
"Tristan tunggu...!!" seruan Karina tidak Tristan hiraukan dan memilih pergi meninggalkan kedai kopi tersebut. Suara ketukan heels yang menggema tidak menyurutkan langkah Tristan untuk segera sampai ke parkiran mobil.
Saat Tristan hendak meraih handle pintu, tiba-tiba sebuah tangan berhasil menghentikan pergerakan Tristan. Dengan nafas yang terengah-engah Karina akhirnya berhasil menyusul Tristan.
"Tunggu Tris..!!" masih mengatur nafasnya Karina mencoba untuk membujuk Tristan agar mau menghentikan langkahnya.
"Mau apa lagi Rin?" Tristan menatap tajam kearah Karina karena terus saja mengganggu dirinya.
"Jangan di ambil hati omonganku barusan, aku minta maaf Tris."
"Hmmm..." Tristan berbalik badan hendak membuka pintu mobil, namun Karina menghentikannya.
"Aku ikut ya!!" pintanya penuh harap.
"Mobil kamu kemana?"
"Tadi aku bareng sama temen saat datang kemari."
Tidak ingin berlama-lama berada di area parkir akhirnya Tristan menyanggupinya "masuklah!"
Mobil melaju membelah pekat malam menyusuri jalanan ibu kota. Karina yang berada di sebelah Tristan tak henti memamerkan senyumnya karena bisa berada di mobil yang sama dengan sang mantan yang masih merajai hatinya. Tristan yang fokus dengan kemudinya tidak terlalu menanggapi Karina yang terus saja mengoceh sepanjang jalan. Dia hanya ingin cepat-cepat sampai dan mengantarkan Karina hingga kerumahnya.
Sementara di tempat berbeda Azura termenung menatap sebuah kalung pemberian dari Tristan. Dengan sekuat tenaga dia mencoba mengingat semua kejadian di masa sekarang, namun nihil satu pun memori otaknya tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan.
"Sedekat apa sebenarnya aku sama Tristan? Kenapa mamah dan papah begitu menyukai dia?"
"Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatnya, yang aku ingat hanya kak Denis. Apa aku salah selama ini? Ya tuhan...tolong kembalikan ingatanku, aku tidak ingin menjalani ini semua di saat aku masih hilang ingatan."
"Tapi kenapa saat bertemu kak Denis ada rasa yang berbeda di hatiku, aku merasa kita jadi jauh sekarang, apa aku sudah tidak sedekat itu dengan dia?"
Azura sibuk bermonolog dengan pikiran yang terus bertanya-tanya. Dia hanya menatap langit-langit kamar sambil menggenggam kalung pemberian dari Tristan.
"Tristan aku sebenarnya bahagia kamu kembali, tapi maaf aku terlanjur kecewa sama kamu." ucapnya lirih. Perlahan matanya terpejam berkelana menuju alam mimpi yang akan membawa jiwanya terbang jauh.
๐๐๐
__ADS_1
Arga menepikan mobilnya di perusahaan PT Widjaya grup tempat Sisil bekerja. Setiap hari Sisil harus bekerja lembur karena Azura belum bisa bergabung kembali di perusahaan. Melihat sang kekasih hati sudah datang menjemput, Sisil yang saat itu sudah menunggu di lobi kantor langsung beranjak dan menyambut uluran tangan Arga. Keduanya jalan beriringan menuju parkiran dimana mobil Arga di titipkan disana.
"Mau langsung pulang atau cari makan dulu?" tanya Arga saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku terserah kamu Ga,"
"Besok kan hari weekend, bagaimana jika malam ini aku masak spesial buat kamu." tawar Arga.
"Nanti malah ngerepotin Ga, kita makan di tempat biasa saja ya."
"Gak repot sama sekali kok Sil, mau ya kita mampir ke apartemen ku."
Sisil hanya mengangguk tidak bisa menolak ajakan Arga yang tidak bisa di bantah.
Setelah berkendara selama setengah jam, sampailah mereka berdua di kediaman Arga. Waktu baru menunjukan angka 8 malam saat mereka tiba di sana. Tidak menunggu waktu lama Arga langsung bertempur seorang diri di dapur, dia yang terbiasa hidup mandiri sudah tidak kaget lagi melakukan apa-apa sendiri termasuk urusan memasak.
