
DI belahan dunia yang lain, Arshaka sedang bersiap untuk pertunangannya. Meskipun ia menolak dengan berbagai alasan, Papanya Rudi tetap tidak mengijinkan Arshaka mengelak. Baginya, Arshaka tetap harus melakukan kewajibannya. Setidaknya ia berhasil membujuk orang tuanya untuk menunda pernikahan dan menggantinya dengan pertunangan terlabih dahulu sampai Arshaka sembuh total.
Arshaka sudah siap dengan jas hitamnya, ia memegangi sebuah cincin yang baru disana sembari bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah ini yang ia inginkan?
Seseorang tiba-tiba muncul di samping Arshaka, mencium pipi kanannya dengan lembut, dia adalah Salina yang sudah cantik berbalut gaun putih.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Arshaka ketus mengelap bekas ciuman Salina di pipinya.
"Kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Salina balik lebih mendekat hendak memeluk tubuh Arshaka, salah besar jika ia masih menganggap Arshaka memiliki rasa yang sama seperti dulu kala. Ditambah keadaan pria itu yang masih belum mengingat apapun, justru membuat Arshaka semakin waspada terhadapnya.
Arshaka mundur untuk menghindar, "dengar ya Salina, aku melakukan pertunangan ini bukan demi aku atau kamu, tapi demi orang tuaku." Ia memalingkan muka dari gadis di hadapannya itu, "lalu, apa kamu sendiri bisa menjelaskan kenapa saat itu kita tidak jadi menikah?"
Salina ikut menjaga jarak, enggan untuk menjawab.
"Jawab dengan jujur, jangan menghindari lagi..." kata Arshaka kini semakin serius.
"Itu, hanya kesalahpahaman..."
"Kesalahpahaman tentang apa?"
"Aku lupa, tidak penting juga. Hanya kita berdua yang terlalu egois..." Salina kini berjalan di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan percaya diri, "Aku bersalah dan kamu juga bersalah. Hanya itu saja..." lalu ia tersenyum.
Seberapapun Arshaka berusaha mengingatnya tetap tidak bisa, meskipun begitu ia tetap merasa ada yang salah. Arshaka yakin jika ada alasan lain dibalik ini semua.
Beberapa menit kemudian seseorang memasuki ruangan mereka, membawa buket bunga yang sangat cantik. Kinan menghampiri Salina dengan senyuman, "kamu cantik sekali, sayangku!" pujinya kepada calon menantu sembari memberikan bunga tersebut.
"Buat aku?"
Kinan mengangguk sesekali melirik ke arah Arshaka yang sedang melamun melihat keluar kaca hotel.
"Cantik banget, makasih Tante. Eh, atau sekarang aku panggilnya Mami juga?" Ucap Salina disertai tawa kecilnya yang renyah.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Kinan berjalan menghampiri Arshaka dan mengelus pundaknya.
"Bisa kalian pergi dulu? Aku ingin sendiri..." ucap Arshaka dingin, tapi sungguh, kehadiran Salina dan Kinan justru membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
"Baiklah, Mami ajak Salina keluar dulu ya..." Lalu Kinan pergi membujuk Salina agar pergi sebentar meskipun agak sulit menyeretnya menjauh dari Arshaka karna dia terus menempel seperti lem Korea.
Arshaka terus memikirkan kenapa dirinya berujung seperti ini, ia merindukan Ayu. Sangat merindukan Ayu. Bertanya-tanya dalam hati tentang bagaimana keadaannya, dimana dia sekarang dan apakah Ayu juga memikirkannya?
Jantung Arshaka sudah berdetak sangat kencang hanya dengan memikirkannya saja. Bibirnya tanpa sadar mengukir senyuman saat mengingat sorot mata Ayu, caranya berbicara kepada Arshaka, caranya berperilaku dan senyumnya yang menawan. Ia merasa mau mati karena merindukannnya.
...\~oOo\~...
Sore ini Ayu sudah selesai dengan pekerjaannya cukup memuaskan meskipun hatinya masih sedikit terusik karena sesuatu. Farhan membantunya banyak hal lagi hari ini dan mungkin beberapa hari ke depan. Ayu masih membutuhkan bimbingan karena ini adalah pekerjaan pertamanya.
Ponselnya berdering, tertera nama "mbak Maya" disana. Meskipun sedikit malas untuk mengangkatnya, namun ia paksakan demi tidak menjadi adik yang durhaka.
"Ada apa?"
"Tumben mbak Maya perhatian, ada apa?
