayu di Terminal, ia berlari menghampiri Ayu dan segera memeluknya dengan erat.
“Rina! Aku kangen banget sama kamu!”
“Gimana kabar kamu?” Tanya Ayu kemudian, sudah seminggu ini mereka tidak bertemu.
“Aku baik-baik saja, by the way kamu balik ke Jakarta mau kerja di kafe lagi kah?”
Ayu sejenak memikirkannya, “sebenarnya ada yang mau aku lakuin disini, tapi mungkin buat isi waktu luang aku bisa kerja part time, apa aku boleh balik lagi ke kafe?”
“Tentu saja, Yu!” Jawab Rina dengan riang menyambut kedatangan sehabatnya itu.
“Dimana Farhan? Dia nggak ikut kesini?” Tanya Ayu berjinjit melihat siapa yang mengantar Rina barusan. Namun sesuatu yang aneh ia dapati tepat di depan matanya. “Rina?” Panggil Ayu kini melihat Rina dengan serius.
Rina tersenyum datar takut jika Ayu akan menghakiminya, “iya Ayu?” Rina sangat sangat paham dengan apa yang akan dikatakan sehabatnya ini.
“Dia…bukannya Anthony?”
Rina tersenyum kering sekali lagi.
“Aku salah lihat kan? Mana mungkin itu Anthony…” ujar Ayu lagi berusaha membuat lelucon diiringi tawanya yang tidak dibalas oleh Rina. “DIA ANTHONY?!”
Semua kepala seketika menengok ke arah mereka berdua, termasuk Anthony yang berdiri di dekat tiang dan rupanya mendengar percakapan Rina dan Ayu.
“Ayu, pelan-pelan ngomongnya…” bisik Rina mengingatkan.
__ADS_1
“Dia ngapain kesini?” Ayu ikut berbisik.
Rina menarik napas dan membuangnya segera, “kita pacaran.”
Ayu tertegun mendengarnya, tubuhnya seketika membeku. Ia tertinggal apa kali ini? Rina? Anthony? Mereka pacaran? Bagaimana bisa?
Rina memutar bola matanya sembari menepuk-nepuk pipi Ayu beberapa kali untuk menyadarkannya dari lamunan, “separah itu kah?” Tanyanya kemudian.
Ayu mengangguk, “sangat parah!”
“Ya kan?! Aku sudah bilang kalau dia cowok terburuk di dunia! Tapi kenapa aku mau?!” Rina marah kepada dirinya sendiri lalu menepuk jidatnya.
“Sejak kapan?” Selidik Ayu.
“Baru hari ini kita jadian, sejak kamu pergi ke desa, dia sering mengunjungi kafe tanpa alasan…” Rina menceritakan pengalaman pertamanya memiliki pacar namun dengan ekspresi ketakutan, “dia sering cari gara-gara, sampai saatnya kemarin kita taruhan…”
“Taruhan?”
Rina mengangguk, “iya, kita taruhan siapa yang bakal menang di lomba balap kuda, yang kalah harus menuruti semua permintaan yang menang…”
“Lalu dia menang?”
“Iya..” Rina melemaskan pundaknya, “dia bilang, aku harus jadi pacarnya sampai dia bosan…”
“Hah? Apa-apaan itu? Dia tidak aneh-aneh kan sama kamu?”
Rina menggeleng, “bukan aneh lagi, Yu. SANGAT ANEH!”
Ayu menepuk bahu Rina kemudian berbisik, “dia kesini!” Mereka berdua kini memperhatikan Anthony yang berjalan mendekat.
Dia memang tampan, tapi mengingat sikapnya yang kurang ajar, itu hanya akan membuatnya menjadi cowok brengsek saja, tidak lebih.
Anthony berdiri di hadapan mereka, sudah menduga Ayu akan melototinya seperti ini, Rina pasti sudah menceritakan hubungan mereka sekarang.
“Halo, Ayu…”
“Emmm…” Ayu hanya berdehem masih tidak mau berurusan dengan Anthony meskipun ia adalah pacar dari sehabatnya sekarang. Setidaknya untuk sekarang, sampai ia melihat bahwa Anthony adalah pria yang sungguh tulus menjalin hubungan dengan Rina, mungkin saat itu Ayu baru akan memperlakukan Anthony dengan baik.
“Aku baru saja menghubungi Arshaka, dia sedang dalam perjalanan kemari… Apa kalian akan menikah?” Ucapnya tiba-tiba.
“MENIKAH?” Tanya Rina terkejut dengan nada tinggi.
“Selamat ya…” ucap Anthony masih dengan senyum yang tidak dapat didefinisikan itu.
Dasar Anthony, mulut sialan nggak bisa direm dikit apa? Pekik Ayu dalam hati, padahal ia ingin sekali memberitahu sehabatnya ini secara langsung.
Lalu mau tak mau Ayu harus menanggapi, “iya, aku akan menikah dengan Arshaka…”
__ADS_1