Wedding Disaster

Wedding Disaster
Janji Temu


__ADS_3

MINGGU ini Ayu sudah membuat janji temu dengan Arshaka, sebenarnya ia enggan menemui pria itu lagi namun Arshaka terus mendesaknya, mengirim banyak pesan singkat untuk meminta Ayu meluangkan sedikit saja waktunya karena Arshaka harus menjelaskan sesuatu.


Ayu mengambil kardigan warna biru gelapnya, menyisir rapi rambut dan menyemprotkan parfum beberapa kali.


Ia tersenyum puas dan bersiap untuk pergi.


Pukul 19:00 Ayu sudah sampai di taman tempat mereka janjian untuk bertemu. Sesekali ia memeriksa jam tangannya memastikan jika jarum jam tetap berjalan, namun Arshaka belum juga menunjukkan kehadirannya.


Tentu saja Ayu sudah mengirimnya pesan, mengatakan bahwa ia sudah berada di lokasi ketemuan, namun tak ada kabar apapun darinya.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 21:00, Ayu sudah terlalu lelah untuk menunggu disana. Ia berniat untuk pergi, tidak ada ekspetasi apapun, bahkan dari awal ia sudah pasrah.


"Ayu..." panggil seseorang seketika dengan napas tersengkal, ia menunduk untuk mengatur napasnya. Lalu tersenyum diantara keringatnya yang bercucuran.


"Kamu kenapa?" Tanya Ayu khawatir, ia menghampiri Arshaka.


Arshaka berusaha berdiri, ia tampak sangat kelelahan, "Maaf menunggu lama..."


"Kamu lari kesini?" Tanya Ayu lagi semakin khawatir, ia buru-buru mengeluarkan beberapa lembar tissu dari dalam tasnya dan membantu Arshaka untuk mengelap keringatnya.


Arshaka kemudian menggenggam tangan Ayu dengan lembut, "makasih sudah mau menunggu..."


"Kenapa kamu lari kesini? Padahal kalau lagi sibuk kamu bisa kabarin dulu."


Arshaka menggeleng, "aku nggak sibuk, mobilku tiba-tiba macet jadi aku harus cari bengkel dulu dan lari buat kesini lalu HP-ku masih di dalam mobil. Aku lupa meninggalkannya." Memang benar bagian mobil Arshaka macet dan ia lari untuk menemui Ayu. Namun tidak benar jika dia bilang dirinya tidak sibuk.


Ini adalah waktu tersibuknya sejauh ini, namun Arshaka berusaha menyempatkan waktunya yang hanya sedikit dan sempit itu untuk bisa bertemu dengan Ayu sebentar saja.


"Maaf kamu jadi nunggu sampai malam gini..." ucap Arshaka merasa iba dan sedikit bersalah.


"Iya, bukan masalah, aku justru khawatir jika ada apa-apa denganmu. Aku juga mau pulang tadi."


"Kamu sudah mau pulang?"


Ayu mengangguk.


"Boleh aku ikut denganmu?" Tanya Arshaka berharap.


"Sekarang?"


"Iya?" Arshaka kemudian tertawa kecil, "aku habis lari berapa kilo meter ya, jadi laper..." lanjutnya lagi memberi kode agar Ayu membolehkannya untuk mampir.

__ADS_1


Ayu ikut tertawa, "mau makan bareng?"


...\~oOo\~...


Arshaka duduk di kursi kecil, mereka kini sedang berada di loteng kost Ayu, di depan mereka berdua kini ada mie seduh dan beberapa camilan lainnya.


Angin semilir menerpa wajah keduanya, namun tetap merasa hangat karna duduk mereka berdekatan.


"Kamu sering kesini?" Tanya Arshaka menyeduh mie-nya.


"Kemana? Ke atap sini?"


Arshaka mengangguk kini meniup camilannya yang masih panas.


"Iya, terkadang kalau sedang ingin sendiri aku kesini..." jawab Ayu apa adanya, saat itu Arshaka tiba-tiba menyodorkan camilan yang baru saja ia tiup. "Aaaa..." katanya.


Ayu tertawa namun juga menurut, ia membuka lebar mulutnya untuk menerima camilan dari Arshaka kemudian memakannya dengan lahap.


"Enak?"


Ayu mengangguk masih dengan mulut yang penuh.


"Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan tentang kemarin..." lanjut Arshaka kemudian memberanikan diri.


"Aku dan Salina pernah hampir menikah, namun batal karena alasan yang belum kuketahui. Itu adalah hari dimana kamu menemukanku." Arshaka menatap mata Ayu, "lalu saat kembali kesini, orang tuaku meminta kami melangsungkan pernikahan lagi dan aku menolaknya."


"Kenapa?"


"Karna aku tidak merasakan apapun saat bersamanya, tapi orang tua kami terus mendesak, entah dari pihak keluargaku maupun keluarganya. Jadi, aku membuat kesepakatan..."