"Kamu tuh suudzon mulu sama mbak!"
"Aku kerja di kafenya Farhan, Ibu udah tau juga."
"Mbak juga udah tau kalo itu, Ibu kan cerita! Maksudku, gimana kamu udah ketemu belum sama cowok kamu itu?!"
Ayu memutar bola matanya, sudah seperti yang ia duga, mbak Maya kalo datang tiba-tiba nggak mungkin tanpa maksud. Pasti ada udang dibalik batu.
"Enggak mbak, lagipula aku juga nggak tau dia tinggal dimana. Intinya sekarang aku mau fokus nyari uang aja disini, lumayan kan bisa buat bantu-bantu Ibu walaupun masih dikit..."
Terdengar suara tawa Maya yang puas disana, jujur saja itu membuat kesal Ayu, ingin rasanya ia menjambak rambut kakaknya itu agar tau rasa. Untung saja Ayu tidak menceritakan keadaan sebenarnya, jika Maya tau bisa-bisa ia tertawa sambil guling-guling saking puasnya.
__ADS_1
"Kalau udah selesai aku tutup telponnya!" Kata Ayu sudah sangat kesal.
"Kalo kamu udah capek cari uang sendiri dan nggak bisa nemuin cowok kamu itu nggak apa-apa. Aku udah suruh mas Bima hubungin kamu..."
Apa sih maksudnya? Aneh! Pikir Ayu. Tanpa pikir panjang ia langsung mematikan ponselnya. Memang tidak aman membicarakan apapun kepada Maya, dia seperti calon Ibu-ibu yang akan membeberkan gosip apapun yang di dengarnya.
Ayu berjalan dengan kesal, namun diantara kekesalannya itu terpecik rasa penasaran juga. Kemarin ia melihat bawa Arshaka akan melangsungkan acara tunangannya hari ini, bukan pernikahan ya? Dalam hati Ayu bingung.
Lagi-lagi dengan otak udangnya yang ingin mencari penyakit hati dengan sengaja ia membuka ponsel dan mencari akun Arshaka kembali. Seberapapun Ayu menahannya, ia tetap tidak bisa mengalahkan rasa keingintahuannya.
Benar saja, Arshaka memposting sebuah foto disana. Acara pertunangan yang berjalan lancar, mereka tampak serasi di foto dengan senyuman kebahagiaannya, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Ayu.
Tanpa sadar Ayu memencet tombol hati. Tidak! Tidak! Ayu tidak sengaja memencet tombol tersebut, ia panik dan langsung memencetnya berulang kali agar gambar hati itu menghilang.
"Astaga! Apa yang aku lakuin sih!" Gerutu Ayu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan kembali berjalan pulang berharap Arshaka tidak menyadarinya. Ia sangat takut jika Arshaka menganggapnya aneh atau lebih baik berharap Arshaka lupa terhadapnya.
...\~oOo\~...
Kembali pada Arshaka di dalam mobilnya, ia duduk bersama Salina di bangku belakang. Kini mereka akan menuju ke sebuah restoran mewah, Salina masih menempel pada Arshaka tanpa jeda.
"Bisa minta HP-ku?" Pinta Arshaka karena sedari tadi Salina yang memegang ponselnya, alibinya Salina tidak ingin Arshaka memperhatikan layar ponsel terus-terusan, jadi ia menyitanya.
Salina menghela napas panjang, tapi karena mereka hanya berdua di mobil di tambah pak sopir saja, jadi Salina menyetujuinya, ia memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.
Arshaka hanya tidak mau memberikan perhatiannya kepada Salina dan dia juga sudah bosan melihat diluar jendela, lagipula ia harus tetap terjaga jika tidak ingin hal-hal aneh terjadi saat masih ada Salina disisinya. Arshaka membuka akun sosial medianya, ada hal yang membuatnya tertarik disana.
Tiba-tiba nama Ayu muncul menyukai salah satu postingannya, ia bingung memangnya apa yang ia posting. Rupanya sebuah foto yang tidak diinginkan Arshaka berada disana.
Ayu. Kamu menemukanku, ucap Arshaka dalam hati. Seketika itu Arshaka tersenyum namun juga kalut karena takut Ayu mengira Arshaka sungguh bertunangan dengan Salina. Memang, secara hukum mereka memang bertunangan namun tidak dengan hati Arshaka, ia memiliki alasan yang kuat kenapa melakukan ini semua.
Ia harus menjelaskan kepada Ayu.
__ADS_1