
Memandang rumah besar yang sudah beberapa kali dia datangi, Azura lalu turun dari mobil yang di kendarai supir keluarganya. Sisa-sisa air hujan masih terasa saat kaki mulai menapaki jalanan beraspal yang masih basah. Beruntung cuaca sudah sedikit cerah, sang surya pun nampak malu-malu bersembunyi di balik awan putih.
Menyadari kedatangan Azura, pak Rahmat buru-buru membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Dia tersenyum memberi salam pada gadis yang di ketahui akan menjadi calon istri tuan mudanya.
"Selamat siang non!"
"Selamat siang juga pak, Tristan ada di rumah kan?"
"Ada non, tapi..." ucapan pak Rahmat yang menggantung membuat Azura penasaran.
"Tapi kenapa pak?"
"Itu...anu...di dalam ada temannya tuan Tristan non,"
"Teman? Laki-laki pak?"
Pak Rahmat menggaruk kepalanya, nampak sungkan untuk memberitahu Azura. Karena tidak kunjung mendapat jawaban Azura buru-buru melangkah meninggalkan pak Rahmat yang belum selesai bercerita.
Pintu rumah yang terbuka membuat Azura mempercepat langkahnya. Dia penasaran siapa teman yang di maksud pak Rahmat yang kini tengah menemui Tristan. Dan betapa terkejutnya Azura saat melihat Tristan berada di atas tubuh seorang wanita yang terbaring di sofa.
"Tristaann...." pekik Azura yang sudah berdiri di ambang pintu.
Mendengar suara seseorang yang di kenalnya Tristan buru-buru beranjak dari atas tubuh Karina. Dia tidak menyangka Azura bisa datang di waktu yang kurang tepat. Sementara itu tanpa merasa bersalah Karina beranjak bangun merapihkan baju dan juga rambutnya.
"Sayang, jangan salah paham dulu! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Tristan buru-buru menghampiri Azura dan memberinya penjelasan.
Azura tidak memperdulikan ucapan Tristan, dia melewati Tristan dan menaruh paperbag berisi makanan yang dia masak di atas meja.
Matanya menatap tajam kearah Karina yang duduk tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tangannya mengepal erat saat dia mengingat kejadian beberapa menit lalu yang tersaji di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di rumah calon suamiku?" tanya Azura dengan suara lantang. Dia menggeram kesal melihat Karina yang duduk santai bahkan kini dia membuka tasnya, mengambil peralatan make up, dan memoles wajahnya dengan bedak.
"Ckck..dasar gak tahu malu." umpat Azura kesal karena Karina tidak memperdulikannya.
Karina beranjak dari duduknya, berdiri berhadapan dengan Azura. Dia balas menatap Azura dengan tajam dan tersenyum sinis.
"Apa aku harus melapor sama kamu apa yang aku lakukan disini? Nggak kan?" balasnya dengan setengah mengejek.
Azura menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Karina. Dia tidak menyangka Karina yang dia temui pertama kali sangat berbeda dengan yang sekarang.
Tristan buru-buru menenangkan Azura sebelum keributan terjadi di antara dua wanita tersebut.
__ADS_1
"Sayang udah ya, nanti aku jelasin apa yang terjadi sebenarnya. Karin sebaiknya kamu pergi sekarang! aku gak mau Azura salah paham karena kehadiran kamu di sini!" Tristan merangkul bahu Azura namun Azura langsung menepis tangan Tristan dan menjauhinya.
"Ya udah Tris aku balik ya, jangan lupa undangan dariku kamu wajib datang!" ucap Karina sambil mengedipkan sebelah matanya, dan itu di lihat oleh Azura yang membuat darahnya mendidih.
"Oh jadi kamu yang berusaha menggoda Tristan? Dasar cewek gak tahu malu!" Azura langsung menjambak rambut Karina menariknya dengan sekuat tenaga. Karina langsung menjerit dan membalas perlakuan Azura. Jadilah kini dua wanita itu saling menjambak dan tidak ada yang mau mengalah.
Tristan yang di hadapkan situasi seperti ini bingung harus memisahkan keduanya. Keributan yang terjadi mengundang dua asisten rumah tangga yang tengah berada di belakang menghampiri mereka bertiga.
"Walaaahh den, ono opo iki? Kok bisa ribut-ribut begini tho?" mbok Inah ART paling senior bertanya dengan wajah paniknya.
"Iya tuan muda ada apa ini?" bi Marni asisten rumah tangga yang satunya pun tak kalah heboh dari mbok Inah.
"Mbok, bibi, bantuin aku buat pisahin mereka berdua."
"Mbok gak berani den, takut kena cakar."
"Bibi juga tuan."