"Kesepakatan?"


Arshaka mengangguk, "kami bertunangan dulu sampai nanti ingatanku kembali, aku yang akan memutuskan. Apa dulu itu kesalahanku atau bukan..."


Ayu menjelajahkan matanya ke arah luar, melihat lampu-lampu rumah yang menyorot tampak lebih kecil jika dilihat dari atas sini.


"Tapi Ayu..." kata Arshaka lagi.


"Ya?"


"Di hari-hari itu, saat aku harus membuat keputusan yang sulit, aku selalu memikirkanmu. Percayalah, jika aku menyadari ini sedari awal, aku akan memilihmu..."

__ADS_1


Ayu terdiam dan kini tangan Arshaka menggenggam erat telapak tangannya yang lembut. Sesekali Arshaka mengelus bagian punggung tangan Ayu.


"Aku mencintaimu, Ayu..." ucapnya.


Jantung Ayu kini berdegup memburu, perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu, tubuhnya masih berusaha memproses apakah ini kenyataan? yang ada dihadapannya ini seperti sebuah harapannya saja yang tidak mungkin nyata.


"Ayu?" Panggil Arshaka lagi, kini ia ikut khawatir apakah Ayu akan menganggapnya aneh, atau Ayu akan menganggapnya fuckboy, apakah Ayu akan menolaknya? Semua pikiran itu menjadi satu di dalam kepalanya.


"Arshaka?" Panggil Ayu, "aku... juga sangat mencintaimu."


Pria itu tersenyum senang, kemudian membelai rambut Ayu dan mendekat ke arahnya. Angin malam ini bertiup semilir hingga ke tulang-tulang mereka, namun mereka tak merasakan dingin sedikitpun.


Arshaka mendekat pada tubuh Ayu hingga kening mereka saling bersentuhan, sedikit senyum diantaranya lalu Arshaka mengecup bibir Ayu dengan lembut. Lagi, Arshaka masih ingin menciumi gadis itu.


Ini adalah ciuman pertama Ayu, namun dengan cepat ia belajar dari Arshaka. Ia mengikuti cara Arshaka saat memainkan lidahnya, semua terasa sangat intim.


Ayu menggenggam erat tangan Arshaka, enggan untuk melepaskannya dan Arshaka kini mendekap tubuh Ayu semakin dekat ke dalam pelukannya.


"Aku sungguh mencintaimu, Ayu..." ucap Arshaka kembali sebelum menciumi gadis itu sekali lagi.


...\~oOo\~...


"Aku tidak boleh menginap disini?" Rengek Arshaka masih memeluk tubuh Ayu dari belakang.


Ayu menggeleng lalu tertawa lagi.


"Please?" Arshaka masih berusaha membujuk Ayu dengan manja. namun Ayu malah terus mendorongnya keluar pagar. "Kalau gitu kasih aku ciuman lagi..." pinta Arshaka sebagai ganti.


"Dasar! Udah sana pulang!" Usir Ayu bercanda, namun ia tetap mendekat dan mencium pipi Arshaka dengan cepat karena malu. Pria itu masih tersipu dan sangat senang dengan ciuman singkat yang Ayu berikan barusan. "Udah jam 1 pagi, kamu naik taksi aja jangan lari lagi..." canda Ayu lagi kemudian melangkah mundur untuk menjauh.


"Aku pergi dulu ya... Besok hubungi aku lagi!" Pesan Arshaka sebelum benar-benar pergi. Ayu melihatnya berjalan hingga mendapatkan taksi.


Arshaka sangat senang hari ini, hal yang tidak ia duga bisa terjadi kepada mereka namun juga yang ia harapkan bisa terjadi. Saat sudah duduk di kursi penumpang, Arshaka dengan cepat mengirimkan pesan kepada Ayu, "Cepat tidur, Sayang..." padahal mereka bisa ketemu lagi besok, tapi Arshaka sudah kangen dengan Ayu.


Lalu di ponselnya, Arshaka melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.


Pesan itu menulis bahwa ini adalah nomor Anthony, pria yang mengancamnya kemarin, batin Arshaka.


Lalu pesan lain muncul dari Anthony, ia mengirimkan sebuah foto Arshaka masuk ke tempat tinggal Ayu, saat bersamanya tadi. Lalu foto satu lagi saat Arshaka memegang tangan Ayu di taman. Sial! Pekik Arshaka dalam hati.


Arshaka tiba-tiba mengingat sesuatu bahwa Anthony adalah teman lamanya dan seharusnya Arshaka sadar dari awal bahwa Anthony adalah lelaki brengsek yang selalu ingin menghancurkan reputasi Arshaka.

__ADS_1


Sejak kejadian di kantor kemarin, Anthony pasti sudah membuntutinya.


__ADS_2