"Aku bantuin ya Ga!!" Sisil datang menawarkan bantuan, tidak tega melihat Arga yang berkutat seorang diri.
"Gak usah Sil, kamu duduk manis saja tunggu hasil masakanku matang."
"Tapi aku gak enak Ga, masa cuma lihatin aja."
Sisil pun menuruti perkataan Arga, setelah selesai membereskan meja makan Sisil tersenyum menatap Arga dari jauh. Dia merasa beruntung memiliki Arga disisinya, sangat berbeda dengan mantan suaminya terdahulu.
"Taraaaa...masakannya sudah jadi!!" setengah jam kemudian Arga datang membawa hasil masakannya ke hadapan Sisil. Mata Sisil langsung berbinar melihat aneka hidangan yang menggugah selera. Ada ayam goreng tepung, cah kangkung, sambal terasi dan aneka lalapan. Sederhana memang tapi jika yang memasak kekasih tercinta pasti di rasa akan sangat spesial.
"Wajib di coba sepertinya enak," Sisil yang baru pertama kali mencicipi masakan Arga langsung bersemangat mengambil beberapa sendok nasi.
Mata Sisil berbinar sempurna begitu suapan pertama masuk kedalam mulut "enak Ga, kamu ada bakat jadi seorang chef."
"Baiklah jika seperti itu aku akan buka usaha di bidang kuliner," kekeh Arga. Dia merasa tersanjung karena mendapat pujian dari kekasih tercinta.
"Iya tapi nanti jika kamu di pecat sama pak Tristan."
Sontak keduanya langsung tertawa karena candaan dari Sisil.
__ADS_1
Setelah selesai dengan santap malam mereka, Arga mengajak Sisil untuk duduk di depan ruang televisi.
"Pulang sekarang apa nanti?" tanya Arga
"Besok juga gak papa." jawab Sisil sambil terkekeh.
"Serius mau nginep di apartemenku?"
"Kasihan juga kamu yang harus bolak balik nganterin aku,"
"Ya gak papa, nanti setelah aku anterin kamu pulang... aku gak usah pulang lagi nginep di tempat kamu aja."
"Yah sama aja bohong."
Arga tertawa lebar mendengar gerutuan Sisil.
"Berhubung besok kita libur kamu di sini aja dulu, udah lama juga kita gak berduaan seperti ini karena kamu sibuk terus di kantor." tawar Arga.
"Kalau kita berduaan disini nanti ada syetan yang jadi pihak ketiga, gimana donk aku takut Ga?" kata Sisil dengan ekspresi yang di buat-buat.
Arga yang gemas dengan tingkah Sisil langsung menggelitiki pinggang Sisil hingga tertawa terpingkal-pingkal. Keduanya larut dalam kebersamaan sebagai pasangan kekasih, tiba-tiba netra Arga terpaku pada bibir ranum milik Sisil yang sudah lama tidak dia sesap. Dengan mencondongkan sedikit wajahnya Arga langsung memangkas jarak di antara mereka.
Cup!
Sisil memejamkan matanya saat bibir lembut itu menyapu area bibirnya, suara decapan kini terdengar syahdu saat Arga mulai memperdalam ciumannya. Tak ada penolakan dari Sisil dia mulai membalas setiap perlakuan Arga, bahkan kini tangan Sisil sudah menaut di leher Arga. Ciuman itu semakin panas saat Arga menggiring tubuh Sisil menuju kamarnya tanpa melepas tautannya. Perlahan Arga merebahkan tubuh Sisil dan melepas ciumannya karena mereka hampir kehabisan nafas.
Arga menatap Sisil dengan kabut gairah yang tinggi, kedua tangannya menyusuri setiap jengkal wajah Sisil meminta ijin untuk berbuat lebih.
Sisil menggeleng tanpa melepas pandangannya "jangan Ga..."
Tidak menunggu Sisil selesai bicara, Arga kembali menyapu area bibir Sisil dengan posisi Arga yang mengungkung tubuhnya.
bersambung...
๐๐๐
__ADS_1
Hayoo apa yang akan terjadi selanjutnya??๐ selingan ya kisah Arga dan Sisil
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...