"Hadeuuhh...cepat kalian panggil pak Rahmat atau mang Nana buat bantuin aku."
Tergopoh-gopoh kedua ART itu berlari kedepan mencari tukang kebun dan satpam yang berada di rumah besar ini. Untunglah keributan ini langsung berakhir saat ketiga pria itu memisahkan Azura dan Karina.
Keduanya kini terengah-engah dengan nafas yang memburu. Penampilannya bahkan sangat berantakan dengan rambut acak-acakan. Bi Marni datang memberikan dua gelas air putih yang langsung di minum habis oleh keduanya(mereka kelelahan abis duel๐).
"Tapi dia yang mulai duluan Tris, dia jambak rambut aku."
"Heh! Aku gak akan seperti ini jika kamu tidak menggoda Tristan, dasar cewek gak tahu malu!"
"Jangan mentang-mentang kamu sudah bertunangan sama Tristan, terus aku gak boleh gitu bertemu dengannya. Belum jadi istrinya aja udah kayak gini apalagi jika nanti menikah...ckck dasar cewek bar-bar."
"Dasar cewek kegatelan!" balas Azura sengit.
"STOP!!! Apa kalian tidak cape ribut terus seperti ini?" Tristan langsung menengahi perang mulut di antara keduanya. Azura dan Karina langsung terdiam melihat sorot mata Tristan yang begitu mengintimidasi.
"Pak Rahmat tolong anterin Karina keluar!"
Pak Rahmat langsung maju menghampiri Karina yang masih betah duduk "mari silahkan non!"
"Tidak perlu saya bisa keluar sendiri!" Karina lalu beranjak dan keluar dari rumah Tristan dengan penampilan yang berantakan. Semua pegawai Tristan langsung membubarkan diri memberi kesempatan pada Tristan dan Azura untuk berbicara.
๐๐๐
__ADS_1
Sementara Azura masih bersidekap dengan rambut acak-acakan, Tristan membelai rambut Azura membantu untuk merapihkannya.
"Gak usah pegang-pegang!" ketus Azura.
"Sayang aku bisa jelasin apa yang kamu lihat tadi, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Karina tadi pingsan dan aku hanya menolongnya, lalu pas kamu datang dia menarik tanganku dan membuat aku terjatuh di atas tubuh dia."
"Pasti kamu keenakan ya menindih tubuh dia?"
"Gak sayang, aku bukan orang seperti itu."
"Halah semua cowok sama aja!" cibir Azura sambil menyisir rambutnya, dia lalu mengikat rambutnya asal membentuk ekor kuda.
Pandangan Tristan lalu tertuju pada paperbag yang Azura simpan di atas meja "sayang kamu bawa apa? boleh aku lihat?" Tristan hampir membuka paperbag tersebut namun dengan cepat Azura merebutnya.
"Gak boleh! ini buat mang Nana!" tukas Azura cepat. Setelah di rasa penampilannya rapih Azura beranjak dari duduknya lalu melenggang pergi.
"Sayang kamu mau kemana?" teriak Tristan.
"Pulang lah, buat apa di sini aku udah malas ketemu kamu!"
"Aku anterin ya?" Tristan masih mengejar langkah Azura, berharap Azura menerima tawarannya.
"Gak perlu! mang....mang Nana!" Azura berteriak memanggil mang Nana yang tengah memotong rumput.
Tergopoh-gopoh mang Nana lalu menghampiri Azura "ada apa non teh manggil mamang?" tanya mang Nana dengan logat sundanya.
Azura menyerahkan paperbag yang berada di tangannya "ini buat mamang, buat makan siang ya! jangan lupa di habiskan aku masak spesial khusus buat mamang!" ucapnya lantang sambil memandang kesal pada Tristan.
Pria paruh baya yang berprofesi sebagai tukang kebun itu hanya melongo menatap sebuah paperbag yang berada di tangannya, sementara sang majikan berdecak kesal memandang kepergian Azura yang menghilang di balik gerbang yang menjulang tinggi. Azura memilih pulang dengan taxi daripada di antar oleh Tristan.
"Balikin paperbag itu!" tangan Tristan menjulur meminta kembali paperbag di tangan mang Nana.
"Loh den.. kata non Azura pan buat mamang ini makanan teh,"
"Mang Nana milih paperbag itu balikin ke saya atau kalau nggak saya pecat?" ancam Tristan.
Karena takut di pecat mang Nana buru-buru menyerahkan paperbagnya, dan Tristan masuk kembali kedalam dengan senyum di wajahnya sambil memandang paperbag dari Azura.
"Aya-aya wae anak muda jaman sekarang mah," mang Nana hanya geleng-geleng kepala melihat cucu dari majikannya.
bersambung ..
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...